Author POV
Pagi itu Dain terbangun karena Letta, dan karena satu bunyi mangkuk: ponsel bergetar, bukan lagu, bukan Freya, melainkan nomor maskapai yang sudah ia hafal dari briefing.
Kaos kusut. Ember kosong. Plafon retak. Gorden turun. Portal mati. Roster masih. Letta menatap mangkuk seperti hakim menatap telur. "Om, mangkuk bunyi. Bukan tante. Bunda angka. Om jangan ngegas. Titik."
Dain duduk, kesemutan, tidak angkat dulu. Lita sudah di sofa, kacamata, pipi kuning. "Angkat. Speaker. Pendek. Pengacara kalau perlu. Jangan pidato. Jangan perut. Jangan rumah panjang."
Dain angkat, speaker, suara HRD pelan: evaluasi tiga sector terbatas, laporan kapten biasa, tidak ada insiden, medis ulang minggu depan, roster berikutnya belum, jangan komentar media, jangan portal, datang tepat waktu, jangan ngegas. Dain titik. Lita titik dari sofa. HRD tutup. Ponsel kembali ke mangkuk.
"Bukan piala. Bukan vonis. Medis ulang. Roster belum. Kita tidak beli selesai. Kamu tidak ke klinik hari ini. Tepat waktu nanti, bukan sekarang. Telur. Kaos. Titik." Lita mendorong kacamata. Letta menempel kertas baru: om dokter pesawat lagi. bukan perut. jangan campur. titik. Magnet longgar, Dain tekan.
Dain ke dapur, api kecil, tidak ngegas. Letta hakim, luluskan. "Tidak asin. Om tinggal. Bunda enam suap. Titik. Kalau om pesta telepon, hakim cabut permen." Lita makan enam, damai, buah, damai. Dain berdiri makan. Mereka tidak TV. Dain hampir portal, Lita tepuk tangan. "Diam. Telepon maskapai bukan izin judul. Bukan izin cafe. Bukan izin hon."
Siang, Lita telpon Nana, tidak turun, tidak lima menit. Dain bantu PR, salah bagi, dibetulkan, pelan. Letta ulang titik. Dain di kamar saat layar, keluar setelah mati, cuci piring. Orl chat: HRD wajar, Freya belum judul, kuasa diam, jangan pesta telepon. Jesika: ibu jaga Lita hari medis, bukan hari ini, Dain tidur, jangan jaga merah. Gavin: pelan. Dain titik.
Siang panjang, panas di balik gorden. Dain tidak portal, tidak grup, tidak lagu. Lita angka, koreksi dua, puas. Letta bagi, Dain salah desimal, dibetulkan, Lita menyela: "Jangan ajar ngegas di soal. Jangan ajar ngegas di telepon." Dain pelan. Letta luluskan om. Nana aman. Jon sepi. Orl minta izin tidak mampir, cukup chat: HRD wajar, Freya belum judul, kuasa diam, jangan pesta. Dain setuju, kunci di mangkuk.
Sore, koridor tiga, bukan lima, Lita di kusen, tetangga menunduk, satu hampir tanya, Dain menunduk. Masuk, rantai, gorden. Dain menyapu remah, Lita mengkritik sudut, Letta meniru sapu. Kerja kecil, bukan judul. Freya tidak chat. Diam licin berkemeja. Mereka tidak gigit. Jesika tidak datang, cukup. Gavin tidak datang, cukup. Cukup itu tema. Bukan selesai. Bukan piala telepon. Cukup. Mereka makan. Telur lulus. Lita enam suap. Dain berdiri. Tidak TV. Letta tanya, serius. "Om dokter pesawat, bukan perut. Jangan campur. Om dekat. Bunda titik. Hakim jaga." Dain berjongkok. "Dekat. Jangan campur. Titik."
Malam Lita di ambang, lebih kuat, lebih capek, memegang kusen seperti orang yang tidak mau jatuh ke judul.
"Dain. Maskapai telepon. Medis ulang. Roster belum. Itu bukan selesai. Itu bukan piala. Kamu masih sofa. Jangan ke gerbang. Jangan ke kampus. Jangan ke cafe. Jangan belok ke klinik lebih awal. Tepat waktu nanti. Jujur tidur. Ember menganggur. Kaos. Tidak cincin. Tidak selesai. Tidak nama. Tidak adik. Tidak beli diam. Tidak beli prihatin. Kalau dia sebar, Mom. Bukan kamu ngegas. Kalau mulut sekolah, titik. Magnet tekan. Titik. Senang kecil: telepon biasa, bukan insiden. Jangan rusak dengan pesta. Kalau kamu lapar apron, setrika kemeja minggu depan, jangan gosong. Kalau kamu lapar hero, cuci ember yang tidak terpakai. Menganggur bagus. Medis bilang tidur. Jujur itu termasuk tidur."
Dain hampir setrika malam itu, Lita tepuk tangan. "Tidak. Besok juga belum. Lipat. Tidur." Dain lipat kemeja, taruh, tidak gosong karena tidak disetrika. Letta puas. "Om lulus tidak ngegas." Rumah hangar. Cukup. Jesika chat terakhir: ibu datang hari medis, bukan subuh ini. Gavin: pelan. Orl: jangan buka grup mama. Dain titik, kunci ke mangkuk, tidak buka. Mereka tidak koridor malam. Cukup rumah. Bukan selesai. Bukan piala. Cukup. Dain cuci ember yang tidak terpakai, keringkan, taruh, saksi konyol di lantai. Letta titip barbie sebentar, ambil, aturan malam. Portal mati. Rantai di dalam. Gorden turun. Magnet ditekan. Jam jelek tetap menempel.
"Tidak pesta. Tidak ngegas. Sofa. Medis nanti. Roster belum. Titik." Dain menatap plafon. Letta titip barbie sebentar. "Hakim larang pesta telepon. Om dokter pesawat, bukan perut. Jangan campur. Om kaos. Jam masih." Dain memejam, tiga terbatas sudah, balasan prihatin, telepon HRD, medis belum, roster belum, perut jadi tanya, belum nama, kertas kulkas lebih jujur, muka ember, bukan cafe, bukan hon, bukan balik.
Dia hampir tidur, lalu bangun sebentar, cek ember, cek rantai, cek gorden, cek Lita yang sudah tutup pintu, tidak kunci. Ponsel di mangkuk. Somasi jalan. Bantahan jalan. Telepon biasa sudah. Rumah tidak pecah. Jam jelek tetap. Magnet longgar, Dain tekan. Tidak beli selesai. Beli tekan magnet. Beli tidur. Beli tidak kabur. Beli tidak buka grup. Beli medis yang belum, bukan piala yang sudah. Beli Mom nanti, bukan hero malam ini. Beli titik di mulut Letta, bukan tumbuh di grup. Kaki menggantung. Ember di lantai. Portal mati. Rumah tidak pecah. Itu yang mereka beli malam itu, sebelum medis ulang, sebelum roster yang belum, sebelum judul yang belum, sebelum nama yang belum, sebelum Freya yang prihatin palsu dan tidak mereka beli. Letta di kamar berbisik ke barbie, Dain dengar samar, tidak masuk. "Telepon biasa. Om tidak pesta. Bunda titik. Jam masih. Hakim jaga. Dokter pesawat, bukan perut. Jangan campur." Dain tersenyum kecil di gelap, tidak pesta, tidak lagu, cek rantai sekali lagi, gerakan bodoh, tekan magnet sekali, lalu memaksa dirinya tidur sebelum kepala jadi toko.