Author POV
Pagi setelah balasan prihatin, rumah tidak pecah, hanya lebih pelan, hanya lebih panas di balik gorden.
Dain bangun karena Letta mengetuk jam, bukan karena kuasa, bukan karena Freya. Kaos kusut. Ember kosong. Plafon retak. Gorden turun. Portal mati. Ponsel di mangkuk. Roster masih. Pagi itu rumah berbunyi hakim yang memeriksa kata prihatin seperti memeriksa telur.
"Om, jam masih. Om tidak cabut. Lulus. Bunda angka. Om masak. Hari ini rumah. Kaos. Hakim lapar. Jangan kerah. Jangan lagu. Jangan buka mangkuk. Titik. Prihatin palsu. Hakim larang beli."
Dain duduk, kesemutan, cek mangkuk dengan takut kebiasaan. Tidak ada Freya. Tidak ada judul hamil. Ada Nana: dua lama, satu tetangga toko tanya Lita kapan turun, Nana potong, tidak janji. Ada Jon: sepi. Ada Orl: grup mama sepi, Freya lagu, kuasa diam setelah bantahan, jangan buka. Ada pengacara: jangan komentar. Dia tidak buka story. Lita sudah di sofa, kacamata, pipi kuning, tidak pucat.
"Tidak mual. Jangan IGD muka. Air sudah. Telur, garam sedikit, jangan ngegas. Jangan buka mangkuk lama-lama. Tanya perut masih di sekolah, Nana sudah potong di toko. Kita sapu. Kita tidak lahirkan nama. Kita tidak beli prihatin. Nama nanti. Sekarang titik. Kamu masih sofa."
Dain ke dapur, api kecil, tidak ngegas. Letta hakim, kaki menggantung, mencicipi, luluskan. "Tidak asin. Tidak gosong. Om tinggal. Bunda enam suap. Titik. Kalau om buka portal, hakim ambil piring. Kalau om beli prihatin, telur gagal."
"Tidak beli prihatin. Tidak ngegas. Titik." Lita makan enam suap, damai, lalu buah, damai. Dain berdiri makan. Mereka tidak TV. Dain hampir portal, Lita tepuk tangan. "Diam. Beli diam rumah. Prihatin bukan izin hon."
Siang, Lita telpon Nana lebih lama, tidak turun, tidak lima menit, blok satu kasar, titip pesan ke Len: kalau ada yang tanya perut, titik, bukan cerita. Dain bantu PR, salah bagi, dibetulkan, pelan. Letta ulang titik. Dain di kamar saat layar wali, keluar setelah mati, cuci piring. Wali tidak tanya perut hari ini. Lita menutup laptop, kacamata didorong. "Lulus. Tidak perut. Bagus. Jangan senang sampai jadi pesta. Senang kecil: titik yang diulang."
Siang panjang, panas di balik gorden. Dain tidak portal, tidak grup, tidak lagu. Lita angka, koreksi satu, puas. Letta minta arti prihatin, Dain berjongkok, sejajar. "Kadang orang bilang prihatin, maksudnya mau mengatur. Di rumah kita, prihatin palsu tidak dibeli. Titik." Letta mengangguk, menempel kertas: prihatin palsu. tidak beli. Magnet longgar, Dain tekan. Nana chat: tetangga toko mundur, tidak maksa. Lita catat garis lurus. Dain cuci ember yang tidak terpakai, keringkan, taruh. Letta membantu berlebihan, Lita: cukup. Ember menganggur bagus. Portal mati bagus. Mangkuk jaga kunci bagus.
Sore, koridor dalam tiga putaran, tidak lima, Lita di kusen. Tetangga menunduk, satu hampir tanya, Dain menunduk lebih dulu. Masuk, rantai, gorden. Jesika chat: ibu tidak datang, cukup, Dain tidur, Lita jangan toko di kepala, kalau tetangga toko tanya, Nana cukup. Gavin chat: pelan. Dain titik. Lita tersenyum kecil. "Pendek. Bagus." Orl chat: kuasa diam, lagu masih, jangan buka. Dain tidak buka. Ponsel ke mangkuk. Ember menganggur. Kerja kecil, bukan judul.
Malam Freya tidak chat ke Dain. Diam licin berkemeja. Dain menyapu remah, Lita mengkritik sudut, Letta meniru sapu. Kerja kecil, bukan judul. Mereka makan. Telur lulus. Lita enam suap. Dain berdiri. Tidak TV. Letta mengunyah, tanya, serius. "Om dekat. Bunda titik. Tante prihatin palsu. Hakim tidak beli. Ember ada. Jam masih." Dain berjongkok. "Dekat. Tidak beli. Titik." Jesika tidak datang kedua, cukup. Gavin tidak, cukup. Orl tidak, cukup. Lalu Lita ke ambang, lebih kuat, lebih capek, memegang kusen.
"Dain. Kamu masih sofa. Jangan ke gerbang. Jangan ke kampus. Jangan ke cafe. Jangan balas prihatin dengan hon. Pengacara kerja. Kamu tidur. Tiga terbatas sudah, jangan hero tambah. Ember menganggur. Kaos. Tidak cincin. Tidak selesai. Perut jadi tanya di toko, di sekolah, belum nama di rumah. Kita tahan. Kita sapu. Kita tidak beli judul. Kita tidak beli diam. Kita tidak beli prihatin. Kalau kamu lapar hero, tekan magnet."
"Tidur. Tidak gerbang. Tidak hon. Tidak beli prihatin. Sofa. Titik." Dain menatap plafon. Letta titip barbie sebentar, lalu ambil. Dain memejam, jam jelek di kulkas, perut jadi tanya, belum nama, muka ember, bukan cafe, bukan hon. Magnet longgar. Dia tidak cabut. Dia tekan.
Sebelum tidur benar, Dain hampir buka portal, Lita sudah menatap dari ambang. "Tidak. Kalau lapar berita, cuci gelas. Kalau lapar Freya, tekan magnet. Kalau lapar hero, tidur." Dain cuci gelas, tekan magnet. Letta di kamar berbisik ke barbie lebih lama, Dain dengar samar, tidak masuk. "Prihatin palsu. Tidak beli. Bunda berobat. Dokter. Istirahat. Titik. Om sofa. Jam masih."
Dia hampir tidur, lalu bangun sebentar, cek ember, cek rantai, cek gorden, cek Lita yang sudah tutup pintu, tidak kunci. Ponsel di mangkuk. Bantahan sudah jalan. Rumah tidak pecah. Itu yang mereka beli. Bukan selesai. Bukan tas. Beli diam rumah. Beli tidak beli prihatin. Beli jam yang jelek dan tetap ditempel. Beli titik di mulut Letta, bukan tumbuh di grup, bukan cerita di toko. Dia memiringkan tubuh, kaki menggantung, ember di lantai, dan untuk malam ini, kertas di kulkas tidak membuatnya ngegas ke siapa pun. Hanya rumah. Hanya kaos. Hanya tidak kabur. Hanya tidak beli selesai.
Letta di kamarnya berbisik ke barbie, Dain dengar samar, tidak masuk. "Jam masih. Om tidak cabut. Bunda titik. Tante jangan prihatin. Hakim tidak beli. Om sudah pulang. Titik. Tidak hon. Tidak pukul." Dain tersenyum kecil di gelap, tidak pesta, tidak lagu. Lita batuk sekali, bukan IGD. Ember menganggur. Portal mati. Sofa menuliskan garis di punggung. Itu malam rumah, bukan malam judul, dan Dain memaksa dirinya tidur sebelum kepala jadi toko.