Author POV
Hari kedua rawat inap, Lita boleh jalan pelan ke kamar mandi dengan Dain di luar pintu. Itu saja sudah membuatnya menangis, karena kemarin dia kira tidak akan kuat berdiri. Ubin dingin di telapak. Infus sudah dilepas, plester masih di punggung tangan. Dain berdiri membelakangi pintu, bukan karena jijik, karena Lita minta jangan dilihat lemah.
"Kalau pusing, ketuk."
"Iya. Jangan cerita ke Letta aku megang dinding."
Letta menunggu di ranjang sambil memegang barbie yang barunya patah satu tangan, ironis, seperti mengulang cafe dulu. Dain duduk di sisi anak itu, mengikat rambut Letta yang berantakan, jelek, tapi Letta diam saja.
"Nanti om ganti lagi," kata Dain ketika Lita keluar.
"Tidak usah. Ini tetap barbie. Sakit dikit, tetap barbie." Letta menatap Dain. "Kayak bunda."
Dain tidak sanggup menjawab kalimat itu. Lita tersenyum kecil dari ambang, lalu kembali ke ranjang sebelum lututnya benar-benar lolos.
Jesika datang membawa hasil yang diminta dari orangnya. Bukan untuk dibaca Lita. Untuk Dain, di ruang keluarga.
"Freya menolak lab yang ibu tunjuk. Dia minta dokter pribadinya, namanya tidak ada di daftar klinik yang biasa dia kunjungi. Orang ibu melihat laki-laki motor itu. Namanya Reza. Bukan teman kelompok. Ada sewa kamar di daerah kampus, atas nama Freya, bukan atas nama Dain."
Dain duduk, menaruh kertas, lalu mengangkat lagi.
"Tujuh tahun."
"Tujuh tahun bukan alasan menutup mata, Dain. Ibu tidak menyuruh kamu mengumumkan ini ke portal. Ibu menyuruh kamu berhenti menjadi ATM yang juga jadi panggung."
"Anaknya. Kalau Reza. Kalau saya. Kalau tidak ada."
"Lab. Kalau dia terus menolak, kamu anggap pengakuan itu senjata, bukan bayi. Lita tidak menolak USG. Itu bedanya."
Dain membolak-balik foto kamar sewa. Bukan mewah. Ada tas yang mirip pemberiannya tahun lalu. Ada sikat gigi dua. Ada foto Freya di cermin, bukan foto Dain.
"Mom. Kalau ini benar, tujuh tahun saya jadi cadangan."
"Atau jadi panggung. Cadangan tidak dibelikan tas seharga mobil. Kamu dibohongi dan kamu membiayai kebohongan itu. Itu lebih parah. Tapi kamu masih bisa berhenti hari ini."
Dain menaruh kertas. "Saya ke lab besok. Kalau Freya bawa mamanya, mom..."
"Ibu datang. Bukan untuk perang di parkir. Untuk saksi. Kamu jangan pergi sendirian. Orlando boleh. Daddy tidak perlu. Daddy sudah cukup kemarin."
Dain kembali ke kamar dengan wajah yang sudah dicuci, masih jelek. Lita langsung tahu.
"Freya punya orang."
"Ada nama. Aku belum menghadap. Aku tidak mau salah orang. Aku tidak mau kamu berharap aku langsung jadi pahlawan."
Lita tersenyum kecil, pahit. "Aku tidak butuh pahlawan. Aku butuh Letta tidak ditanya teman, ibunya pelakor."
Siang itu pengacara keluarga mengeluarkan pernyataan pendek. Tidak ada nama Lita. Tidak ada nama Freya. Hanya: pihak keluarga mengecam kekerasan, mendukung proses medis pasien, dan tidak akan merespons gosip. Portal tetap menulis. Tapi beberapa stasiun yang kemarin datang tidak mengulang tamparan.
Dain membacakan pernyataan itu pada Lita, tanpa gaya.
"Tidak ada namamu. Tidak ada pengakuan. Kalau kamu tidak mau, kita cabut juga ini."
"Biarkan. Lebih baik ada kalimat yang menahan tamparan daripada toko saya jadi papan caci."
Laundry dibuka terbatas. Nana dan Len bekerja di belakang, tanpa papan nama di depan. Ada pelanggan lama yang masuk lewat samping, meninggalkan tiga karung, menunduk, tidak banyak tanya. Ada juga remaja yang pura-pura titip kemeja lalu mengangkat ponsel. Satpam menahan. Dain transfer modal tambahan. Lita menolak, lalu menerima karena gaji karyawan.
"Ini bukan uang muka supaya aku diam."
"Ini gaji orang yang kemarin mengunci pintu karena disuruh Freya. Mereka takut. Mereka tetap bawa kamu ke taksi."
Sore, Freya muncul lagi, kali ini di lobi, tidak naik. Dia minta Dain turun. Dain turun bersama Orlando, bukan sendirian.
Freya sudah rias. Ada perban kecil di lengan.
"Hon, kita bicara berdua."
"Tidak berdua. Orlando di sini. Kamu kemarin tidak berdua. Ada kamera."
Freya menggigit pipi. "Aku takut kehilangan kamu. Aku bodoh. Aku minta maaf pada kamu, bukan pada dia. Dia tetap salah. Tapi aku mau tes. Di dokterku. Kamu ikut."
"Dokter yang mommy pilih," kata Dain. "Besok. Kalau kamu tidak datang, aku anggap foto itu bukan untuk bayi."
"Kamu kejam."
"Kamu tampar orang. Kita sedang belajar kejam yang mana yang lebih jujur."
Freya menatap Orlando. "Kamu selalu benci aku."
"Gue benci loe nyakitin anak kecil. Sisanya urusan Dain."
Freya menyerahkan amplop. "Ini undangan. Keluarga saya tetap mau silaturahmi. Mama kamu boleh tidak datang. Kamu harus."
Dain tidak menerima amplop itu. Orlando yang memegang, lalu mengembalikan ke meja lobi.
"Tidak ada silaturahmi sementara ada IGD."
Freya pergi. Langkahnya masih cantik. Dain tidak mengikutinya sampai parkir. Itu kemajuan kecil yang terasa seperti mengkhianati kebiasaan tujuh tahun. Orlando menepuk punggungnya sekali.
"Elo tidak lari. Bagus. Jangan telpon dia malam ini walau dia ancam live. Gue yang monitor."
"Kalau dia hamil sungguhan."
"Kalau sungguhan, lab. Kalau tidak, loe berhenti bayar drama. Pulang ke atas. Perempuan di atas tidak minta undangan. Dia minta perutnya aman."
Naik lagi, Dain menceritakan pada Lita tanpa membesar.
"Dia minta maaf padaku, bukan padamu. Aku tidak terima undangan. Besok tes. Kamu tidak usah tahu tempatnya."
"Kalau tesnya positif?"
"Aku tanggung yang menjadi tanggunganku. Aku tidak menikah karena ancam. Aku tidak menelantarkan karena dendam."
Lita menatap perutnya sendiri. "Aku juga tidak menikah karena perut. Tante Jesika yang mendorongku berani. Aku takut kamu merasa dijebak."
Dain duduk di lantai, bukan di kursi, supaya wajahnya lebih rendah.
"Aku yang mulai. Aku yang revisi perjanjian. Aku yang tidak berhenti. Kalau ini jebakan, aku yang beli kawatnya. Kamu jangan minta maaf karena bertahan."
Lita menelan. "Besok kamu ke lab. Aku di sini atau di apartemen, tidak ikut. Aku tidak mau kamera kira aku datang untuk cek saingan. Kalau hasilnya membuat kamu kembali ke Freya, kirim pesan. Jangan datang hanya untuk menghabisi harapan pelan-pelan."
"Kalau aku datang, itu karena aku datang. Bukan karena hasil orang lain." Dain mengusap lantai dengan telapak, gelisah. "Aku masih kacau. Aku tidak jual kacau itu ke kamu sebagai janji nikah."
"Bagus. Aku juga tidak jual perut ini sebagai cincin."
Malam itu Lita boleh pulang dengan syarat istirahat total, kontrol dua hari, tidak bekerja angkat, tidak berdebat. Dain membawa mereka ke apartemen sederhana itu, bukan ke Rocarlton. Jesika ikut sampai pintu, memerintahkan sopir berjaga di basement, lalu pulang.
Unit itu masih sama. Masih jauh dari tengah kota. Masih ditata Letta dengan boneka di sofa. Bau detergen masih nempel di gorden. Di meja ada nota laundry yang belum Lita selesaikan kemarin pagi, sebelum Freya datang. Lita memandang nota itu seolah melihat versi dirinya yang masih naif.
Dia berdiri di tengah ruang tamu dan tiba-tiba menangis karena ini bukan petak, dan berita kemarin membuatnya merasa tidak berhak.
"Kalau tetangga sudah lihat berita, kita harus pindah."
"Tidak malam ini. Sopir mommy di bawah. Jon pasang orang di lobby. Kamu mandi kalau kuat, lalu tidur."
Dain mengunci pintu. Bukan mengunci Lita. Mengunci kamera. Dia menurunkan gorden sampai lampu taman tinggal garis.
"Tidur. Aku di sofa."
"Kamu biasa di kamar."
"Tidak malam ini. Perjanjian itu kita hentikan dulu. Bukan putus tanggung jawab. Henti yang di kasur. Kamu hamil. Aku tidak mau kamu kira aku datang untuk itu."
Lita menatapnya, terkejut, lalu mengangguk. Itu penghormatan yang tidak pernah tertulis di kertas perjanjian.
Letta mandi, memakai piyama, lalu menarik Dain ke kamarnya.
"Om tidur sini, kasur lebar. Bunda sendiri, om jaga pintu."
"Om di sofa. Lebih dekat pintu. Kalau ada orang jahat, om dengar."
Letta puas dengan alasan itu. Dia mencium pipi Dain. "Om baik. Jangan suka Tante Frey yang jahat. Suka bunda. Bunda wangi sabun, bukan wangi pamer."
Dain tertawa pelan, hampir menangis. "Tidur."
Di sofa, Dain membuka lagi video semalam, kali ini sampai habis, sampai Freya masuk ke toko, sampai karyawan mengunci pintu, sampai Lita memegangi perut. Dia mematikannya. Dia menulis catatan di ponsel, bukan untuk portal.
Yang harus dijaga: Lita, Letta, USG.
Yang harus dicek: Freya, Reza, lab.
Yang tidak boleh: statement, tunangan, kembali ke cafe seolah tidak terjadi.
Ponsel bergetar. Nomor Reza, tidak tersimpan, tapi Orlando sudah kirim identifikasinya.
Pilot. Jangan terlalu percaya perut perempuan. Freya punya cara. Saya tidak mau ribut. Cuma peringatan.
Dain membalas satu baris.
Kalau berani peringatan, berani ketemu. Bawa bukti. Jangan laundry. Jangan rumah sakit.
Tidak ada balasan.
Dari kamar, Lita memanggil pelan. Dain datang, berdiri di ambang, tidak masuk ke kasur.
"Dain. Kalau besok tes Freya positif, dan orang itu benar ada, kamu tetap jangan pukul siapa-siapa. Aku takut kamu yang jadi berita."
"Aku tidak pukul. Aku sudah hampir ngegas dari bandara. Cukup."
Lita mengusap perut, masih datar, masih rapuh.
"Anak ini. Kalau laki-laki, aku sudah punya nama di kepala. Belum boleh diucap. Nanti jelek."
Dain tersenyum kecil. "Simpan. Aku tidak paksa."
Dia tidak tahu nama itu Zhafran. Dia tidak perlu tahu malam ini. Cukup dia tahu ada detak yang sempat hampir hilang karena tangan orang yang dulu dia bela habis-habisan.
Lita menatapnya lagi. "Kalau perempuan, namanya jangan Freya. Itu saja yang aku minta."
Dain tertawa pelan, pecah. "Tidak akan. Aku tidak semenggelapkan itu."
"Kamu semenggelapkan itu untuk membuat perjanjian. Aku hanya mengingatkan."
"Tercatat." Dain berdiri. "Tidur. Aku di sofa. Kalau mual, panggil. Jangan jalan sendiri ke dapur."
Dain kembali ke sofa. Lampu taman apartemen masuk dari sela gorden. Dia tidak menyanyi. Dia tidak membalas chat Freya yang masuk tengah malam, isinya ancaman batal tidur, ancaman live lagi, ancaman mama Freya ke rumah Rocarlton.
Satu pesan Freya lebih panjang.
Hon, kamu tidur di rumahnya ya. Aku tahu. Orang aku lihat. Kamu pikir mama kamu bisa nutup semua. Besok aku ke lab, tapi aku bawa mama. Kalau tes positif kamu harus ke rumah aku. Kalau negatif, kamu tetap harus minta maaf di depan keluarga aku. Janda itu tidak boleh menang.
Dain membaca sampai habis, lalu mengarsipkan, bukan membalas. Dia membalas Jesika saja.
Sudah sampai. Pintu dikunci. Sofa. Besok lab. Freya ancam bawa mama.
Jesika membalas: Bagus. Tidur. Jangan jadi anak. Mama Freya urusan ibu.
Dari kamar Lita memanggil lagi, lebih pelan.
"Dain. Air."
Dain tuang, antar, tetap di ambang. Lita minum, lalu menatap sofa di belakangnya.
"Kamu tidak nyaman. Kasur kosong di kamarku. Bukan untuk itu. Untuk tidur. Punggungmu."
"Sofa. Janji."
Lita mengangguk, menyerah pada keras kepala yang kali ini bukan untuk nafsu. "Kalau Letta bangun malam, jangan biarkan dia buka pintu depan."
"Aku di depan pintu. Tidur."
Dain memejam. Di balik pintu kamar, Lita belum tidur. Letta sudah. Di luar, sopir Jesika masih di basement. Di suatu tempat, Freya menatap undangan yang tidak diterima. Di suatu tempat, Reza membaca chat Dain.
Cerita mereka tidak selesai di tamparan. Baru mulai di malam yang Dain pilih sofa, bukan kasur, dan perut yang harus dijaga lebih dulu daripada gengsi keluarga Rocarlton.