Author POV
Pagi di rumah sakit datang lebih dulu daripada keputusan.
Lampu lorong masih temaram ketika Lita bergeser. Dain yang tidur setengah di kursi langsung bangun, lehernya pegal, seragam diganti jaket Orlando yang terlalu longgar. Letta masih mengorok kecil di kaki ranjang, barbie patah di pelukan.
Lita bangun karena mual, bukan karena alarm. Dain sudah berdiri, nyaris menjatuhkan gelas, menyodorkan kantong. Lita menggeleng, menahan, lalu akhirnya memakai kantong itu. Dain menyeka sudut mulutnya dengan tisu, canggung, seperti orang yang biasa menyeka darah hidung di gym, bukan muntah orang hamil.
"Jangan lihat."
"Sudah kulihat. Tidak apa. Aku dulu lihat Senja, istri Ro, lebih galak dari ini. Kamu masih lebih tenang."
"Jangan bandingkan aku dengan istri orang. Aku bukan istri."
Dain terdiam. Kalimat itu menusuk karena benar. Dia buang kantong, cuci tangan di wastafel kecil, kembali dengan air.
"Bukan itu maksudku. Maksudku aku tidak lari."
Letta masih tidur. Jesika sudah pulang sebentar ke rumah untuk ganti baju dan kembali dengan termos bubur. Gavin belum datang. Orlando datang lebih dulu, membawa jaket untuk Dain dan topi untuk Letta.
"Portal masih ramai. Laundry dapat review baru, semuanya salinan kata Freya. Gue pasang satpam tambahan di toko. Dain, loe harus makan. Muka loe kayak habis dinas dua kali."
Dain makan dua sendok, lalu berhenti. "Freya."
"Gue sudah kirim orang ke apotek dekat apartemennya. Dia beli tes, iya. Tiga kotak, kemarin sore. Setelah live. Bukan seminggu lalu."
Dain menatap Orlando. "Jadi?"
"Jadi klaimnya cepat. Bisa benar, bisa panik. Tiga kotak setelah huru-hara itu baunya rekayasa, tapi gue bukan dokter. Loe jangan konfrontasi sendirian."
Lita mendengar. Dia memalingkan wajah.
"Kalau dia benar-benar hamil, Dain, kamu kembali saja. Aku tidak akan tuntut apa-apa. Apartemen kamu ambil. Laundry kamu ambil. Aku bawa Letta ke kontrakan lama."
"Kontrakan itu sudah kamu tinggalkan," kata Dain. "Tetangga itu menyakitimu. Letta tidak mau."
"Lebih baik disakiti ibu-ibu daripada disakiti berita."
Jesika meletakkan termos lebih keras daripada yang perlu. "Tidak ada yang kembali ke petak itu. Ibu sudah bilang semalam. Apartemen itu atas nama yang bisa ibu jaga. Bukan untuk Dain cabut ketika takut."
Dain menatap ibunya. "Atas nama siapa?"
"Bukan urusan Freya. Kamu fokus. Daddy menunggu di kafe lantai satu. Bukan di kamar. Lita istirahat. Dain turun."
Dain turun. Gavin sudah duduk dengan kemeja, tanpa dasi, dua gelas kopi, satu tidak diminum.
"Duduk."
Dain duduk. Gavin tidak memulai dengan marah.
"Daddy sudah telpon stasiun yang kemarin datang. Mereka tidak akan siaran ulang tamparan. Tidak semua nurut. Freya tetap bisa diundang talkshow. Kamu tidak pergi ke sana. Pengacara yang bicara: keluarga tidak menerima kekerasan, anak dilindungi, pasien berhak privasi. Tidak ada pengakuan perjanjian. Tidak ada pengakuan kehamilan."
"Dad, Lita hamil. Freya ngaku hamil."
"Daddy dengar. Yang satu ada USG rumah sakit. Yang satu ada foto wastafel. Kamu tidak menikahi foto wastafel. Kamu juga tidak menikahi rasa bersalah. Kamu tanggung jawab pada yang sudah kamu buat, dan kamu selidiki yang mengaku."
Dain menunduk. "Saya masih... Freya. Tujuh tahun."
"Tujuh tahun Freya juga punya waktu untuk tidak mengundang kamera. Daddy tidak menyuruh kamu benci. Daddy menyuruh kamu tidak bodoh."
Mereka diam. Kopi Dain dingin. Gavin menatap jendela parkir, bukan anaknya.
"Daddy dulu juga pernah bodoh. Bukan dengan kamera. Dengan kira cinta cukup dibayar barang. Mommy hampir pergi. Daddy belajar terlambat. Kamu dapat kesempatan belajar lebih cepat karena semuanya sudah di layar. Jangan sia-siakan layar itu untuk dendam. Pakai untuk jaga."
Dain mengangguk, sulit. "Saya takut saya tidak cinta Lita. Saya takut saya hanya bersalah. Saya takut Freya hamil dan saya jadi orang yang lebih jelek."
"Takut itu data. Bukan kemudi. Kemudi hari ini: rawat inap, anak kecil, lab. Cinta kamu urus setelah kamu tidak berbohong pada diri sendiri."
"Lita," kata Gavin pelan. "Mommy melihatnya lebih jernih daripada kamu. Daddy tidak langsung percaya cinta. Daddy percaya pola. Freya meminta, kamu memberi, Freya marah, kamu beli. Lita menolak apartemen mahal, minta yang jauh. Itu bukan pola yang sama."
Dain mengingat tas miliaran. Mengingat Lita memilih unit sederhana. Mengingat Freya yang cemberut di mobil. Mengingat Lita mengembalikan kantong makanan di taman, dulu, lewat cerita Letta, kata bunda tidak boleh terima dari orang asing. Dua perempuan, dua cara meminta.
"Saya tidak tahu saya cinta siapa, dad."
"Maka jangan ucapkan cinta di mikrofon. Urus rawat inap. Urus anak kecil itu. Urus tes Freya di lab yang mommy pilih, bukan di kamar mandinya. Kalau Freya menolak lab, kamu dapat sebagian jawaban."
Dain mengangguk. Gavin berdiri, menepuk bahu sekali, lalu pergi ke arah parkir. Tidak ada pelukan. Cukup.
Sebelum benar-benar jauh, Gavin menoleh.
"Dain. Perjanjian itu, daddy tidak perlu dengar isinya. Daddy perlu kamu hentikan yang memperlakukan orang seperti fasilitas apartemen. Kalau Lita tinggal, dia tinggal sebagai orang, bukan sebagai klausul."
"Iya dad."
Dain duduk beberapa menit sendirian setelah ayahnya pergi. Kopi tetap tidak diminum. Dia menulis di notes ponsel daftar yang kemarin sempat kacau, lalu menambah satu baris: jangan beli tas untuk tutup salah.
Di kamar, Lita sudah disuapi Letta satu sendok bubur, lalu Letta yang malah makan.
"Om, nenek masak enak. Bunda makan dikit. Om marah Tante Frey sudah?"
"Om belum. Om urus bunda dulu."
Lita menatap Dain. "Kamu dari ayahmu. Wajahmu seperti orang yang baru dihukum."
"Diingatkan. Bukan dihukum." Dain duduk. "Aku minta maaf karena semalam aku bilang aku belum putus. Itu kejujuran yang menyakitkan. Aku tidak mau kamu kira aku main dua dan bangga. Aku kacau. Tapi aku tidak akan cabut apartemen. Aku tidak akan cabut laundry. Aku tidak akan biarkan Letta balik ke ibu-ibu itu."
"Kalau Freya hamil?"
"Kalau Freya hamil, itu anak, bukan senjata. Aku urus secara benar. Bukan dengan live. Kalau Freya tidak hamil, aku urus kebohongannya secara benar. Bukan dengan balas live."
Lita menghela napas. "Kamu mulai kedengaran seperti anak Tante Jesika, bukan seperti Dain yang telat di cafe."
"Aku masih Dain yang telat. Aku hanya tidak mau telat lagi ke IGD."
Siang itu Lita boleh duduk. Dain mengusap kaki Letta yang kesemutan. Televisi di ruang rawat dimatikan karena ada cuplikan berita selebriti, bukan mereka, tapi Lita tetap takut.
Nana menelepon dari toko.
"Mas, ada pelanggan lama yang tetap antar. Ada juga yang datang cuma foto. Satpam usir. Oh, Mas, ada cowok datang tanya Mbak Freya, kira-kira Mbak Freya di toko tidak. Tingginya segini, motor gede, tidak mau tinggalkan nama."
Dain menatap Orlando. Orlando sudah mencatat.
"Lanjut."
"Dia bilang, 'kalau jandanya sudah diusir, Freya tenang.' Lalu pergi."
Dain menutup telepon. Letta yang pura-pura main kertas tiba-tiba angkat suara.
"Itu om yang kadang jemput Tante Frey di kampus. Letta lihat waktu antar laundry ke apartemen tante. Tante cium om itu. Jangan bilang bunda dulu, tapi om baik boleh tahu, biar om baik tidak bodoh."
Ruangan itu terlalu hening untuk anak yang masih gagap kata bodoh.
Lita menutup mulut. Dain tidak marah pada Letta. Dia marah pada dirinya yang dulu bilang semua wanita di sekitarnya tidak secantik Freya, lalu tidak pernah memeriksa siapa yang di sekitar Freya.
"Kapan, sayang?" tanya Dain pelan. "Om tidak marah. Om mau jelas."
"Waktu bunda masih di bawah, Letta naik bawa paket. Pintu tidak dikunci betul. Tante Frey sama om itu di sofa. Letta mundur. Tante kasih coklat, bilang jangan cerita om Dain, nanti om Dain sedih, laundry bunda ditutup. Letta takut laundry tutup. Makanya diam. Tapi tante pukul bunda. Jadi Letta tidak diam lagi."
Lita menarik Letta ke dada, hati-hati pada infus. "Maaf. Bunda tidak tahu kamu disuruh diam dengan ancaman."
"Bukan ancaman besar. Coklat. Tapi Letta kecil, takut."
Dain berdiri, memunggungi mereka sebentar, menahan sesuatu di rahang. Ketika berbalik, suaranya sudah diatur.
"Terima kasih sudah bilang. Kamu tidak salah. Orang dewasa yang salah."
Orlando berdiri. "Gue ke kampus. Gue ke apartemen. Loe tetap di sini. Kalau Freya telpon, rekam."
Setelah Orlando keluar, Dain duduk di tepi ranjang, memegang pagar, tidak memegang Lita.
"Aku akan tanya Freya. Bukan hari ini di kamarmu. Besok, dengan orang. Kamu tidak perlu jadi saksi di depan dia."
"Aku sudah jadi saksi di depan kamera," kata Lita. "Aku hanya tidak ingin Letta jadi saksi lagi."
Dain mengangguk. Dia menatap perut Lita yang masih datar, yang tidak kelihatan di berita, yang hampir hilang karena dorongan.
"Kalau anak ini lahir," katanya pelan, "aku tidak mau dia kenal bapaknya sebagai orang yang hanya bisa ngegas dari bandara."
Lita menatapnya lama. "Jangan janji lahir. Janji jaga hari ini dulu. Hari ini saja sudah berat."
Dain mencium punggung tangan yang berinfus, cepat, bukan mesra, seperti cap stempel.
"Hari ini aku jaga."
Jesika yang duduk di sudut mengangguk kecil, hampir tidak kelihatan, lalu berdiri.
"Ibu pulang sebentar. Ada yang harus ibu cek di rumah. Dain, jangan pergi. Lita, makan dua sendok lagi. Letta, nenek beliin buah di bawah, jangan cuma roti."
Setelah Jesika keluar, kamar terasa lebih longgar. Lita menatap Dain.
"Ibumu lebih berani darimu."
"Aku tahu. Aku sedang mengejar."
Nana menelepon lagi, singkat, hanya untuk bilang ada karangan bunga tanpa nama di depan toko, pita hitam, tulisan 'sadar diri'. Dain menyuruh dibuang, jangan difoto, jangan dibalas. Lita mendengar dan menutup muka dengan bantal, bukan karena lemah, karena malu yang menumpuk tidak punya tempat lain.
Di parkir basement, Freya duduk di mobilnya, menonton story-nya sendiri, menunggu Dain turun. Dain tidak turun. Freya menelpon nomor yang kemarin menjemputnya di kampus.
"Kamu bodoh datang ke laundry. Orang Dain sudah curiga."
Di seberang, laki-laki itu tertawa. "Kamu yang bodoh bawa TV. Aku bilang cukup ancam. Bukan pamer. Sekarang nama saya bisa ikut. Saya tidak mau ikut."
"Kamu yang mulai. Kamu yang bilang Dain tidak akan ninggalin saya. Kamu yang bilang janda itu gampang diusir."
"Saya bilang ancam. Bukan stasiun. Kamu cemburu jadi bodoh. Kalau Dain telpon saya, saya tidak kenal kamu."
Freya mematikan telepon. Tangannya gemetar, bukan karena takut pada Reza, karena rumus yang selalu jalan tadi pagi tiba-tiba tidak jalan. Dia menonton lagi videonya sendiri, mempercepat ke bagian tamparan, lalu ke Letta. Dia menghapus story yang terlalu jelas, mengganti dengan foto perban dan caption singkat: sakit, tapi saya kuat.
Di kaca spion, wajahnya cantik. Matanya tidak.
Dain di atas tidak turun. Lita makan satu sendok lagi. Letta mulai mewarnai di kertas resep dokter. Hari itu belum selesai, tapi setidaknya Freya tidak naik lagi.