Author POV
Dain tidak mengangkat panggilan Momma di samping ranjang Lita. Dia keluar ke lorong, menutup pintu pelan, lalu menekan hijau.
"Dain. Kamu dimana." Suara Jesika tidak merengek. Suara itu datar, dan justru itu yang membuat Dain tegang.
"Rumah sakit. Lita."
"Ibu sudah lihat. Bukan cuma video Freya. Ada yang merekam dari seberang jalan, lebih lengkap. Freya mendorong anak itu. Lita jatuh. Ibu sedang ke sana. Nama rumah sakitnya sebut."
Dain menyebutkannya. Di seberang ada suara mobil, bukan suara rumah.
"Daddy ikut?"
"Daddy masih di rapat. Ibu duluan. Jangan biarkan Freya masuk ke kamar Lita. Jangan biarkan wartawan naik. Dan Dain, satu hal. Kalau dokter sudah bicara, kamu jangan memaksa Lita menjelaskan di IGD. Dia takut kamu marah."
Dain menelan. "Mom sudah tahu."
Hening sejenak. "Ibu tahu. Lita tidak sendiri memutuskan. Kamu boleh marah pada ibu nanti. Sekarang jaga perempuan itu. Jaga cucu ibu."
Panggilan ditutup sebelum Dain sempat bilang dia belum siap menjadi ayah. Kata cucu menempel di telinga seperti pengumuman kabin yang tidak bisa di-rewind.
Dain kembali ke ruang tunggu. Letta sudah memegang roti dari mesin, tidak dimakan, hanya diremas. Plastiknya sudah sobek di sudut. Ada remah di kursi oranye.
"Om, bunda boleh pulang?"
"Belum. Tidur di rumah sakit dulu. Om temenin. Nenek baik juga datang."
Mata Letta berbinar basah. "Nenek yang beliin banyak barang?"
"Iya. Tante Jesika."
Letta mengangguk, lalu menunduk lagi. "Om, Tante Frey bilang bunda janda gatal. Di sekolah kata janda itu ibu yang tidak punya ayah di rumah. Bunda punya Letta. Kenapa jadi kata kotor?"
Dain berjongkok. Seragamnya kusut di lutut.
"Kata itu mereka pakai untuk nyakitin, bukan untuk jelasin. Bunda kerja. Bunda jaga kamu. Om yang salah biarkan orang pakai kamera. Kamu tidak usah ulang kata Tante Frey."
"Letta tidak ulang. Letta cuma mau bunda tidak pergi. Kontrakan lama jahat. Apartemen om wangi. Bunda janji pergi, Letta dengar."
"Janji itu dipaksa. Om urus. Kamu makan roti itu, meski dikit."
Letta menggigit, lalu menyodorkan sisa ke Dain. Dain menggigit juga, hambar, tapi Letta terlihat lebih tenang.
Len berdiri. "Mas, saya balik ke toko ya. Nana sendiri. Kalau ada wartawan saya umumin tutup hari ini."
"Tutup dua hari. Gaji tetap saya transfer. Jangan live. Jangan debat di kolom."
Len mengangguk lalu pergi, masih menoleh ke arah pintu IGD seolah Lita bisa dipanggil pulang dengan tatapan.
Dain duduk. Letta bersandar. Dain menatap layar. Portal sudah memakai judul yang kasar. Ada yang menulis nama laundry. Ada yang menulis nama belakang Rocarlton. Ada foto Lita menunduk, dipotong sedemikian rupa supaya kelihatan bersalah.
Orlando menelepon.
"Gue sudah minta beberapa unggahan diturunin lewat pengacara apartemen. Tidak semua nurun. Freya yang undang kamera, jadi dia kelihatan sebagai korban. Loe harus statement, atau diam sementara. Diam lebih aman malam ini. Tapi loe harus kontrol Freya. Dia masih ngomong ke grup."
"Grup apa?"
"Teman kuliah. Ada yang screenshot. Dia bilang Lita jual diri. Elo jangan bales emosional. Elo urus rumah sakit."
"Mom ke sini."
"Bagus. Tante Jesika lebih ditakuti kamera daripada gue. Dain. Loe sayang Freya tujuh tahun. Gue tahu. Tapi tujuh tahun tidak ngasih hak nge tampar orang di depan stasiun."
Dain menutup mata. "Lita hamil."
Orlando tidak langsung bercanda. Itu yang paling menakutkan. Orlando selalu bercanda.
"Sial. Loe baru tahu?"
"Barusan."
"Jangan bilang Freya. Jangan bilang portal. Gue ke sana setelah beres satu panggilan. Loe duduk. Jangan ngegas ke apartemen Freya."
"Gue tidak ke sana."
Setelah panggilan, Dain masuk lagi. Lita sudah dipindah ke ruang observasi berdua, ranjang sebelah kosong. Cairan infus menetes. Monitor kecil di jari.
"Letta lapar tidak?" tanya Lita pelan.
"Tidak. Om kasih roti. Letta tidak mau. Tante Frey jahat, bunda jangan pergi. Tante bilang bunda pergi."
Lita menatap Dain, minta tolong dengan mata, bukan dengan mulut. Dain menggendong Letta lebih dekat ke pagar ranjang.
"Bunda tidak pergi malam ini. Bunda berobat. Kamu tidur di sini kalau perawat izinkan, atau om sewa kamar keluarga."
"Aku janji pada Freya," bisik Lita, hampir tidak terdengar. "Kalau aku jadi perusak, aku pergi. Aku sudah bilang itu di depan anakku."
"Janji itu dipaksa di depan kamera. Itu bukan janji. Itu dipojokkan."
Lita menggigit bibir yang pecah, lalu menyesal karena perih.
"Kamu masih pacarnya. Kalian mau tunangan. Wartawan tanya, Freya bilang tetap. Aku di mana, Dain? Aku di perjanjian. Aku di kasur. Aku di laundry yang modalnya dari kamu. Aku tidak punya muka untuk bertahan."
Dain menarik kursi, duduk, menunduk sampai wajahnya sejajar.
"Aku yang bikin perjanjian itu. Aku yang datang ke rumah petakmu. Aku yang bawa kamu ke apartemen. Aku yang menyentuh kamu ketika kamu bilang kita salah. Kalau ada yang harus pergi dari berita ini, bukan kamu yang perutnya baru di dorong."
"Jangan putus karena kasihan."
"Aku belum bilang putus. Aku juga belum bilang aku tetap. Aku bilang kamu rawat inap. Satu perkara dulu."
Lita terdiam. Itu jawaban yang jujur, dan justru karena jujur, Lita tidak bisa membencinya habis. Dain memang belum dewasa. Dain memang masih memegang Freya di satu tangan. Tapi Dain datang dari bandara tanpa ganti seragam.
"Kamu tahu tidak," kata Lita pelan, "waktu perjanjian itu ditandatangani, aku kira paling jauh aku kehilangan muka di depan kamu. Bukan di depan stasiun. Aku kira Freya cuma marah di apartemen, lalu kamu bela dia, lalu aku mundur. Aku sudah siapkan mundur. Tidak siapkan tamparan."
"Aku juga tidak siapkan. Aku kira cemburu Freya masih bisa dibeli sate. Aku bodoh."
"Bukan sate. Tas. Janji. Ciuman. Kamu selalu punya cara. Hari ini caranya habis."
Dain mengangguk. Dia tidak membantah. Di kursi IGD, membantah terasa seperti merias mayat.
Perawat masuk, memasang klem, mencatat tekanan. "Ibu jangan banyak duduk. Bapak jangan buat Ibu menangis. Nanti malam ada USG ulang."
Setelah perawat keluar, Letta mengusap air mata Lita dengan jari yang masih berbau roti.
"Bunda cantik. Om baik jaga bunda. Letta pukul orang jahat lagi kalau berani."
"Jangan pukul, sayang. Letta tidak boleh tangan. Bunda yang salah biarkan kamu lihat itu."
"Bukan salah bunda." Letta menoleh ke Dain. "Kan om?"
Dain mengangguk. "Bukan salah bunda."
Di luar kaca, seorang laki-laki membawa kamera mencoba menatap ke dalam. Satpam rumah sakit menghalangi. Dain berdiri, keluar, menutup pintu.
"Ini area pasien. Hapus. Kalau sudah terlanjur, saya minta lewat satpam dan pengacara. Jangan foto anak."
Laki-laki itu ingin membantah, melihat seragam, lalu mundur. Dain berdiri di depan pintu sampai orang itu benar-benar belok.
Ketika dia kembali, Lita sudah memicing. Obat mual mulai bekerja. Dain duduk lagi. Dia tidak memegang perut Lita. Dia hanya menaruh telapak di samping pinggang, di sprei, cukup dekat untuk terasa hangat.
"Maaf," katanya tiba-tiba. "Karena aku tidak cukup hati-hati. Karena aku kira perjanjian itu bisa disimpan di laci. Karena aku kira Freya hanya cemburu biasa. Karena aku kira kamu kuat sendiri."
Lita tidak menjawab dengan pidato. Dia hanya membalik telapak, menyentuh jari Dain sebentar, lalu menariknya.
"Jangan kasih tau Letta soal adiknya. Belum. Kalau... kalau malam ini tidak aman, jangan kasih tau sama sekali."
Dain mengangguk. Kata adiknya membuat ruangan lebih kecil.
Jesika datang ketika lampu lorong baru saja diganti petugas ke mode sore. Beliau tidak memakai perhiasan yang mencolok. Tasnya kecil. Langkahnya cepat. Satpam menyingkir sendiri.
"Tante!" Letta hampir meloncat dari kursi.
Jesika berjongkok, merapikan rambut Letta, memeriksa lutut, memeriksa lengan. "Nenek sudah sampai. Kamu berani. Sekarang duduk. Tante masuk dulu."
Beliau masuk, melihat pipi Lita, dan untuk sesaat wajahnya berubah menjadi sesuatu yang Dain jarang lihat: marah yang dingin.
"Lit. Ibu di sini. Dokter sudah ibu telpon dari mobil. Rawat inap. Bukan pulang. Freya tidak masuk."
Lita menangis lagi, lebih pelan, seperti orang yang akhirnya boleh meletakkan nampan yang terlalu berat.
"Maaf Bu. Rencana kita... berita ini. Dain jadi malu. Keluarga."
"Keluarga yang malu adalah yang menampar ibu hamil di depan kamera," potong Jesika. "Dain, keluar. Tunggu di ruang keluarga. Ibu bicara dengan Lita."
Dain ingin menolak. Jesika menatapnya. Dain keluar, membawa Letta.
Di dalam, Jesika duduk, memegang tangan Lita yang tidak berinfus.
"USG pertama aman. Yang kedua nanti malam. Kamu tidak boleh mengaku kalah di berita. Kamu tidak pergi dari apartemen itu malam ini. Dain boleh bodoh, Freya boleh liar, kamu tidak boleh membuang anak ini karena dipermalukan."
"Saya takut Dain menikahi Freya tetap, lalu anak ini jadi aib."
"Kalau Dain menikahi Freya setelah hari ini, ibu yang tidak akan datang ke pelaminan. Itu bukan ancaman pada kamu. Itu pada anak ibu sendiri."
Lita menatap plafon. "Dain sudah tahu."
"Bagus. Biar dia mulai dewasa dari takut, bukan dari pesta."
Jesika menuang air ke gelas kertas, menuntun Lita minum sedikit.
"Ibu tidak menyesal membawa kamu ke dokter. Ibu menyesal tidak lebih cepat mengawasi Freya di depan publik. Orang ibu sudah laporkan pola Freya. Dain tidak percaya kertas. Dain percaya pipi yang dimanja. Hari ini pipi yang dimanja itu menampar kamu. Kalau Dain masih membela, ibu yang bicara ke Gavin."
"Jangan bentur Dain di depan saya. Dia sudah kelihatan pecah."
"Pecah itu bagus. Lebih bagus daripada utuh dan bodoh." Jesika merapikan selimut. "Kamu istirahat. USG malam. Ibu jaga pintu. Freya tidak lewat ibu."
Lita menggenggam ujung kain Jesika, ragu, lalu melepas. "Kalau anak ini laki-laki, saya sudah sempat pikir nama. Belum berani ucap."
"Simpan. Nama diucap setelah perut aman. Bukan setelah berita ramai."
Di luar, Dain menatap pesan Freya yang menumpuk.
Kamu di rumah sakit ya. Pengkhianat. Kamu pilih janda itu. Mama kamu juga ikut. Aku benci kalian.
Lalu satu pesan lagi, lebih pendek.
Aku hamil juga, hon. Jangan macam-macam.
Dain membaca dua kali. Jari-jarinya dingin. Di pangkuannya Letta mulai mengantuk. Di belakang pintu, ibunya menjaga Lita. Di layar, kekasih tujuh tahunnya mengirim kalimat yang sama persis dengan ketakutan yang baru saja diucapkan dokter.
Len, yang masih di kursi jauh, berdiri canggung. "Mas, saya izin. Nana butuh bantuan tutup buku. Kalau Mbak Lit perlu apa-apa, telpon."
"Hati-hati di depan. Jangan jawab yang minta komentar."
Len pergi. Ruang tunggu tinggal Dain, Letta, dan televisi sinetron yang tidak ditonton siapa-siapa.
Dain tidak membalas chat Freya. Dia mematikan data seluler sesaat, lalu menyalakannya lagi hanya untuk mengirim satu baris ke Orlando.
Freya kirim chat ngaku hamil. Cek. Jangan sebar.
Orlando membalas cepat: jangan bales. jangan telpon. gue pegang.
Dain menatap Letta yang sudah ketiduran di bahunya, mulut sedikit terbuka, jari masih memegang ujung dasi. Dia menurunkan anak itu pelan ke kursi, menyelimuti dengan jaket Orlando, lalu berdiri di depan pintu observasi tanpa masuk.
Di dalam, Jesika masih bicara pelan. Dain tidak menguping kata. Dia hanya mendengar nada: tegas, tidak manis. Nada yang dulu dia kira kejam ketika Momma menolak restu. Sekarang nada itu terdengar seperti pagar.
Seorang perawat lewat. "Bapak keluarga Ibu Lita? Jangan berdiri di depan pintu terus, ganggu brankar. Duduk."
Dain duduk. Punggungnya pegal. Dia membuka galeri, menutup lagi, membuka berita, menutup lagi. Satu akun menulis nama laundry lengkap. Satu akun menulis 'janda perebut pilot'. Dain ingin mengetik sanggahan. Dia menghapus. Gavin belum bilang boleh.
Lalu dia menatap pintu observasi, seolah di balik itu ada dua nyawa, dan di ponselnya ada satu klaim yang belum tentu nyawa.
"Om," Letta mengigau tanpa buka mata. "Jangan kasih Tante Frey masuk."
"Tidak." Dain mengusap rambutnya. "Tidur. Om jaga pintu."