Author POV
Dain menancapkan gas begitu mobilnya keluar dari area bandara. Lampu merah di depan sempat membuatnya mengumpat, tapi dia tidak berhenti lama. Tangan kanannya masih memegang kemudi, tangan kirinya membuka lagi pesan Orlando yang belum sempat habis ditontonnya.
Koper masih di jok belakang, sabuk pengaman belum sempat dikaitkan rapi, AC mobil masih dingin seperti kabin pesawat. Dain baru saja menyanyi kecil di koridor kedatangan. Sekarang tenggorokannya kering.
Video itu masih tersimpan di urutan paling atas.
Dua menit tadi dia hanya sempat melihat Freya berdiri di depan laundry Lita, rambut pirang di bagian bawahnya terkena lampu kamera, dan Lita yang baru keluar dari pintu kaca. Lalu Freya menarik tangan Lita. Lalu Freya berbicara ke wartawan. Dain menutupnya sebelum sempat melihat tamparan.
Tapi sekarang, di dalam mobil yang terus bergerak, dia memaksa dirinya menonton sampai habis. Dia bahkan menaikkan volume sampai speaker pintu bergetar, seolah kalau lebih kencang, gambar itu bisa jadi tidak nyata.
"Ini dia wanita yang saya ceritakan tadi."
Suara Freya di speaker ponsel terdengar lebih nyaring daripada di bandara tadi. Dain menelan ludah. Dia mengenal suara itu. Itu suara kekasihnya yang biasanya merengek minta sate taichan, minta tas, minta dicium. Bukan suara yang menunjuk orang di depan kamera.
Lita di video itu menunduk. Pipinya sudah pucat sebelum tamparan datang. Dain melihat tangan Freya menarik lengan kiri Lita sampai Lita hampir jatuh. Lalu dua kali suara plak. Lalu Letta muncul dari dalam, memukuli Freya, lalu didorong.
Dain menginjak rem lebih dalam daripada yang perlu ketika lampu kuning menyala. Klakson di belakang berbunyi. Dain tidak menoleh.
"Letta." Namanya keluar sendiri.
Anak kecil itu. Adik Barbie. Anak yang dulu bonekanya patah karena Dain menabraknya di cafe. Anak yang tidur di pangkuannya di balkon apartemen. Anak yang memanggilnya om baik. Anak yang dulu bilang om seperti ayah, lalu Dain langsung ingat Freya dan mengusir pikiran itu.
Freya mendorong anak itu.
Di video, tubuh kecil Letta mundur menabrak Lita. Lita jatuh. Suara orang-orang di sekitar tidak jelas, tapi Dain melihat mulut Lita terbuka, bukan untuk membela diri, untuk menahan sakit. Karyawan laundry di belakang kaca hanya berdiri. Dain ingin masuk ke dalam layar dan menarik Freya.
Dain memarkir semrawut di bahu jalan hanya untuk memutar ulang potongan itu. Bukan karena dia tidak percaya. Karena dia tidak mau percaya. Mobil bergoyang ketika sebuah motor lewat terlalu dekat. Dain tidak peduli. Jemari di layar menahan gambar Freya yang sedang tersenyum licik setelah tamparan.
Ponselnya bergetar lagi. Orlando.
"Elo sudah nonton?"
"Barusan. Loe dari mana dapat ini?"
"Portal sudah sebar, Dain. Ada juga yang live. Gue kirim yang paling jelas. Loe jangan ke Freya dulu. Cek Lita."
"Lita dimana?"
"Laundry. Tadi masih di laundry. Tapi karyawan sempat chat gue, mereka bawa ke rumah sakit. Perut. Elo dengar gue. PERUT."
Dain tidak menjawab. Dia sudah memutar stir.
"Dain. Jangan ngebut sampai loe jadi berita kedua."
"Gue telpon loe lagi."
Panggilan diputus. Dain menekan nomor Lita. Nada tunggu. Tidak diangkat. Ditekan lagi. Masih tidak diangkat. Nomor ketiga dia hampir menekan Freya, lalu bergeser ke Jon.
"Jon, gue butuh orang di laundry Lita. Sekarang. Usir kamera kalau masih ada. Jangan ribut. Jangan statement."
"Siap, Bos. Gue dengar sudah ada yang live. Elo aman?"
"Gue ke rumah sakit. Kabari Orl."
Dain menutup, lalu menekan nomor laundry. Diangkat oleh suara perempuan yang terputus-putus.
"Laundry Lita, dengan Nana."
"Mbak Nana, Dain. Lita dimana?"
"Mas Dain? Mbak Lit dibawa ke rumah sakit. Tadi perutnya... Letta ikut. Taksi. Rumah sakit yang deket lampu merah, yang ada taman di depannya. Mas cepat. Wartawan masih ada beberapa di depan toko."
"Nama rumah sakitnya?"
Nana menyebutkan. Dain mengingatnya. Dia pernah antar karyawan apartemen ke tempat itu. Lima belas menit kalau jalanannya waras. Hari ini dia tidak peduli waras atau tidak.
"Kunci toko. Jangan kasih keterangan ke kamera. Bilang pemilik sedang berobat. Jangan sebut nama saya."
"Baik mas."
Dain menutup telepon. Jantungnya tidak turun. Di kepalanya berganti-ganti: Lita menunduk, Freya menampar, Letta terdorong, Lita memegangi perut.
Perut.
Dain tidak mengerti kenapa kata itu membuatnya lebih takut daripada tamparan. Tamparan bisa diobati. Tapi Lita memegangi perut lalu minta dibawa ke rumah sakit. Dain bukan dokter. Dain hanya ingat Senja, istri Rolando, yang memegangi perut lalu semua orang langsung ribut.
"Jangan macam-macam, Tuhan. Lita bukan Senja. Lita tidak hamil. Kita tidak... astaga."
Dia menggeleng. Perjanjian mereka memang membuat mereka sering bersama. Lebih dari sekali. Lebih dari yang berani dihitungnya kalau dia sedang jujur. Tapi Lita tidak pernah bilang apa-apa. Lita selalu bilang dia hanya boneka. Lita selalu bilang cinta Dain tetap milik Freya.
Freya.
Dain menatap nama Freya di daftar panggilan. Jemarinya berhenti di atasnya, lalu turun. Bukan karena dia sudah tidak sayang. Karena kalau dia mendengar suara Freya sekarang, dia takut mulutnya lebih dulu keluar sebelum kepalanya selesai.
Mobil masuk ke jalan rumah sakit. Ada dua motor ojek menepi. Ada ibu-ibu membawa kantong obat. Dain memarkir di tempat yang bukan tempatnya, meninggalkan koper di jok, lalu berlari masuk.
"Permisi, pasien Lita. Baru masuk. Perut. Dibawa taksi. Ada anak kecil."
Petugas pendaftaran mengetik. "Ibu Lita? IGD. Lantai dasar, belok kiri. Tunggu di ruang tunggu kalau belum dipanggil."
Dain sudah belok kiri sebelum kalimat itu selesai.
Lorong IGD berbau alkohol dan AC yang terlalu dingin. Ada orang duduk memegang infus. Ada anak menangis di pangkuan ibunya. Ada laki-laki tua batuk di kursi pojok. Televisi kecil di sudut menayangkan sinetron, bukan berita, dan Dain bersyukur untuk hal kecil itu. Dain mencari rambut kecil yang biasa dikepang Lita.
Sebelum melihat Letta, Dain sempat membayangkan Lita masih di taksi, memegangi perut, malu meminta tolong pada pengemudi. Bayangan itu membuat langkahnya lebih cepat, sampai sepatunya berbunyi di ubin.
"Om baik!"
Letta berdiri dari kursi plastik oranye. Matanya bengkak. Baju rumahnya masih yang tadi, ada debu di lutut. Dia berlari dan menabrak pinggang Dain tanpa izin.
"Om baik datang. Bunda sakit. Tante Frey jahat. Tante dorong Letta, bunda jatuh, perut bunda. Om jangan marah Letta ya. Letta pukul tante."
Dain berlutut. Tangannya gemetar ketika mengusap kepala Letta.
"Om tidak marah. Kamu jaga bunda. Om yang salah terlambat. Bunda dimana sekarang?"
"Dalam. Suster bawa. Letta tidak boleh masuk. Mbak Nana telpon om. Om lama."
"Om dari pesawat. Sekarang om sudah di sini."
Seorang karyawan laundry, Len, bangkit dari kursi seberang. Matanya masih takut.
"Mas Dain. Mbak Lit dari tadi minta jangan ribut. Tadi sempat pingsan sebentar di taksi, terus sadar lagi. Dokter masih periksa."
"Pingsan."
"Iya mas. Pipinya bengkak. Tangan kirinya lecet. Tapi yang dia pegang terus perutnya."
Dain berdiri. Dia ingin masuk. Dia ingin membanting pintu IGD. Dia juga ingin menelpon Freya dan bertanya dengan suara yang tidak pernah dipakainya selama tujuh tahun. Dia tidak melakukan semuanya. Dia hanya berjalan ke meja suster.
"Saya keluarga. Jourdain. Saya mau tahu kondisi Ibu Lita."
Suster menatap seragam pilot yang masih dipakainya, lalu menatap wajahnya. "Bapak tunggu. Dokter masih di dalam. Nanti dipanggil."
"Saya tidak bisa menunggu tanpa kabar."
"Bapak tetap harus menunggu."
Dain kembali ke kursi. Letta naik ke pangkuannya, kecil, hangat, masih tersedu pelan. Dain mengendus rambut anak itu. Bau detergen laundry. Bukan parfum Freya.
Ponselnya bergetar. Freya. Foto mereka di cafe favorit muncul di layar. Dain menatapnya sampai getaran berhenti. Lalu pesan masuk.
Hon, jangan percaya berita. Aku yang benar. Lita yang mulai. Kamu pulang ke aku.
Dain mengetik, lalu menghapus. Mengetik lagi.
Dimana kamu.
Di apartemen. Wartawan sudah aku suruh pulang. Kamu jangan ke laundry. Memalukan.
Dain menutup aplikasi. Letta mengangkat wajah.
"Om telpon Tante Frey?"
"Tidak."
"Jangan. Tante jahat. Tante punya cowok lain. Letta pernah lihat. Jangan bilang bunda, bunda nanti sedih."
Dain menatap anak itu. Kalimat itu terlalu besar untuk mulut sekecil itu. Dain ingin bertanya. Dain menahan. Bukan di IGD. Bukan ketika Lita masih di dalam.
Pintu IGD terbuka. Dokter keluar sambil melepas sarung tangan.
"Keluarga Ibu Lita?"
Dain berdiri begitu cepat sampai Letta hampir jatuh. Dia menggendong anak itu.
"Saya. Bagaimana?"
"Ibu sadar. Bukan perdarahan dalam yang berat, tapi ada memar di dinding perut dan pipi. Kami masih cek laboratorium dan USG. Ada yang perlu dibicarakan terpisah. Bapak ikut sebentar. Anaknya dititip dulu."
Dain menatap Letta. Len mengulurkan tangan.
"Sama Mbak Len ya sayang. Om sebentar."
Letta mengangguk, meski tangannya masih mencengkeram dasi Dain sebelum melepas.
Dain mengikuti dokter ke ruang kecil berlapis kaca buram. Ada formulir. Ada pena. Ada poster cuci tangan.
"Bapak suami pasien?"
Dain terdiam sedetik terlalu lama. "Saya yang tanggung jawab."
Dokter mengangguk pelan, seolah sudah sering mendengar jawaban seperti itu. "Ibu minta hasil USG tidak dibicarakan di depan anak. Ibu juga minta kalau Bapak datang, Bapak masuk. Ibu sudah setuju Bapak diberi tahu satu hal: kami harus pastikan kandungannya aman."
Dain memegang tepi kursi. Kursi itu tidak goyang. Yang goyang dadanya.
"Kandungan."
"Ibu sudah tahu sebelumnya. Usia kehamilan masih muda. Trauma perut dari dorongan tadi berisiko. Detak masih ada, tapi Ibu harus rawat inap malam ini. Jangan stres. Jangan dipaksa bicara panjang dengan orang yang baru saja menyerangnya."
Dain mendengar kata-kata itu satu-satu, seperti instruksi menara yang masuk di telinga ketika cuaca buruk.
Lita hamil.
Lita sudah tahu.
Dain tidak tahu.
Dan Freya mendorongnya di depan kamera.
"Saya boleh masuk?"
"Boleh. Singkat. Ibu masih mual."
Dain keluar dulu hanya untuk menatap Letta dari jauh, mengangguk, lalu masuk ke ruang tindakan.
Lita berbaring dengan infus di punggung tangan kanan. Pipi kirinya memerah kebiruan. Bibirnya pecah sedikit. Tangannya yang bebas memegang selimut tepat di atas perut, seolah kalau dilepas isinya akan hilang.
"Dain." Suaranya serak. "Kamu tidak usah kesini. Pergi. Aku sudah janji sama Freya aku akan pergi dari hidup kalian."
Dain berdiri di sisi ranjang. Dia tidak langsung memegang. Dia takut tangannya kasar. Dia takut Lita kira ini nafsu. Dia takut Lita kira ini belas kasihan.
"Aku baru mendarat. Aku nonton videonya. Letta di luar. Kamu pingsan di taksi. Jangan bilang aku pergi."
Lita menoleh ke dinding. Air matanya jatuh ke bantal, bukan ke pipi yang memar.
"Aku malu. Seluruh kota dikasih tau aku janda peleceh. Laundryku. Letta. Kamu. Freya benar, aku yang salah dari awal. Perjanjian itu salah."
"Freya tidak boleh menampar kamu di depan kamera. Freya tidak boleh dorong Letta. Itu bukan salah perjanjian. Itu tangan Freya."
Lita tertawa kecil, pahit, lalu meringis karena perutnya tertarik.
"Kamu masih belain aku. Jangan. Nanti kamu benci aku lebih cepat."
Dain menunduk, dahinya hampir menyentuh punggung tangan Lita yang terpasang infus.
"Dokter bilang kamu harus rawat inap. Aku yang urus. Jangan pikir laundry. Jangan pikir janji pergi malam ini."
Lita menatapnya. Lama. Seolah menimbang apakah Dain sudah diberi tahu soal kandungan, atau belum.
"Kamu sudah dengar dari dokter?"
Dain mengangkat wajah. Matanya basah, aneh untuk laki-laki yang tadi pagi masih menyanyi di koridor bandara.
"Dengar. Satu kalimat. Kamu sudah tahu lebih dulu. Aku yang bodoh."
Lita menutup mata. Bukan karena tenang. Karena kalau dibuka, Dain akan melihat takut yang lebih besar daripada tamparan Freya.
"Jangan kasih tau siapa-siapa dulu. Apalagi Freya. Apalagi portal. Ini bukan untuk merebut kamu. Ini... Tante Jesika yang..."
Kalimat itu terputus. Lita menarik napas, lalu menyambung pelan, seolah tiap kata bisa didengar tembok.
"Beberapa hari lalu Tante Jesika bawa aku ke rumah sakit. Bukan karena sakit. Karena aku sudah telat, dan aku takut sendiri. Aku minta waktu tiga hari. Aku terima. Bukan untuk jebak kamu. Untuk anak ini punya orang yang berani, kalau kamu tidak. Sekarang perutku dipukul di depan kamera. Aku takut hukuman itu datang lebih dulu daripada pengakuan."
Dain ingin bilang dia akan mengaku. Mulutnya tidak jalan. Yang keluar hanya,
"Aku di sini. Malam ini aku di sini. Sisanya jangan kamu pikul sendiri di IGD."
Suster masuk membawa tensimeter. Dain mundur selangkah, masih memegang ujung selimut. Suster memasang manset, menyebut angka, lalu menatap Dain.
"Bapak jangan bikin pasien ngomong panjang. Nanti tekanan naik lagi."
"Iya. Maaf."
Setelah suster keluar, Dain menyeka pelipis Lita dengan tisu. Gerakannya kaku. Lita membiarkan.
"Letta jangan dikasih tau soal adik. Kalau malam ini jelek, biar dia ingat bunda cuma pusing."
"Tidak akan jelek." Dain mengucapkannya seperti orang yang tidak punya wewenang menjamin, tapi tetap harus mengucap.
Di luar, ponsel Dain bergetar lagi. Bukan Freya. Bukan Orlando.
Momma.