Author POV
Pagi taman, bukan Dufan, bukan Disneyland, bukan pesta, dan Dain tidak mengira ia pernah mendengar nama ini di masa depan, karena ini bukan kenangan: ini hari.
Kaos. Bukan kerah. Ember tidak dibawa, aneh. Gorden di rumah turun. Portal mati. Ponsel di saku, tidak dibuka. Laci di rumah tertutup. Jam jelek di kulkas, magnet sudah ditekan semalam. Lita di taman, lebih kuat, lebih capek, kacamata, komando pelan. Letta hakim, kaki lari, barbie kadang, bola kadang. Zhafran kecil, tangan, tawa, hilang di balik pohon rendah.
"Dik Zhafran, kamu di mana dik? Adik." Letta mencari, tidak panik pesta, panik hakim. Lita berdiri, memanggil, bukan judul. "Zhafran. Zhafran kamu di mana nak." Dain di samping, tidak ngegas, tidak hon, tidak cafe tujuh tahun, hanya jalan, muka ember yang sudah jadi muka ayah.
Mereka ketemu di dekat keran, bola dicuci, tangan basah, tawa. Lita gumam pelan, air di mata, tidak pesta. "Kakak, adik, maafin bunda. Bunda hanya bisa taman dulu. Doakan tabungan. Dufan nanti. Sekarang taman. Titik." Letta mengangguk, hakim yang sudah hafal. "Taman lulus. Dufan nanti. Nama di rumah. Sekolah titik. Om pulang. Hakim jaga."
Dain tidak membeli tas. Tidak membeli cincin di kaki pohon. Tidak membeli selesai. Ia jongkok, sejajar Letta, sejajar Zhafran. "Dekat. Pulang. Taman. Titik. Tidak kabur. Tidak ngegas. Tidak beli selesai." Lita menepuk punggung tangannya, komando. "Pendek. Bagus. Pulang sebelum lapar jadi toko. Ember di rumah. Jam jelek. Magnet. Sofa. Atau kasur tanpa judul. Cukup."
Mereka pulang. Kode dua. Rantai. Gorden. Portal mati. Telur atau bubur. Enam suap yang bisa. Letta luluskan. Zhafran di rumah. Freya tidak masuk ke hari ini. Paragraf lama jadi debu. Damai tidak dibeli. Mulut tidak dibeli. Nama tidak dijual.
Malam Lita di ambang, terakhir di buku ini, bukan terakhir di hidup.
"Dain. Tamat di kertas, bukan di kita. Kita beli pulang. Kita beli titik. Kita beli taman. Kita beli nama di rumah. Kita tidak beli selesai. Sofa boleh. Kasur boleh. Cincin jangan karena takut. Tas jangan. Kalau kamu terbang, kabari. Kalau mual, dulu Mom, sekarang kita. Kalau judul, sapu. Kalau ember, pakai. Kalau tidak, menganggur. Magnet tekan. Titik."
"Pulang. Titik. Tidak selesai. Taman. Zhafran di rumah." Dain tekan magnet, cek rantai, cek gorden, cek laci, cek dua anak, cek Lita yang tidak kunci. Ember di lantai. Portal mati. Rumah tidak pecah. Letta berbisik ke barbie, Zhafran sudah tidur. "Taman lulus. Om pulang. Bunda titik. Hakim jaga. Hidup jalan. Tidak pesta."
Dain memiringkan tubuh, tidak harus kaki menggantung, tetap tidak pesta, tetap tidak lagu, dan untuk malam ini, seperti malam-malam yang mereka beli sejak sofa pertama: hanya pulang, hanya diam rumah, hanya nama yang tidak dijual, hanya taman dulu, hanya tidak beli selesai.
TAMAT
Siang panjang, panas di balik gorden, rumah tidak buka jendela lebar. Dain tidak portal, tidak grup, tidak lagu. Lita angka, koreksi satu, puas. Letta bagi, Dain salah desimal, dibetulkan, pelan, Lita menyela: "Jangan ajar ngegas di soal." Dain pelan. Letta luluskan om. Nana aman. Jon sepi. Dain menyapu remah, Lita mengkritik sudut, Letta meniru sapu di udara. Kerja kecil, bukan judul. Dain cuci ember yang tidak terpakai, keringkan, taruh. Letta membantu berlebihan, Lita: cukup. Ember menganggur bagus. Ponsel di mangkuk bagus. Laci tertutup bagus. Magnet longgar, Dain tekan. Freya tidak chat ke dia. Diam licin. Mereka tidak gigit. Jesika cukup chat. Gavin pelan. Orl monitor, jangan buka. Dain tidak buka.
Sore mereka tetap koridor tiga, bukan lima, Lita di kusen, bukan lobby. Tetangga menunduk, satu hampir buka mulut, Dain sudah menunduk lebih dulu. Masuk, rantai, gorden, portal mati. Mereka makan. Telur atau bubur, hakim menimbang, luluskan. Lita makan yang bisa, damai. Dain berdiri atau duduk tanpa kursi kepala. Tidak TV. Tidak radio. Letta tanya pendek, serius, titik. Dain berjongkok, sejajar. "Dekat. Pulang. Titik." Cukup itu tema. Bukan selesai. Bukan piala. Cukup. Dain cuci piring, keringkan, salah letak gelas, Lita komando dari sofa, rumah berbunyi kerja.
Malam sebelum benar-benar tidur, Dain cek ember, cek rantai, cek gorden, cek laci jika ada, cek Lita yang sudah tutup pintu, tidak kunci. Ponsel jauh dari lapar berita. Somasi atau diam atau roster, semuanya bukan izin hon. Jam jelek tetap. Magnet longgar, Dain tekan. Tidak beli selesai. Beli tekan magnet. Beli tidur. Beli tidak kabur. Beli tidak buka grup. Beli titik di mulut Letta. Kaki kadang menggantung, kadang tidak. Ember di lantai. Portal mati. Rumah tidak pecah. Letta berbisik ke barbie, Dain dengar samar, tidak masuk. Hakim jaga. Om pulang. Titik. Dain tersenyum kecil di gelap, tidak pesta, tidak lagu, cek rantai sekali lagi, gerakan bodoh, tekan magnet sekali, lalu memaksa dirinya tidur sebelum kepala jadi toko.
Siang panjang, panas di balik gorden, rumah tidak buka jendela lebar. Dain tidak portal, tidak grup, tidak lagu. Lita angka, koreksi satu, puas. Letta bagi, Dain salah desimal, dibetulkan, pelan, Lita menyela: "Jangan ajar ngegas di soal." Dain pelan. Letta luluskan om. Nana aman. Jon sepi. Dain menyapu remah, Lita mengkritik sudut, Letta meniru sapu di udara. Kerja kecil, bukan judul. Dain cuci ember yang tidak terpakai, keringkan, taruh. Letta membantu berlebihan, Lita: cukup. Ember menganggur bagus. Ponsel di mangkuk bagus. Laci tertutup bagus. Magnet longgar, Dain tekan. Freya tidak chat ke dia. Diam licin. Mereka tidak gigit. Jesika cukup chat. Gavin pelan. Orl monitor, jangan buka. Dain tidak buka.
Sore mereka tetap koridor tiga, bukan lima, Lita di kusen, bukan lobby. Tetangga menunduk, satu hampir buka mulut, Dain sudah menunduk lebih dulu. Masuk, rantai, gorden, portal mati. Mereka makan. Telur atau bubur, hakim menimbang, luluskan. Lita makan yang bisa, damai. Dain berdiri atau duduk tanpa kursi kepala. Tidak TV. Tidak radio. Letta tanya pendek, serius, titik. Dain berjongkok, sejajar. "Dekat. Pulang. Titik." Cukup itu tema. Bukan selesai. Bukan piala. Cukup. Dain cuci piring, keringkan, salah letak gelas, Lita komando dari sofa, rumah berbunyi kerja.