Pagi pada tanggal yang mereka pilih akhirnya datang tanpa permintaan mengubah jadwal. Laura sudah bangun sebelum Kimmy mengetuk pintu. Ia memeriksa barang yang hendak dibawa, lalu duduk kembali karena menyadari tangannya mencari pekerjaan hanya untuk mengatasi gugup. Di meja, sarapan masih hangat dan belum disentuh.
'Makan dulu,' kata Kimmy sambil meletakkan tas kecil. 'Barangmu tidak akan berjalan sendiri.'
Laura tertawa dan mengambil sendok. Fiona datang memperlihatkan ujung lengan yang terasa mengganggu. Kimmy membantu melipatnya dengan rapi setelah bertanya apakah boleh. Zio memilih menunggu bersama Vania sebelum masuk ke ruang akad. Kemejanya sudah dikenakan, tetapi ia belum ingin berada di antara tamu yang mulai berdatangan.
Laura menghampiri putranya sebentar. Ia tidak menanyakan ulang apakah Zio benar-benar mendukung pernikahan itu. Mereka sudah membicarakan kehadirannya, dan pagi ini bukan waktu menjadikan rasa gugup sebagai alasan meminta jaminan baru dari seorang anak.
'Vania tahu tempat menunggunya,' katanya. 'Kalau butuh Ibu, sampaikan lewat dia.'
Zio mengangguk. Laura menyentuh bahunya setelah ia mendekat, lalu kembali menyelesaikan persiapan. Ia ingin anak-anak mengetahui dirinya dapat dijangkau, tetapi tidak ingin mereka merasa harus mengawasi perasaannya sepanjang hari.
Di ruangan akad, Lee duduk dengan kedua tangan yang beberapa kali dirapikan di atas lutut. Ayahnya berada tidak jauh, berbicara pelan kepada salah seorang tamu. Ketika melihat Laura datang, Lee berdiri sebentar dan tersenyum. Laura membalas senyum itu sebelum mengambil tempat yang telah disiapkan.
Petugas memeriksa kelengkapan terakhir sesuai persiapan mereka. Wali nikah yang telah dipastikan berhak hadir bersama para saksi. Mahar yang disepakati tersedia, dan Laura kembali dimintai penegasan kesediaannya. Ia menjawab dengan suara yang cukup jelas untuk didengar, tanpa menyerahkan jawabannya kepada orang lain.
Saat ijab kabul berlangsung, Laura mendengar nama lengkapnya disebut. Elvina Laura Arzella. Nama yang dahulu pernah diucapkan dalam urusan rumah tangga yang akhirnya selesai, nama yang tercantum pada kontrak kerja, serta nama yang masih menjadi miliknya ketika semua peran tersebut berubah.
Lee mengucapkan kabul dengan suara sedikit tegang. Setelah pemeriksaan dan pengesahan oleh pihak yang bertugas, ruangan dipenuhi ucapan syukur. Laura menarik napas panjang yang baru disadarinya telah tertahan. Lee menoleh kepadanya, seolah ingin memastikan bahwa perempuan yang dilihatnya benar-benar sedang tersenyum.
Zio masuk bersama Vania setelah akad dimulai dan memilih kursi dekat pintu. Ia tidak dipanggil maju ketika prosesi selesai. Fiona duduk di depan bersama pendamping yang telah disepakati, lalu menghampiri Laura ketika ada ruang di antara tamu. Ia memandang cincin, menyentuh tangan ibunya, dan bertanya apakah sekarang boleh minum.
'Boleh,' jawab Laura sambil menahan tawa. 'Kita minum dulu.'
Pertanyaan itu membuat ketegangan yang tersisa luruh. Kimmy mengambilkan air, dan Laura meminumnya sebelum menerima tamu berikutnya. Tidak ada yang meminta Fiona mengulang pelukan untuk kamera. Fotografer mengikuti daftar yang telah dibicarakan dan mengarahkan pengambilan gambar kepada orang dewasa yang bersedia.
Ayah Lee menyampaikan ucapan singkat pada makan siang. Beliau mengakui bahwa telah banyak hal dipelajari keluarganya sejak pertemuan pertama dengan Laura. Ia mendoakan pasangan itu tanpa meminta Zio dan Fiona membalas dengan panggilan baru atau berdiri sebagai bukti bahwa semua orang telah merasa sama.
Laura mengucapkan terima kasih. Ketika beliau kembali duduk, ia teringat makan malam pertama yang dijalaninya sambil menyimpan kebenaran penting. Perasaan hangat hari ini tidak menghapus kesalahan tersebut. Justru karena kebenarannya telah diucapkan, ia dapat menerima ucapan selamat tanpa sibuk mempertahankan sebuah cerita palsu.
Daniel datang bersama Mira yang telah mengonfirmasi kesediaannya beberapa minggu sebelumnya. Mereka mengucapkan selamat tanpa membahas urusan kantor di meja makan. Sam menyapa Lee, kemudian meminta izin mengambil foto bersama pasangan. Kimmy dan Vania bergantian makan sehingga bantuan mereka tidak berarti harus melewatkan seluruh hidangan.
Zio menghabiskan makanan pembuka, lalu memberi tahu Vania ingin beristirahat di tempat yang telah ditentukan. Laura melihat mereka keluar dari kursi dekat pintu dan mengangguk ketika Vania memberi tanda. Tidak ada panggilan melalui pengeras suara atau tamu yang diminta membujuknya kembali.
Fiona bertahan lebih lama. Ia menikmati ayam dengan saus terpisah dan memperlihatkan kepada Laura bahwa lengan bajunya sudah nyaman. Ketika mulai lelah, ia meminta menyusul kakaknya. Kimmy mengantarnya setelah memastikan Vania telah menerima pesan. Laura tetap dapat makan bersama Lee tanpa mengubah kepergian anak-anak menjadi kejadian yang harus dijelaskan kepada semua tamu.
Ucapan Brian masuk ke telepon Laura pada siang itu. Pesannya singkat, ditujukan kepadanya, tanpa permintaan bertemu anak-anak melalui acara pernikahan. Laura membacanya pada jeda yang tenang dan membalas terima kasih. Ia tidak meneruskan pesan tersebut sebagai sesuatu yang harus dijawab Zio atau Fiona.
Sesudah tamu terakhir berpamitan, Laura duduk sebentar di ruangan yang mulai dirapikan. Lee menarik kursi ke sampingnya. Ada remah makanan di ujung meja dan pita yang terlepas dari sebuah buket. Tidak semua benda tampak seperti gambar persiapan, tetapi Laura tidak ingin mengulang bagian mana pun demi mendapatkan foto yang lebih sempurna.
'Kamu lelah?' tanya Lee.
'Sangat. Tapi aku senang.'
Laura merapikan ujung hijab yang sedikit bergeser. Lee menawarkan air, lalu menunggu sementara ia minum. Untuk beberapa menit mereka duduk tanpa menerima siapa pun, membiarkan hari yang ramai itu perlahan menjadi kenangan yang dapat dinikmati sendiri.
Mereka pulang sesuai rencana yang telah dibicarakan. Malam itu Laura makan bersama anak-anak di rumahnya, sementara Lee datang untuk waktu singkat sebelum kembali ke rumahnya sendiri. Mereka tetap suami istri ketika menutup dua pintu yang berbeda. Pilihan tersebut tidak perlu dibuktikan kepada tamu yang telah pulang.
Sebelum berpisah, Lee menggenggam tangan Laura di teras. Kali ini tidak ada kotak cincin yang disimpan kembali dan tidak ada pertanyaan yang dibiarkan menggantung. Laura mendekat, mencium pipinya, lalu mengingatkan jadwal makan bersama yang sudah mereka tentukan selama cuti. Lee mengangguk sambil tersenyum. Kehidupan sesudah akad dimulai dengan sebuah janji sederhana yang dapat mereka tepati esok hari.