Laura datang ke kafe pada Sabtu siang dengan waktu yang sudah dibicarakan. Anak-anak mempunyai rencana di rumah bersama pendamping yang telah bersedia, dan ia tidak perlu kembali tergesa-gesa karena sesuatu yang lupa diatur. Namun ketika melihat Lee menunggunya, ia merasakan kesungguhan yang berbeda dari pertemuan sebelumnya.
Mereka memesan minum dan berbicara sebentar tentang pekan yang lewat. Lee mendengar cerita pekerjaan secara umum, kemudian mengatakan ada hal pribadi yang ingin dibicarakan. Laura mengangguk, meletakkan ponsel agar dapat mendengar dengan utuh.
'Aku ingin tahu apakah kita bisa menjalani hubungan yang eksklusif,' kata Lee. 'Bukan peran. Aku ingin berkomitmen kepadamu dan mengetahui apakah kamu menginginkan hal yang sama.'
Laura tidak langsung menjawab. Ia sudah beberapa kali membayangkan pertanyaan itu, tetapi membayangkan dan mendengarnya mempunyai akibat berbeda. Tidak ada kontrak yang mengharuskannya menerima. Justru karena kini ia dapat memilih, ia perlu menjawab dengan jujur.
'Aku senang bertemu denganmu,' katanya. 'Ada perasaan yang tumbuh. Tapi aku belum siap mengatakan iya untuk komitmen itu.'
Lee memandangnya tanpa segera membantah. Ia bertanya apakah masih ada sesuatu mengenai pekerjaan yang belum terasa aman. Laura mengatakan pengaturan kerja penting, tetapi ketidaksiapannya tidak hanya dapat diselesaikan dengan memperbaiki satu dokumen atau mengganti garis penilaian.
'Aku baru keluar dari kebiasaan memikirkan apa yang diharapkan orang lain,' lanjutnya. 'Aku ingin mengenali apa yang kuinginkan tanpa merasa terlambat kalau jawabannya belum sama dengan keinginanmu.'
'Aku bisa memberi waktu.'
'Waktu itu juga tidak boleh menjadi janji bahwa aku pasti akan menjawab iya.'
Lee mengangguk perlahan. Ia memutar gelas sedikit, kemudian mengakui dirinya berharap kedekatan beberapa bulan terakhir dapat bergerak menuju sesuatu yang lebih jelas. Ia tidak mengatakan harapan tersebut membuat Laura wajib berada pada tempat yang sama.
Laura menghargai keterusterangan itu. Ia tidak ingin Lee menyembunyikan kebutuhannya hanya agar tampak sabar, lalu kelak menagih semua waktu yang diberikan. Mereka sama-sama perlu mengetahui apa yang sedang diminta dan apa yang belum dapat dijanjikan.
Lee mengatakan setelah kehilangan istrinya, ia cukup lama menghindari membayangkan hubungan lain yang nyata. Peran yang dahulu dimintanya kepada Laura semula terasa seperti cara menghindari pertanyaan tanpa harus mempertaruhkan perasaan. Kini justru ia menginginkan sesuatu yang tidak dapat dibeli melalui pengaturan tersebut. Laura mendengar penjelasan itu dengan dada terasa berat. Ia mengerti keberanian Lee menyebut keinginannya, tetapi kehilangan yang pernah dialami tidak memberinya jawaban yang dapat langsung diberikan. Ia tidak ingin menghibur dengan persetujuan yang nantinya harus ditarik kembali ketika mereka sudah lebih jauh melangkah.
'Kalau kamu merasa hubungan tanpa komitmen ini tidak cukup, kamu boleh mengatakannya,' katanya. 'Aku tidak ingin kamu diam-diam menunggu dengan rasa kesal.'
'Aku ingin berpikir dulu,' jawab Lee. 'Karena aku memang menginginkan kejelasan.'
Mereka membicarakan apa arti pertemuan berikutnya. Untuk sementara, keduanya masih dapat memilih bertemu tanpa menyebut diri sebagai pasangan eksklusif. Tidak ada hak mengawasi pesan atau mempersoalkan percakapan Laura dengan orang lain berdasarkan aturan lama yang sudah berakhir.
Lee juga boleh menolak pertemuan jika keadaan tersebut terlalu berat baginya. Laura tidak ingin dirinya menjadi pihak yang sekarang meminta seseorang menyesuaikan diri tanpa batas. Kedekatan tidak membuat kebutuhan salah satu lebih benar dari yang lain.
Suara mesin kopi memenuhi jeda. Laura memandang orang yang sedang mengambil pesanan di sisi ruangan, memberi keduanya waktu sebelum kembali berbicara. Ia merasa sedih karena jawaban yang jujur dapat mengecewakan, tetapi tidak ingin mengubahnya hanya untuk mengembalikan suasana menyenangkan.
'Aku tidak sedang membandingkanmu dengan Brian,' katanya kemudian. 'Aku juga tidak meminta kamu membuktikan kesetiaan dengan melakukan lebih banyak hal untuk anak-anak.'
'Aku tahu.'
'Kalau kita melangkah, aku ingin itu karena kita berdua menginginkan, bukan karena kamu sudah terlalu banyak membantu untuk kutolak.'
Lee mengatakan ia memahami perbedaan tersebut, meskipun tetap merasa kecewa. Laura tidak meminta maaf berkali-kali sampai percakapan berubah menjadi tugas menghibur lelaki di depannya. Ia menerima bahwa perasaan itu ada, tanpa menjadikannya alasan memberi jawaban yang tidak benar.
Mereka menghabiskan minum lebih pelan daripada biasanya. Tidak ada pembicaraan mengenai lamaran atau tinggal bersama. Pertanyaan hari ini baru mengenai eksklusivitas, dan bahkan untuk itu mereka belum mempunyai jawaban yang sama.
Sebelum berpisah, Laura meminta agar topik tersebut tidak diulang setiap kali mereka bertemu. Ia bersedia memberi tahu jika keinginannya berubah. Lee menyatakan dapat mengatakan jika ia tidak sanggup melanjutkan keadaan sementara ini, tetapi tidak akan memakai setiap pertemuan untuk meminta jawaban baru.
'Kita perlu jujur kalau sudah tidak nyaman,' katanya.
'Iya. Itu berlaku untuk kita berdua.'
Laura pulang dengan perasaan yang tidak seringan ketika datang. Di rumah, Fiona menanyakan apakah ibunya ingin makan. Ia menjawab iya dan membantu menaruh piring. Anak-anak tidak diberi tugas mendengar seluruh perdebatan tentang komitmen.
Ketika Zio bertanya apakah Lee akan datang besok, Laura menjawab tidak ada rencana. Jika nanti ada undangan, ia akan membicarakan lebih dulu. Ia tidak menjadikan ketidaksiapan anak-anak sebagai alasan atas jawabannya sendiri kepada Lee.
Malam itu ia duduk sebentar setelah semua tidur. Ia memikirkan apakah dirinya terlalu banyak meminta waktu atau sekadar takut memilih. Tidak ada jawaban yang dapat ditemukan dengan menuduh diri sendiri tidak bersyukur. Ia menuliskan apa yang disukai dalam hubungan itu dan apa yang masih membuatnya berhenti, lalu menyimpan catatan tanpa mengirimkannya sebagai penjelasan panjang kepada Lee.
Pesan singkat datang sebelum ia beristirahat. Lee berterima kasih karena ia menjawab dengan jujur dan mengatakan ia juga perlu waktu memikirkan keinginannya. Laura membalas bahwa ia menghargai percakapan mereka.
Ia menaruh ponsel. Tidak ada kepastian baru malam itu, tetapi setidaknya ketidakpastian tersebut disebut dengan benar. Ia belum menerima komitmen, dan Lee tidak diwajibkan menunggu selamanya. Sesuatu yang sungguh-sungguh tidak harus dimulai dengan dua orang berpura-pura sudah menginginkan masa depan yang sama.