Awal pekan berikutnya, Laura menemui Rani untuk membahas koreksi setelah peluncuran. Ia membawa satu daftar yang sudah disatukan, membedakan perubahan yang masih termasuk lingkup awal dan tambahan yang memerlukan kesepakatan biaya baru. Rani membaca sambil menandai bagian yang perlu penjelasan.
'Kalau gambar tas dan kotak diubah, aku perlu tahu pesan akhirnya,' katanya. 'Jangan sampai aku mengganti benda, tapi pembacanya tetap bingung.'
Laura mengangguk. Mereka membicarakan maksud kegiatan dan menyerahkan pertanyaan isi kepada pihak pendidikan. Setelah jawaban jelas, Rani dapat mengerjakan sesuai jadwal. Tidak ada permintaan agar ia menggambar lebih dulu sambil menunggu apakah pekerjaan tersebut akan dibayar.
Bu Sari menyetujui tambahan yang diperlukan melalui anggaran persiapan. Rani menerima kesepakatan sebelum mulai, lalu menunjukkan dua pilihan tampilan. Laura memilih berdasarkan kebutuhan pembaca, bukan karena salah satu lebih mudah dipuji pada laporan kepada mitra.
Di rumah, Zio justru memikirkan sesuatu yang jauh dari gambar program. Tim sekolahnya akan bertanding Sabtu. Ia ingin Laura datang, tetapi meminta ibunya tidak berteriak memberi petunjuk dari pinggir lapangan.
'Aku bisa memberi semangat?' tanya Laura.
'Boleh. Jangan bilang aku harus lari ke mana.'
Laura tersenyum dan menerima. Ia memeriksa kalender, memastikan tugas pada Sabtu dapat disiapkan lebih dulu. Pertandingan itu tidak perlu dipakai sebagai kesempatan mengundang semua orang yang sedang mencoba mendekati keluarganya.
Zio mengatakan ia sudah memberi kabar kepada Brian melalui pesan. Ia belum tahu apakah ingin berbicara setelah pertandingan. Laura menjawab memberi kabar tidak sama dengan membuat janji bertemu. Jika Brian datang, mereka tetap dapat mengikuti rencana pulang yang disepakati.
Fiona ingin menonton sebagian pertandingan dan duduk bersama Vania yang kebetulan dapat hadir setelah diajak. Laura memastikan sahabatnya bersedia, tidak menganggap bantuan sebelumnya membuatnya otomatis menjadi pendamping untuk setiap kegiatan anak-anak.
Pada Jumat malam, Zio memeriksa perlengkapan berkali-kali. Laura menanyakan apakah ada yang belum ditemukan. Ia menjawab semua sudah ada, hanya merasa gugup. Laura tidak mengatakan gugup berarti akan bermain lebih baik. Ia membantunya menyimpan barang pada tempat yang mudah diambil lalu mengingatkan waktu tidur.
Sabtu, mereka tiba sesuai arahan sekolah. Laura menempati sisi penonton bersama orang tua lain. Fiona duduk bersama Vania agak menjauh dari kerumunan yang paling ramai, tetap di tempat yang diketahui Laura. Mereka menyepakati cara saling menghubungi jika perlu berpindah.
Zio melihat mereka sebelum masuk lapangan. Ia mengangkat tangan sebentar, lalu kembali kepada timnya. Laura menahan keinginan memberi banyak nasihat. Anak itu mempunyai pelatih dan rekan bermain; ia datang untuk mendukung, bukan mengambil alih setiap keputusan.
Pertandingan berlangsung ketat. Zio sempat membuat umpan yang tidak sampai kepada temannya, kemudian berhenti terlalu lama setelah kehilangan bola. Laura merasakan tubuhnya ikut tegang, tetapi tidak meneriakkan perintah yang sudah diminta untuk dihindari.
Ia memberi semangat ketika ada kesempatan baik. Zio kembali bergerak mengikuti arahan tim. Tidak semua langkah berhasil, dan beberapa kesalahan juga dibuat pemain lain. Dari tempat duduk, mudah sekali membayangkan hasil yang lebih baik seandainya seseorang memilih gerakan berbeda. Laura mengingatkan dirinya bahwa ia tidak berada di lapangan.
Ketika tim mendapat jeda, Zio duduk membungkuk untuk mengatur napas. Seorang temannya menepuk bahunya, lalu menunjuk bagian lapangan sambil berbicara kepada pelatih. Laura tidak dapat mendengar kata-katanya dari jauh. Ia hanya melihat putranya mengangguk, meneguk air, dan kembali berdiri ketika diminta bersiap. Ada bagian pengalaman anaknya yang tidak dapat diikuti sampai ke dalam percakapan itu. Laura menerima jarak tersebut, memilih menunggu daripada melambaikan tangan agar Zio terus memandang penonton untuk memperoleh arahan lain. Ketika permainan berlanjut, ia bertepuk bersama orang tua lain dan menyebut nama tim, bukan meneriakkan kesalahan satu pemain.
Tim Zio akhirnya kalah tipis. Para pemain saling mendekat setelah pertandingan, sebagian menatap tanah dan sebagian berbicara cepat tentang bagian yang tadi terlewat. Laura menunggu sampai pelatih selesai sebelum memanggil putranya.
'Aku lihat Ibu menonton,' katanya ketika mendekat.
'Iya. Ibu di sini.'
'Aku salah tadi.'
'Ada bagian yang sulit. Kamu ingin cerita sekarang atau minum dulu?'
Zio memilih minum. Laura memberikan botol dan tidak menyusun penjelasan bahwa kekalahan pasti menjadi pelajaran hebat. Ia membiarkan anaknya kecewa tanpa harus segera menghasilkan arti yang menyenangkan bagi orang dewasa.
Di ujung tribun, ia melihat Brian. Lelaki itu berdiri bersama penonton yang mulai meninggalkan tempat. Zio rupanya melihatnya juga, lalu mendekat sedikit kepada Laura.
'Aku belum ingin bicara,' katanya.
'Kita tidak punya janji setelah pertandingan.'
Brian tidak menghampiri. Ia sempat mengangkat tangan dari jauh, kemudian menurunkannya ketika Zio berpaling. Laura tidak mengejar atau meminta putranya berterima kasih atas kehadiran yang memang tidak disepakati sebagai pertemuan.
Fiona dan Vania datang setelah kerumunan berkurang. Fiona menyerahkan barang yang dibawanya dan mengatakan ia melihat satu permainan bagus kakaknya. Zio mengangguk, masih belum banyak bicara. Mereka berpamitan kepada Vania setelah memastikan kendaraan pulang dan memilih langsung menuju rumah.
Di perjalanan, Zio akhirnya bercerita tentang satu umpan yang ingin diperbaiki. Laura mendengarkan tanpa mengubahnya menjadi pembahasan apakah Brian menonton cukup lama. Hari ini adalah pertandingan sekolah Zio, bukan ukuran keberhasilan hubungan dengan ayahnya.
Setelah makan dan beristirahat, ia meminta melihat perlengkapannya untuk disiapkan kembali. Laura membantu membersihkan bagian yang kotor. Mereka berbicara tentang latihan berikutnya, lalu berhenti ketika Zio mengatakan sudah cukup memikirkan pertandingan hari itu.
Malamnya, Rani mengirim konfirmasi bahwa revisi gambar dapat diperiksa pada hari kerja sesuai jadwal. Laura membalas penerimaan tanpa membuka berkas untuk memberi koreksi saat itu juga. Pekerjaan dan pertandingan sama-sama mempunyai waktu untuk ditangani.
Ia menutup ponsel dan menemani anak-anak makan. Zio belum merasa senang atas kekalahan, dan Laura tidak berusaha memaksanya. Kehadirannya hari ini cukup berarti jika putranya dapat pulang dengan kecewa, minum, bercerita, lalu kembali menjadi anak yang tidak harus menghibur siapa pun karena hasil pertandingan tidak sesuai harapan.