Kamis, Laura membuka laci untuk mencari catatan dan kembali melihat dua kartu bunga. Kelopak pada buket kedua sudah mulai layu beberapa hari sebelumnya. Ia telah membereskan bunganya, tetapi kartu-kartu itu tetap berada di tempat yang sama, menyimpan pertanyaan yang belum dijawab.
Ia mengambil keduanya dan memandang tulisan yang tidak menyebut nama. Dalam pekan yang dipenuhi pekerjaan, anak-anak, dan kedatangan Brian, ia membiarkan perkara itu menunggu. Kini ia tidak ingin terus menyesuaikan diri dengan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman hanya karena pengirim mungkin merasa sedang bersikap baik.
Laura mengirim pesan kepada Lee, meminta waktu berbicara tentang urusan pribadi setelah pekerjaan selesai. Ia mengatakan bukan laporan pemeriksaan banner. Lee menjawab dapat menemuinya sebentar di kafe dekat kantor, sehingga percakapan tidak berlangsung seolah salah satu dari mereka sedang memanggil bawahan.
Mereka bertemu setelah Laura memberi kabar waktu pulang kepada anak-anak. Ia tidak membawa map kerja. Dua kartu diletakkannya di atas meja setelah pesanan datang.
'Kamu tahu siapa yang mengirim?' tanyanya.
Lee memandang kartu tersebut. Jawabannya tidak datang secepat ketika ia membicarakan pekerjaan.
'Aku.'
Laura mengangguk sekali. Ia tidak terkejut sepenuhnya, tetapi mendengar kepastian tetap membuat dadanya terasa panas.
'Dua-duanya?'
'Iya. Bunga dan cokelat yang pertama, lalu bunga berikutnya.'
'Kenapa tidak menulis namamu?'
Lee menatap cangkir. Ia mengatakan semula ingin membuat kejutan, lalu mengira Laura akan memahami bahwa kiriman itu berasal darinya. Setelah Laura menyatakan tidak nyaman melalui pesan, ia seharusnya langsung menjawab. Namun ia menunda karena tidak tahu bagaimana mengakui bahwa kejutan tersebut justru membuat keadaan terasa tidak jelas.
Laura membiarkannya selesai. Pengakuan itu menjawab siapa pengirimnya, tetapi tidak otomatis membuat cara yang dipilihnya menjadi menyenangkan.
'Aku sudah bilang lebih suka tahu siapa yang mengirim,' katanya. 'Kamu membalas mengerti, tapi tetap membiarkan aku menebak.'
'Aku salah. Seharusnya aku mengatakan saat itu.'
'Sam juga kutanya. Dia bilang bukan darinya dan tidak mengaturnya.'
'Itu benar. Aku memesannya sendiri.'
Laura memindahkan kartu agar tidak terkena embun dari gelasnya. Ia tidak memerlukan bukti pesanan dari toko untuk mempermalukan Lee, tetapi meminta ia mengakui bahwa kiriman tersebut merupakan perhatian pribadi, bukan sesuatu yang diwajibkan oleh kesepakatan pura-pura mereka.
'Bukan bagian dari kewajibanmu menerima sesuatu,' jawab Lee. 'Aku tidak berhak menganggap kamu akan senang.'
'Kalau nanti ingin mengirim, tanyakan dulu. Dan jangan pakai nama yang membuat orang lain harus mencari-cari.'
Lee menyetujuinya. Ia tidak meminta Laura menyimpan kartu sebagai tanda memaafkan. Laura memasukkannya kembali ke tas untuk dibereskan nanti, lalu memandang lelaki di hadapannya.
'Ada hal lain yang belum selesai di kepalaku,' katanya. 'Tentang jabatan.'
Lee tidak segera menyahut. Laura mengingat percakapan di meja makan ayahnya, saat ia hanya sanggup mengatakan masih ada yang perlu dibicarakan. Hari ini ia tidak ingin kembali berhenti pada kalimat itu.
'Aku menolak ketika kamu menyuruh menjadi kepala pemasaran. Tapi pengumumannya tetap berjalan. Orang-orang mungkin melihat gajiku naik, ruanganku berubah, semuanya tampak baik. Itu tidak berarti caranya benar.'
'Aku melihat kemampuanmu,' kata Lee.
'Kemampuanku tidak membuat penolakanku boleh diabaikan.'
Lee menundukkan kepala. Laura meneruskan sebelum dirinya kehilangan keberanian. Ia mengatakan hubungan berbayar mereka membuat keadaan semakin rumit. Ia tidak ingin bertanya apakah setiap perlakuan di kantor merupakan keputusan pekerjaan atau bagian dari keinginan pribadi Lee.
'Aku sudah mengerjakan tanggung jawabnya. Tapi aku perlu tahu pekerjaanku bisa dinilai tanpa hubungan kita digunakan sebagai alasan.'
Lee mengakui ia mencampurkan keputusan pribadi dengan jabatannya. Ia pernah merasa memberi kesempatan dan penghasilan lebih baik cukup untuk membenarkan keputusan yang dipaksakan. Mendengar Laura sekarang membuatnya harus menerima bahwa manfaat tidak menghapus cara yang salah.
'Aku tidak bisa mengubah bagaimana itu diumumkan,' katanya. 'Tapi kita bisa meminta peninjauan yang tidak bergantung padaku.'
'Siapa yang meninjau dan apa yang boleh kupilih harus jelas. Bukan kamu memutuskan lagi atas nama memperbaiki.'
Mereka sepakat meminta bagian SDM menjelaskan pilihan serta penilaian independen yang dapat dilakukan. Lee tidak akan menjadi satu-satunya orang yang menentukan hasil pekerjaan Laura atau menjatuhkan keputusan untuknya. Pertemuan kerja tersendiri akan diatur, bukan menandatangani sesuatu di meja kafe ini.
Laura merasa lega sekaligus lelah. Menyebut persoalan yang selama ini disimpan tidak membuat seluruh ketimpangan langsung hilang. Namun setidaknya ia tidak lagi berpura-pura bahwa satu jabatan yang lebih tinggi otomatis merupakan hadiah yang tidak boleh dipertanyakan.
Ia meminta pembicaraan pribadi mereka tidak langsung diteruskan kepada seluruh kantor sebagai penjelasan peninjauan jabatan. Yang perlu diperiksa adalah proses pengangkatan, tanggung jawab, dan hasil pekerjaannya. Jika bagian tertentu dari kesepakatan harus dilihat untuk memahami masalah, mereka akan membicarakan siapa yang perlu mengetahui dan untuk tujuan apa. Lee mengangguk. Ia tidak menjanjikan dapat menutup semua pertanyaan, tetapi tidak akan menyebarkan rincian pribadi hanya agar perubahan keputusan lebih mudah dijelaskan.
'Aku ingin memikirkan juga kesepakatan pribadi kita,' katanya.
Lee bertanya apakah ia ingin mengakhirinya. Laura menjawab ia belum datang dengan dokumen atau keputusan akhir, tetapi ingin memahami pilihannya sebelum mereka semakin dekat dengan anak-anak dan keluarga.
'Kalau kita membicarakannya, aku ingin tanpa ancaman terhadap pekerjaan atau tuntutan anak-anak harus menerima sesuatu,' tambahnya.
Lee mengatakan ia setuju. Mereka tidak menyusun kesepakatan baru sore itu. Laura meminta waktu dan berjanji menentukan kapan dapat membicarakannya lagi setelah memahami hal yang dibutuhkan.
Ketika berdiri, ia membayar pesanannya sendiri. Lee tidak memaksa mengambil alih. Mereka berpisah di luar kafe, dan Laura pulang dengan dua kartu yang tidak lagi menyimpan pengirim tanpa nama.
Di rumah, ia meletakkan tas di kursi dan menyambut anak-anak. Belum ada keputusan besar yang perlu diumumkan malam ini. Namun ada satu hal yang berubah: ia sudah mengucapkan bahwa perhatian dan jabatan tidak dapat dipakai untuk meniadakan pilihannya. Langkah berikutnya harus benar-benar menghormati kalimat itu, bukan hanya menjadi permintaan maaf yang terdengar baik di meja kafe.