Laura tiba di kafe beberapa menit sebelum waktu yang disepakati. Zio memilih kursi yang menghadap pintu, sedangkan Fiona duduk di samping ibunya. Mereka melihat menu tanpa segera memesan, menunggu Brian yang mengirim pesan sedang mencari tempat parkir.
Lima menit setelah waktu pertemuan, Brian masuk. Ia mengangkat tangan ketika melihat meja mereka, lalu berjalan mendekat dengan senyum yang tampak terlalu besar untuk diterima begitu saja. Zio menegakkan punggung. Fiona meletakkan menu di pangkuannya.
'Maaf terlambat,' kata Brian. 'Tadi parkirnya penuh.'
Laura mengangguk dan mempersilakannya duduk. Ia tidak mengatakan keterlambatan tidak berarti apa-apa, tetapi juga tidak menjadikannya pertengkaran pertama di depan anak-anak. Brian datang sendiri sesuai kesepakatan, dan percakapan dapat dimulai.
'Kalian sudah besar,' katanya.
Zio tidak segera menjawab. Fiona memegang sisi menu lebih erat. Kalimat yang mungkin dimaksudkan sebagai sapaan itu membuat Laura mengingat betapa banyak perubahan kecil yang dilewatkan Brian selama mereka tidak lagi hidup bersama.
'Mau pesan dulu?' tanya Laura.
Anak-anak memilih makanan dan minuman yang dikenalnya. Brian menawarkan membayar semuanya, tetapi Laura mengatakan pesanan mereka sudah ia siapkan untuk dibayar sendiri. Ia tidak ingin keputusan kecil di meja itu berubah menjadi pembicaraan tentang uang seperti dua kunjungan di kantor.
Setelah pelayan pergi, Brian menanyakan sekolah Zio. Putranya menjawab singkat mengenai kegiatan yang sedang dikerjakan. Brian menebak pelajaran yang dimaksud, tetapi Zio mengoreksinya. Laura membiarkan keduanya berbicara tanpa mengisi setiap jeda.
'Aku kira kamu masih mengerjakan yang dulu,' kata Brian.
'Sudah selesai.'
'Oh. Sekarang yang baru, ya.'
Zio mengangguk. Ia tidak memarahi ayahnya, tetapi wajahnya berubah lebih hati-hati. Brian beralih kepada Fiona, menanyakan apakah ulang tahunnya masih beberapa waktu lagi. Ia menyebut bulannya dengan benar, namun terdiam ketika Fiona bertanya tanggal berapa.
Laura menunggu. Ia tidak ingin menjawab untuk menutupi ketidaktahuan Brian, tetapi juga tidak berniat menjadikan pertanyaan itu ujian yang disaksikan semua orang.
'Aku sedang mencoba ingat,' kata Brian.
Fiona menyebut tanggalnya pelan, lalu memandang gelas yang baru dibawa pelayan. Laura menyentuh sisi kursinya, cukup untuk memberi tahu bahwa ia berada di sana. Anak itu tidak perlu menyelamatkan percakapan dengan tertawa atau mengatakan tidak apa-apa.
Brian meminta maaf. Ia mengatakan akhir-akhir ini banyak hal dipikirkan. Laura melihat Fiona semakin diam dan akhirnya mengalihkan pembicaraan kepada pesanan yang sudah tiba, memberi jeda tanpa menghapus apa yang baru terjadi.
Beberapa menit berikutnya lebih tenang. Zio menceritakan permainan yang disukainya, tetapi berhenti sebelum menyebut seluruh pengalamannya bersama Lee. Laura tidak memberi isyarat agar ia merahasiakan sesuatu. Putranya boleh memilih cerita yang ingin dibagikan, dan meja ini bukan tempat mempertandingkan dua lelaki.
Suara sendok dari meja lain sesekali memenuhi jeda. Fiona mengaduk minumannya meskipun isinya sudah tercampur. Laura menggeser tisu ke dekat tangannya, lalu kembali makan tanpa menyuruhnya berbicara. Ketika Brian bertanya apakah makanannya enak, Fiona mengangguk. Jawaban kecil itu diterima apa adanya; tidak ada yang meminta ia tersenyum lebih lebar untuk memperlihatkan bahwa kedatangan mereka pantas disyukuri.
Brian mendengarkan lalu menanyakan apakah mereka mau pergi makan lagi bersamanya pada minggu berikutnya. Laura mengangkat pandangan, menunggu anak-anak menjawab sebelum ikut berbicara.
'Belum tahu,' kata Zio.
Fiona menggeleng kecil. Brian terlihat kecewa, tetapi tidak boleh mengubah kekecewaan itu menjadi sesuatu yang harus mereka bereskan.
'Hari ini dulu,' ujar Laura. 'Untuk yang lain, kita bicarakan setelah ini.'
Brian mengangguk dan mengambil minum. Ponselnya sempat menyala, tetapi ia membalik layar sebelum menjawab. Laura tidak menanyakan siapa yang menghubungi. Selama tidak mengubah rencana dengan menghadirkan orang tambahan, urusan itu tidak perlu dibahas di depan anak-anak.
Fiona selesai makan lebih dulu. Ia meminta izin ke kamar kecil, dan Laura menemaninya setelah mengatakan kepada Zio mereka segera kembali. Di dekat pintu, Fiona bertanya apakah masih lama sebelum pulang.
'Sekitar sebentar lagi. Kalau kamu ingin sekarang, kita bisa pulang,' jawab Laura.
'Aku mau tunggu Zio selesai.'
'Kamu tidak harus. Tapi kalau itu pilihanmu, Ibu menemani.'
Fiona mengangguk. Mereka kembali ke meja dan Laura menanyakan kepada Zio apakah ia masih ingin duduk sampai waktu yang disepakati. Ia berkata iya, lalu menyelesaikan satu cerita pendek yang rupanya sedang dibicarakan dengan Brian.
Brian meminta anak-anak mengirim pesan kalau ingin berbicara. Zio mengatakan ia akan memikirkan. Fiona tidak menjawab, dan Laura tidak menambahkan persetujuan atas namanya. Tidak ada ponsel yang dipindahkan untuk membuat kontak baru tanpa pilihan mereka.
Ketika satu jam hampir habis, Laura memberi tahu bahwa mereka akan bersiap pulang. Brian memandang piring yang masih berisi sedikit makanan dan mengatakan mereka tidak perlu terburu-buru. Laura menjawab waktunya memang sudah disepakati dan anak-anak mempunyai kegiatan di rumah.
Ia membayar pesanan mereka, lalu memastikan tas tidak tertinggal. Brian berdiri dan sempat merentangkan tangan kepada Fiona. Anak itu mundur mendekati ibunya. Brian menurunkannya, mengucapkan selamat pulang tanpa meminta penjelasan.
Zio memilih berjabat tangan singkat. Ia tidak memeluk dan tidak menjanjikan kunjungan berikutnya. Brian mengucapkan terima kasih karena mereka sudah datang. Laura menerima ucapan itu sebagai penutup pertemuan, bukan permintaan agar ia segera mengatur yang baru.
Di luar kafe, ia menunggu kendaraan bersama anak-anak. Brian tetap di dalam untuk menyelesaikan pesanannya sendiri. Tidak ada ajakan pindah tempat atau keberangkatan bersama yang mendadak.
Fiona memegang tangan Laura ketika mereka mulai berjalan. Zio lebih diam daripada saat berangkat. Laura tidak langsung bertanya apakah pertemuan itu menyenangkan. Ia menawarkan air dan memastikan keduanya nyaman selama perjalanan pulang.
'Aku senang dia datang,' kata Zio akhirnya. 'Tapi aku juga capek.'
'Dua-duanya boleh terasa,' jawab Laura.
Fiona memandang keluar jendela. Setelah beberapa saat, ia berkata tidak ingin membicarakan tanggal ulang tahunnya sekarang. Laura mengangguk dan membiarkan percakapan berhenti. Satu jam telah terlaksana. Itu belum mengembalikan kepercayaan yang hilang, tetapi setidaknya anak-anak pulang tanpa dipaksa menyatakan bahwa semuanya sudah kembali seperti dahulu.