Keenam as pengaduk akhirnya selesai, dikerjakan dengan kehati-hatian baru setelah peristiwa mesin yang rewel. Mereka memeriksa berulang kali, mengencangkan setiap baut, memperbaiki bantalan dengan suku cadang bekas yang Arka temukan di pasar loak besi tua. Ketika as terakhir selesai dibubut dan diulir, mereka menyusunnya berjajar di meja kerja—enam batang baja mengilap, seragam, hasil tangan mereka. Bayu, yang lukanya sudah kering, memandanginya dengan bangga yang malu-malu.
Lalu kerabat Bu Yanti datang mengambilnya, dan semuanya runtuh.
Lelaki pemilik usaha tahu itu membawa salah satu mesin penggilingnya—bagian dudukan as—untuk mencocokkan langsung di tempat. Ia memasang as pertama. Pas. As kedua. Pas. Lalu yang ketiga.
"Lho, ini kok seret?" katanya, mengerutkan dahi. Ia mencoba memutar. "Nggak masuk penuh. Macet."
Wening langsung mengambil jangka sorong, mengukur. Wajahnya berubah pucat. "Diameter ulirnya... lebih besar nol koma lima milimeter dari yang seharusnya." Ia membolak-balik buku catatannya, jarinya menyusuri angka-angka. "Tapi catatan saya... saya tulis semua dua belas koma nol. Ini... ini dua belas koma lima."
Mereka memeriksa keenamnya. Empat pas. Dua meleset—diameter ulirnya berlebih setengah milimeter, terlalu besar untuk masuk ke dudukan. Setengah milimeter. Selebar rambut. Tapi cukup untuk membuat as itu tak terpakai.
"Saya butuh enam, Mas," kata pemilik usaha tahu, nadanya tak marah tapi tegas. "Mesin saya enam dudukan. Kalau cuma empat yang bisa, ya nggak jalan. Sama saja saya nggak bisa pakai."
"Kami perbaiki, Pak," kata Arka cepat. "Dua yang meleset kami buat ulang. Tiga hari."
Lelaki itu menghela napas. "Saya sudah nunggu dari kemarin-kemarin, Mas. Pesanan tahu saya numpuk, mesin saya mati. Saya nggak bisa nunggu tiga hari lagi. Saya terpaksa cari yang lain dulu." Ia mengeluarkan uang dari saku, menyodorkan sebagian. "Ini ganti bahan yang empat. Yang dua nggak usah, kan nggak kepakai. Maaf ya, Mas. Bukan saya nggak menghargai. Saya orang kecil, saya nggak bisa rugi waktu."
Ia membawa empat as, meninggalkan dua di meja, dan pergi.
Keheningan yang ditinggalkannya pahit. Mereka sudah terlanjur membeli bahan untuk enam. Dua batang baja kini jadi besi rongsok—Arka tahu persis berapa harganya jadi rosok, jauh di bawah harga belinya. Uang yang masuk tak menutup bahan. Kas bengkel yang baru terkumpul sedikit, ludes. Mereka rugi.
"Siapa yang ngerjain dua ini?" tanya Jefri, suaranya datar tapi menuduh. Ia memegang salah satu as yang meleset.
Tak ada yang menjawab. Lalu Bayu, pelan, "Saya, kayaknya. Yang kelompok kedua. Saya yang setel ulirnya."
"Kamu nggak ngecek dulu sebelum jalan?" Jefri menoleh ke Wening. "Bukannya kamu yang catat semua ukuran? Kok bisa kelewat?"
"Saya catat dua belas nol," Wening membela diri, suaranya naik. "Saya nggak salah catat. Yang setel mesin yang—"
"Jadi nyalahin Bayu?" potong Arka.
"Saya nggak bilang gitu!"
"Sudahlah, ini gara-gara mesinnya juga rewel," sahut Sari lelah. "Setelan ulirnya mungkin geser sendiri pas dipakai."
"Geser sendiri setengah mili?" Jefri tertawa sinis. "Itu namanya nggak teliti. Kalau di otomotif, salah setengah mili, mesin jebol."
"Oh, jadi anak otomotif merasa lebih jago?" Arka berdiri. "Kalau kamu jago, kenapa kemarin gilirannya kamu juga ada yang reject?"
"Cukup!" Suara Pak Damar, dari pintu. Ia baru masuk, membawa kantong berisi suku cadang. Ia meletakkannya di meja dan menatap mereka semua dengan wajah yang sulit dibaca. "Saya dengar dari tadi. Kalian mau saling sobek? Silakan. Tapi itu tidak membuat dua as itu jadi benar."
Mereka terdiam, malu.
Pak Damar mengambil salah satu as yang meleset, mengukurnya sendiri, memutar-mutarnya. "Dua belas koma lima," gumamnya. "Setengah mili lebih besar." Ia mengangkat wajah. "Tahu kenapa ini bisa terjadi? Bukan karena Bayu bodoh. Bukan karena Wening salah catat. Karena tidak ada yang mengukur ulang setelah diulir. Kalian setel, kalian kerjakan, kalian percaya itu benar, tapi tidak ada yang memverifikasi hasil akhir sebelum dikirim. Itu bukan kesalahan satu orang. Itu kesalahan cara kerja."
Ia meletakkan as itu. "Di bengkel betulan, ada yang namanya pemeriksaan akhir. Sebelum barang keluar, diukur ulang oleh orang yang berbeda dari yang mengerjakan. Mata yang sama sering tidak melihat kesalahannya sendiri. Kalian belum punya kebiasaan itu. Maka kalian meleset. Setengah milimeter, tapi cukup untuk menghancurkan tiga hari kerja."
Arka memungut salah satu as gagal. Memegangnya. Tiga hari kerja. Uang bahan yang hilang. Dan ia teringat di rumah, karung beras yang menipis, adiknya yang butuh seragam, bapaknya yang menunggu di gerobak. Ia datang ke bengkel ini sebagian karena percaya pada kata-kata Pak Damar soal kebanggaan dan masa depan—tapi sebagian besar karena butuh uang, dan kini bengkel ini malah memakan uang, bukan menghasilkan.
"Saya nggak bisa, Pak," katanya tiba-tiba, suaranya pelan tapi jelas. Semua menoleh. "Saya nggak bisa terus-terusan begini. Saya ke sini karena butuh tambahan. Tapi ini malah rugi. Saya buang waktu yang harusnya buat narik gerobak, buat dapat uang beneran, demi bengkel yang malah bikin saya tekor." Ia meletakkan as gagal itu ke meja, agak keras. "Maaf, Pak. Saya keluar."
Ia berjalan ke pintu. Tak ada yang mencegah—mungkin karena mereka semua memikirkan hal yang sama, dan tak punya kata untuk membantah.
Di ambang pintu, suara Pak Damar menghentikannya. Bukan perintah. Pertanyaan.
"Pranaja. Berapa kali bapakmu narik gerobak penuh, lalu di tengah jalan rodanya patah, dan dia harus mulai dari nol lagi?"
Arka berhenti, tak menoleh.
"Dan apa dia berhenti narik gerobak setelah itu?" lanjut Pak Damar. "Atau dia perbaiki rodanya, lalu jalan lagi?"
Arka tak menjawab. Tapi ia juga tak melangkah keluar. Tangannya menggenggam kusen pintu, dan di kepalanya, gambar bapaknya berjongkok di pinggir jalan memperbaiki roda gerobak yang patah—berkali-kali, sepanjang hidupnya, tanpa pernah benar-benar menyerah—berputar dan berputar.
"Pulanglah dulu kalau mau," kata Pak Damar lembut. "Pikirkan. Pintu ini, selama saya yang pegang kuncinya, tidak akan saya kunci buat kamu."
Arka keluar tanpa kata. Tapi malam itu, di gerobak, ia tak bisa berhenti memikirkan setengah milimeter, dan roda yang patah, dan ayah yang selalu memulai lagi dari nol.