Pesanan kedua datang sebelum tim benar-benar kompak, dan itu nyaris jadi bencana.
Kali ini dari Bu Yanti, penjual nasi di depan sekolah, yang menitipkan pesanan dari kerabatnya pemilik usaha tahu. Mereka butuh beberapa as pengaduk untuk mesin penggiling kedelai—batang baja sederhana dengan ulir di ujung, tapi harus enam buah, dan harus kuat karena akan menahan beban putar terus-menerus.
Pembagian kerja sudah ditetapkan Pak Damar. Wening memegang pengukuran dan pencatatan—setiap dimensi, setiap toleransi, ia tulis di buku dengan tulisan rapinya. Bayu menghitung kecepatan putar dan pemakanan yang aman untuk diameter baja itu. Arka dan Jefri bergantian di mesin. Sari, yang waktunya paling terbatas, mengerjakan pemotongan bahan dan pembersihan di awal sesi sebelum ia harus ke warung.
Hari itu giliran Bayu yang diminta Pak Damar mencoba mesin, untuk pertama kalinya. Anak itu pucat.
"Saya... saya hitung saja, Pak. Biar Arka yang pegang mesin," katanya.
"Tidak," kata Pak Damar tegas tapi tidak kasar. "Kamu sudah hitung kecepatannya. Sekarang kamu rasakan apakah hitunganmu betul. Angka di kepala dan logam di tangan itu beda, Bayu. Kamu harus kenal keduanya. Ayo. Saya berdiri di sebelahmu."
Bayu maju, tangannya gemetar samar. Ia memasang baja di cekam, mengencangkannya. Pak Damar memeriksa, mengangguk. Bayu menyalakan mesin. Baja mulai berputar.
Untuk beberapa menit, semuanya berjalan baik. Bayu menggerakkan pahat dengan hati-hati, terlalu hati-hati malah, sehingga lambat. Serpihan baja keluar, lebih gelap dan keras dari kuningan, jatuh berdesir. Wajah Bayu mulai sedikit rileks.
Lalu mesin itu menggeram.
Suara yang keluar dari mesin bubut tua itu berubah—dari deru stabil menjadi raungan yang tersendat, seperti tercekik. Seluruh bodi mesin bergetar keras. Cekam yang memegang baja tiba-tiba bergeser, dan baja yang berputar itu oleng, ujungnya bergoyang liar.
"Mati! Matikan!" teriak Pak Damar, tapi Bayu membeku, matanya membelalak menatap baja yang oleng, tubuhnya kaku oleh ketakutan persis di tempat yang berbahaya.
Dalam sepersekian detik, Arka yang berdiri terdekat melompat, tangannya menghantam tombol merah besar di sisi mesin—tombol darurat yang Pak Damar paksa mereka hafal letaknya di hari pertama. Mesin berhenti dengan sentakan. Baja yang oleng melambat, berhenti. Sepotong tatal panas terlempar dan mengenai lengan Bayu, meninggalkan garis merah kecil, tapi tak lebih dari itu.
Keheningan setelahnya total. Bayu jatuh terduduk di lantai, gemetar hebat, napasnya tersengal. Wening berlari ke arahnya. Jefri berdiri kaku. Sari, yang sudah hampir berangkat ke warung, kembali masuk dengan wajah pucat.
Pak Damar berlutut di samping Bayu. Memeriksa lengannya—luka bakar kecil, tak parah. Lalu, mengejutkan semua orang, tangan tua itu gemetar saat menyentuh bahu Bayu.
"Tidak apa-apa," katanya, dan suaranya sendiri tak sepenuhnya stabil. "Tidak apa-apa, Nak. Kamu aman."
Bayu menangis. Bukan menangis karena lukanya—luka itu sepele—tapi menangis karena ketakutan yang meledak, dan mungkin karena sesuatu yang lebih dalam. "Pakde saya," ia tersedu. "Begini juga ya, Pak? Begini rasanya?"
Pak Damar tak menjawab. Ia menundukkan kepala.
Mereka berhenti hari itu. Pak Damar menyuruh semua duduk, lalu ia memeriksa mesin. Cukup lama. Ketika ia kembali, wajahnya berat.
"Bantalan poros utamanya aus," katanya. "Dan baut pengikat dudukan cekam ada yang kendur—mungkin sejak bertahun lalu, tidak pernah dikencangkan ulang. Waktu beban naik, dudukannya bergeser. Ini yang bikin oleng." Ia menatap mereka semua. "Ini salah saya. Saya terlalu cepat menyuruh kalian pakai mesin yang belum saya periksa tuntas. Mesin tua tidak boleh dipercaya begitu saja. Setiap kali, sebelum dipakai, harus diperiksa. Setiap baut, setiap bantalan, setiap pengaman."
Ia duduk di bangku kayu, dan untuk pertama kalinya, ia bercerita penuh.
"Lima belas tahun lalu," katanya pelan, "di mesin yang besar itu—" ia menunjuk mesin bubut besar di sudut yang tak pernah ia izinkan disentuh, "—seorang murid sedang bekerja. Anak yang berbakat, paling pintar di angkatannya. Dia kerja lembur, sendirian, mengejar tugas. Tidak ada yang mengawasi. Pengaman mesin itu sudah rusak dan belum diperbaiki—sekolah tidak punya dana, dan saya..." suaranya tersangkut, "...saya yang waktu itu mengelola bengkel, saya tunda perbaikannya. Saya pikir, masih bisa dipakai hati-hati. Sebentar lagi ada anggaran. Sebentar lagi."
Ia menatap tangannya sendiri. "Anak itu memakai sarung tangan, malam itu. Karena dingin. Sarung tangannya tergulung ke benda kerja. Menarik tangannya ikut. Saya tidak ada di sana untuk menekan tombol darurat seperti yang Arka lakukan tadi."
Bayu menangis lagi, pelan. Pak Damar menatapnya.
"Pakdemu, Bayu. Iya. Tangan kanannya. Dia tidak pernah bisa kerja mesin lagi setelah itu. Dia anak terbaik yang pernah saya ajar, dan masa depannya hilang karena kelalaian saya." Suaranya nyaris berbisik. "Itu sebabnya bengkel ini ditutup. Bukan cuma karena dinas. Karena saya sendiri tidak sanggup masuk ke sini lagi selama lima belas tahun. Saya yang minta disegel."
Ruangan itu sunyi, kecuali isak Bayu yang mereda perlahan.
"Lalu kenapa Bapak buka lagi sekarang?" tanya Wening pelan.
Pak Damar mengangkat wajahnya. "Karena saya sudah tua, dan sebentar lagi pensiun, dan saya tidak mau mati membawa tempat ini sebagai kuburan. Saya mau tempat ini hidup lagi—tapi hidup dengan benar kali ini. Dengan keselamatan yang tidak pernah saya tunda lagi. Itu sebabnya saya keras soal aturan. Itu sebabnya tadi, ketika Arka menekan tombol itu..." ia menatap Arka, matanya basah, "...kamu menyelamatkan lebih dari lengan Bayu, Nak. Kamu menyelamatkan saya dari mengulang dosa yang sama."
Mereka pulang malam itu dalam diam. Tapi sesuatu telah berubah di antara mereka. Ketakutan Bayu, trauma Pak Damar, mesin yang rewel—semuanya menjadikan Bengkel 7 bukan lagi sekadar tempat kerja sampingan. Tempat itu punya luka. Dan mereka, kelima anak itu, kini tahu bahwa setiap kali mereka menyalakan mesin, mereka tidak sekadar membuat barang. Mereka sedang menebus sesuatu, dan menjaga agar sejarah tak terulang.
Keesokan harinya, sebelum siapa pun menyentuh mesin, mereka memeriksa setiap baut. Bersama. Dan untuk pertama kalinya, tak ada yang mengeluh soal gengsi jurusan.