Tawaran PT Sinar Logam membelah tim seperti pahat membelah benda kerja—bersih tapi menyakitkan.
Mereka berkumpul keesokan harinya, dan untuk pertama kali sejak gengsi jurusan melebur, perselisihan kembali muncul. Bukan perselisihan lama soal otomotif versus pemesinan. Ini perselisihan baru, lebih dewasa, dan justru karena itu lebih berat: perselisihan tentang ambisi.
Wening membentangkan perhitungannya di atas meja kerja, angka-angka yang sudah ia hitung sampai larut malam. "Dengar dulu," katanya. "Kalau kita ambil kontrak ini, penghasilan bengkel naik berlipat. Kita bisa beli bahan lebih banyak tanpa takut bangkrut tiap kali reject. Kita bisa bayar murid yang produktif—itu penting, itu yang bisa nahan Sari supaya nggak putus sekolah. Dan yang paling penting: ini bukti keterserapan dunia usaha paling kuat yang bisa kita punya buat verifikasi. Tiga minggu lagi tim dinas datang. Surat kerja sama dengan pabrik nyata bisa jadi penyelamat."
"Aku setuju sama Wening," kata Sari, dan ada nada putus asa yang halus dalam suaranya. Semua tahu apa yang dipertaruhkan Sari. Tawaran kerja penuh di warung masih menggantung di atas kepalanya, dan kemampuan bengkel membayarnya adalah satu-satunya alasan ia masih bisa bertahan di sekolah. "Kalau bengkel makin gede, aku makin punya alasan buat tetap di sini."
Tapi Jefri menggeleng keras. "Kalian lihat angkanya nggak, sih? Volume segini, tenggat segitu, dengan dua mesin presisi dan lima tangan? Itu bukan kerja keras. Itu bunuh diri." Ia berjalan ke arah mesin bubut besar di sudut—mesin yang dulu merenggut tangan Pak Tarno, yang kini sudah diperbaiki Pak Broto tapi tetap menyimpan bayangannya. "Kita semua tahu apa yang kejadian di bengkel ini lima belas tahun lalu. Itu kejadian gara-gara apa? Gara-gara orang ngejar tenggat. Gara-gara kerja kebanyakan, malam-malam, capek, dan satu pengaman dicopot biar lebih cepet." Suaranya turun. "Kalau kita ambil kontrak yang lebih gede dari kemampuan kita, kita bakal lembur kayak gila. Kita bakal capek. Dan capek itu yang bikin orang ceroboh."
Ruangan itu hening. Bayu, yang tangannya selalu ingat ngeri tiap kali mendekati mesin besar itu, menunduk. Pak Tarno bukan sekadar cerita baginya. Pak Tarno adalah pakdenya, lelaki yang menyembunyikan tangan kanannya yang cacat selama lima belas tahun. "Jefri benar," kata Bayu pelan, dan itu salah satu kalimat paling tegas yang pernah keluar dari mulutnya. "Aku bukan mau penakut. Tapi aku tahu rasanya kehilangan. Pakde aku bukan cerita. Dia orang. Dan dia kehilangan tangannya gara-gara semua orang waktu itu mikir mereka sanggup ngerjain lebih dari yang aman."
Arka mendengarkan semuanya, dan ia merasakan beban kepemimpinan yang tak pernah ia minta itu menekan bahunya. Ia melihat dua kebenaran yang sama-sama benar, saling bertentangan. Wening benar: tawaran ini bisa menyelamatkan sekolah, menyelamatkan Sari, membuktikan segalanya. Jefri dan Bayu benar: tawaran ini bisa membunuh mereka, mengulang tragedi yang justru mereka perjuangkan untuk tak terulang.
"Pak Damar," kata Arka akhirnya, menoleh ke guru tua yang sejak tadi diam mengamati di pojok. "Bapak belum ngomong apa-apa."
Pak Damar mendekat pelan, langkahnya berat oleh usia dan oleh sesuatu yang lebih dalam. Ia berdiri di depan mesin bubut besar itu, meletakkan telapak tangannya yang keriput di atas badan mesin yang dingin.
"Lima belas tahun lalu," katanya pelan, "sekolah ini dapat tawaran juga. Pesanan besar, tenggat ketat. Waktu itu kami bangga—akhirnya ada yang percaya kerja kami cukup baik buat dipesan banyak. Kami semua mau membuktikan sekolah ini sanggup. Termasuk aku." Ia menelan ludah. "Kami nggak tahu cara bilang tidak. Kami pikir bilang tidak itu artinya gagal, artinya nyerah, artinya ngaku nggak mampu. Jadi kami iyakan semuanya. Kami lembur. Kami kerja sampe capek. Dan satu malam, satu pengaman dicopot biar pengerjaan lebih cepat, dan seorang anak kehilangan tangannya." Ia menoleh ke seluruh tim. "Pertanyaan kalian bukan 'apa kita sanggup'. Pertanyaan yang benar adalah 'apa kita berani jujur soal apa yang kita nggak sanggup'."
Keheningan yang turun setelah itu berbeda dari sebelumnya. Bukan keheningan perselisihan. Keheningan pemahaman.
"Jadi kita tolak?" tanya Wening, dan ada kekecewaan di suaranya, tapi juga kelegaan yang malu-malu.
"Aku nggak bilang tolak," jawab Pak Damar. "Aku bilang jujur. Itu beda. Menolak karena takut sama nekat menerima karena gengsi—dua-duanya salah. Yang benar ada di tengah. Tapi nemuin yang di tengah itu butuh keberanian yang lebih besar dari dua-duanya."
Malam itu tim pulang membawa pertanyaan yang lebih berat dari ketika mereka datang. Arka berbaring di kamarnya yang sempit, mendengar dengkur halus adiknya Lestari dari balik tirai pembatas, dan memandang langit-langit. Tawaran emas itu masih berkilau di benaknya. Tapi kini, di samping kilaunya, ia juga melihat bayangan sebuah tangan yang hilang, dan ia tahu bahwa keputusan besok bukan soal berani atau pengecut—melainkan soal apakah mereka cukup dewasa untuk tahu batas diri sendiri.