Telepon itu masuk ke kantor sekolah pada sebuah Selasa yang biasa, dan Bu Yanti, petugas tata usaha yang merangkap menjawab telepon, hampir saja menutupnya karena mengira itu telepon penagih.
"Selamat siang, ini SMK Wijaya Karya Nusantara?" suara di seberang terdengar formal. "Saya dari PT Sinar Logam Perkasa. Kami dapat informasi dari Pak Wahyu—penguji uji kompetensi kemarin—bahwa sekolah Bapak punya unit bengkel yang ngerjain pesanan komponen. Betul?"
Bu Yanti, yang tak tahu harus berkata apa, buru-buru memanggil Pak Hartono.
Di ruang kepala sekolah sore itu, kabar itu pun menyebar ke telinga Arka dan tim lewat Pak Hartono yang memanggil mereka berkumpul. Wajah kepala sekolah itu campur aduk—antara harapan dan kewaspadaan yang sudah menjadi watak keduanya.
"Ada pabrik," kata Pak Hartono, "PT Sinar Logam Perkasa. Pabrik komponen kecil di kawasan industri sebelah utara. Mereka denger soal Bengkel 7 dari penguji uji kompetensi kemarin. Mereka mau ketemu. Katanya—" ia berhenti, seolah ragu mengucapkan kata-katanya sendiri, "—katanya mereka mungkin butuh subkontrak pengerjaan komponen sederhana. Kerja sama."
Ruangan itu hening sejenak. Lalu Sari berbisik, "Pabrik? Beneran pabrik?"
Arka merasakan sesuatu yang aneh menjalar—bukan kegembiraan murni, melainkan kegembiraan yang dibungkus rasa waswas. Selama ini pelanggan mereka adalah Pak Lukas dengan bushing-nya, Bu Yanti dengan engsel pagarnya, Bu Marni dengan ring dan poros produksinya. Orang-orang kampung, UMKM tetangga, usaha kecil yang ukurannya seimbang dengan ukuran Bengkel 7. Tapi pabrik? Pabrik bermain di liga yang berbeda. Pabrik bicara soal volume, soal tenggat ketat, soal kontrak hitam di atas putih.
Pertemuan disepakati. Beberapa hari kemudian, seorang lelaki dari PT Sinar Logam datang—Pak Gunadi, kepala bagian pengadaan, lelaki bertubuh tegap dengan map kerja yang tebal dan cara bicara yang efisien. Ia tidak datang sebagai dermawan. Ia datang sebagai orang bisnis yang sedang menghitung untung rugi.
Mereka menerimanya di Bengkel 7. Arka, Wening, dan Pak Damar—yang meski masih dinonaktifkan, kali ini diizinkan hadir oleh Pak Hartono karena keahliannya tak tergantikan dalam percakapan teknis—berdiri menyambut. Pak Gunadi berjalan keliling bengkel, mengamati mesin-mesin tua itu dengan mata yang menilai, menyentuh hasil kerja yang dipajang, memeriksa poros presisi pesanan Bu Marni yang sengaja disimpan sebagai contoh.
"Mesinnya tua," komentarnya terus terang.
"Tua tapi terawat," jawab Pak Damar tenang. "Dan baru disertifikasi layak sama teknisi bersertifikat. Suratnya ada."
Pak Gunadi mengangkat poros Bu Marni, memeriksanya dengan jari, lalu mengeluarkan jangka sorong dari sakunya sendiri dan mengukur. Ia diam beberapa saat. "Toleransinya bagus," akunya. "Lebih bagus dari beberapa subkontraktor saya yang punya mesin lebih baru."
Ia menjelaskan kebutuhannya. Pabriknya memproduksi rangkaian alat pertanian sederhana, dan mereka rutin butuh komponen-komponen kecil—dudukan, selongsong, baut khusus—yang selama ini dikerjakan sendiri tapi membebani jalur produksi utama. Mereka mencari subkontraktor untuk mengambil alih sebagian pekerjaan sederhana berulang ini. Volumenya tetap, tenggatnya jelas, dan—ini bagian yang membuat napas Arka tertahan—nilainya jauh, jauh lebih besar dari semua pesanan kampung yang pernah mereka kerjakan digabung jadi satu.
"Kalau kalian sanggup," kata Pak Gunadi, "ini bisa jadi kerja sama jangka panjang. Tapi saya jujur—saya nggak punya waktu buat eksperimen. Kalau telat sekali, kalau reject banyak, saya cari subkontraktor lain. Ada antrean."
Setelah Pak Gunadi pergi, meninggalkan selembar daftar kebutuhan dan angka-angka yang membuat kepala pening, tim duduk melingkar di bengkel dalam diam yang panjang.
Wening yang pertama bersuara, dan suaranya bergetar oleh perhitungan. "Kalau kita bisa pegang kontrak ini, ini bukti emas. Tim verifikasi merger nyari keterserapan dunia usaha. Pabrik beneran yang mau kerja sama—itu jauh lebih kuat dari surat keterangan warga."
"Iya," kata Jefri pelan, "tapi liat volumenya. Liat tenggatnya." Ia menunjuk angka di kertas. "Mesin kita cuma dua yang beneran presisi. Tangan kita cuma lima. Pak Damar bahkan masih digantung statusnya. Kalau kita ambil ini dan gagal, kita nggak cuma rugi—kita bangkrut, kita malu di depan dunia usaha, dan itu malah jadi bukti buruk buat verifikasi."
Arka memandang daftar di tangannya, lalu memandang mesin-mesin tua yang berderak setia di sekelilingnya, lalu memandang bayangan samar di sudut bengkel tempat dulu seorang murid kehilangan tangannya karena mengejar tenggat. Tawaran ini berkilau seperti emas. Tapi emas, ia mulai paham, kadang adalah jebakan yang paling cantik.
"Kita nggak harus jawab sekarang," katanya akhirnya. "Tapi kita harus jawab dengan jujur—ke pabrik, dan ke diri kita sendiri. Apa kita sanggup, atau cuma pengin sanggup."
Pak Damar, yang sejak tadi diam di pojok, mengangguk pelan. Di matanya ada sesuatu yang Arka belum sepenuhnya pahami—semacam kewaspadaan yang lahir dari pengalaman, dari malam lima belas tahun lalu ketika mengejar tenggat memakan tangan seorang anak. "Besok," kata guru tua itu, "kita bicara soal arti kata 'cukup'. Itu pelajaran yang lebih susah dari membubut tirus."