Mereka sedang menyiapkan berkas-berkas di teras Wening ketika Arka menyadari Sari tidak datang. Sudah dua kali pertemuan ia absen, dengan alasan sibuk di warung. Tapi ada yang ganjil. Sari tidak pernah absen, walau matanya selalu merah karena kurang tidur.
Arka menemukannya pada malam berikutnya, di warung tempatnya bekerja. Sari sedang mencuci tumpukan piring di belakang, lengannya basah sampai siku, uap panas dari air cucian menempel di rambutnya. Ia tidak melihat Arka datang sampai pemuda itu berdiri di ambang dapur.
"Sar."
Sari terkejut, lalu cepat menunduk kembali ke cuciannya. "Ngapain kamu ke sini. Aku lagi kerja."
"Kamu nggak datang dua kali. Kenapa?"
Sari tidak menjawab. Ia menggosok piring lebih keras dari yang perlu. Arka menunggu, dan akhirnya, dengan suara yang ia coba buat datar, Sari berkata, "Aku mau keluar dari tim, Ar."
Arka merasa sesuatu jatuh di perutnya. "Kenapa?"
"Bu Haji nawarin aku kerja penuh. Siang malam. Gajinya..." Sari menyebut angka, dan angka itu, untuk anak-anak seperti mereka, terdengar seperti mimpi. "Lebih dari yang aku bayangin. Tapi syaratnya aku mesti berhenti sekolah. Nggak mungkin kerja penuh sambil sekolah."
"Sar..."
"Bapakku setuju, Ar." Suara Sari mulai bergetar, tapi ia tetap menggosok piring, tidak menatap Arka. "Adikku tiga. Bapakku cuma kuli serabutan. Ibuku sakit-sakitan. Gaji itu bisa bikin keluargaku napas. Bisa beli obat ibuku. Bisa bayar SPP adikku." Ia tertawa kecil, getir. "Lucu, ya. Aku berhenti sekolah biar adikku bisa sekolah."
Arka berdiri diam. Dan dalam diam itu, ia mengenali sesuatu—ia melihat dirinya sendiri. Bukankah ia juga, beberapa bulan lalu, hampir pergi? Bukankah ia juga pernah merasa sekolah itu kemewahan yang tak pantas untuk anak seperti mereka? Bukankah ia juga pernah berpikir bahwa tanggung jawab pada keluarga berarti meninggalkan bangku, bukan mempertahankannya?
Dan kini ia berdiri di posisi yang berlawanan. Kini ia yang harus membujuk seseorang untuk bertahan.
"Sar," katanya pelan. "Kamu inget waktu aku hampir keluar? Habis pesanan pertama gagal, aku udah mau pergi. Aku bilang ini cuma nambah beban hidupku."
Sari berhenti menggosok. Tapi belum menoleh.
"Yang bikin aku balik," lanjut Arka, "bukan semangat. Bukan omongan motivasi. Tapi aku lihat bapakku. Dia ditawarin kerja tetap di luar kota, gaji bagus, tapi dia nolak. Dia milih tetap narik gerobak rosok di sini, deket keluarga, walau utang numpuk. Aku dulu mikir dia bodoh. Ngapain nolak gaji bagus. Tapi terus aku ngerti—pengorbanan itu nggak selalu soal berhenti. Kadang justru soal bertahan. Bertahan itu lebih susah daripada pergi."
Sekarang Sari menoleh. Matanya basah, dan Arka tak tahu itu uap cucian atau air mata.
"Tapi kamu beda, Ar," katanya. "Kamu pinter. Kamu bisa baca gambar teknik. Kamu punya masa depan. Aku? Aku cuma anak warung. Lulus SMK pun paling jadi buruh pabrik kalau masih ada pabrik. Mending aku kerja sekarang, dapet duit beneran, daripada nunggu ijazah yang nggak ada gunanya."
"Itu nggak bener," kata Arka, lebih keras dari yang ia maksud. "Kamu yang paling ngerti soal jualan, soal warga, soal ngitung untung rugi di antara kita semua. Pas kita ngumpulin surat mitra, kamu yang tahu cara ngomong sama Bu Yanti, sama Pak Kasdi. Itu keahlian, Sar. Itu bukan kecil."
Sari menggeleng, air matanya jatuh sekarang, jelas. "Keahlian nggak ngasih makan adikku malam ini, Ar. Keahlian nggak beli obat ibuku. Aku capek. Aku capek tiap malam nyuci piring sampai jam dua, terus paginya sekolah ketiduran, terus diomelin guru, terus ngerasa percuma. Mending aku pilih satu. Kerja aja. Berhenti mimpiin yang lain."
Arka terdiam. Ia tahu kata-kata saja tidak cukup. Sari tidak butuh motivasi. Ia butuh jalan keluar yang nyata—uang yang nyata, untuk masalah yang nyata.
"Tunggu dulu," kata Arka akhirnya. "Jangan jawab Bu Haji dulu. Kasih aku waktu. Kasih kami waktu."
"Buat apa?"
"Buat ngitung," kata Arka. "Bener-bener ngitung. Bukan perasaan, bukan semangat. Angka. Wening yang paling jago angka di antara kita. Biar dia bantu kamu ngitung—beneran, mana yang lebih masuk buat hidup kamu. Kalau abis diitung dengan jujur ternyata kerja penuh emang lebih bener buat kamu, aku nggak akan nahan kamu. Sumpah. Tapi jangan ambil keputusan segede ini cuma karena capek malam ini."
Sari menatapnya lama. Air dari keran masih mengalir di belakangnya, suara satu-satunya di dapur sempit itu.
"Kenapa kamu repot-repot, Ar?" tanyanya pelan. "Dulu kamu yang mau pergi. Sekarang kamu yang nahan orang. Kenapa?"
Arka diam sejenak. Lalu ia menjawab, jujur, dari tempat yang dalam. "Karena dulu nggak ada yang nahan aku. Aku balik sendiri, kebetulan, karena lihat bapakku. Kalau waktu itu nggak kebetulan... aku udah pergi, Sar. Dan mungkin nyesel seumur hidup. Aku nggak mau kamu pergi cuma karena nggak ada yang nahan. Aku mau kamu pergi—kalau emang harus pergi—setelah bener-bener ngitung. Biar kamu yakin. Bukan karena capek."
Sari menyeka matanya dengan punggung tangan yang basah. Lama ia tak bicara. Lalu, sangat pelan, ia mengangguk.
"Satu minggu," katanya. "Aku kasih satu minggu. Suruh Wening itung. Tapi kalau angkanya bilang aku mesti pergi, kamu janji nggak nahan lagi."
"Janji," kata Arka.
Ia berjalan pulang malam itu di bawah lampu jalan yang separuh mati, dan untuk pertama kali ia menyadari betapa beratnya posisi yang dulu ia tinggalkan tanpa pikir panjang. Dulu ia hanya satu anak yang hampir pergi. Kini ia tahu, kepergian satu orang dari tim mereka bukan soal satu kursi kosong. Itu soal satu mimpi yang padam, dan satu keluarga yang terpaksa memilih antara hari ini dan masa depan—pilihan yang seharusnya tidak pernah harus dibuat oleh anak berusia tujuh belas tahun.