Arka memutuskan untuk menemui Pak Wira langsung. Ia tidak memberitahu tim—mereka pasti melarang. Tapi ia merasa, kalau ia terus menghindari pria itu, perang ini tidak akan pernah selesai, hanya berpindah dari satu tetangga ketakutan ke tetangga lain.
Bengkel Pak Wira lebih besar dari yang Arka bayangkan, tapi lebih sepi dari yang ia kira. Ada tiga mesin bubut, satu mesin frais, papan-papan pesanan yang setengah kosong. Dua orang karyawan bekerja di sudut, lambat, seperti orang yang menunggu pekerjaan yang tak kunjung datang. Bau oli dan logam, sama seperti Bengkel 7, tapi ada sesuatu yang murung menggantung di udara—kemurungan usaha yang sedang menunggu mati pelan-pelan.
Pak Wira sedang memeriksa buku catatan di mejanya ketika Arka masuk. Ia mengangkat kepala, dan wajahnya mengeras seketika ketika mengenali anak itu.
"Kamu," katanya. "Anak Bengkel 7."
"Saya Arka, Pak." Ia mencoba bersikap sopan. "Saya datang baik-baik. Saya cuma mau ngomong."
"Ngomong apa?" Pak Wira menutup bukunya. "Mau minta saya berhenti ganggu kalian? Mau bilang saya jahat sama tetangga? Saya udah dengar semua itu."
"Bukan, Pak." Arka menarik napas. "Saya cuma mau ngerti. Kenapa Bapak segitunya sama kami? Kami cuma anak sekolah. Bengkel kami tua. Kami nggak ada apa-apanya dibanding Bapak."
Pak Wira menatapnya lama. Lalu ia tertawa—tawa pahit, tanpa kegembiraan. Ia berdiri dan berjalan ke salah satu papan pesanan yang kosong.
"Kamu lihat ini?" katanya. "Lima tahun lalu, papan ini penuh. Saya punya enam karyawan. Sekarang dua, dan saya bahkan nggak yakin bisa bayar mereka bulan depan." Ia menunjuk mesin-mesinnya. "Pabrik tutup satu-satu. Order besar lari ke kota. Yang tinggal cuma order receh dari kampung—engsel, ring, bushing, perbaikan kecil. Buat orang kota, itu nggak ada artinya. Tapi buat saya, order receh itu yang bikin saya masih buka pintu tiap pagi. Yang bikin dua orang itu masih punya kerjaan."
Ia berbalik menghadap Arka, dan ada sesuatu yang menyala di matanya—bukan cuma amarah, tapi ketakutan yang berubah jadi amarah.
"Terus muncul kalian. Anak-anak sekolah. Ngerjain order receh itu gratis, atau hampir gratis, karena toh kalian dibayar negara sekolahnya, mesin kalian dari sekolah, kalian nggak mikirin sewa tempat, nggak mikirin gaji karyawan, nggak mikirin makan. Kalian ngambil order yang harusnya buat saya, dengan harga yang nggak mungkin saya saingi, karena saya harus bayar listrik, bayar sewa, bayar orang. Tahu nggak rasanya, Nak? Liat anak-anak SMK ngerebut nasi dari piring, dan semua orang malah muji kalian baik hati ngebantu kampung?"
Arka terdiam. Inilah yang Wening duga. Mendengarnya langsung dari mulut Pak Wira, dengan ketakutan telanjang di balik amarah itu, membuat Arka tak bisa membantah dengan mudah.
"Kami nggak bermaksud ngerebut, Pak," katanya pelan. "Kami cuma..."
"Kalian cuma nyelametin sekolah kalian," potong Pak Wira. "Saya tahu. Dan saya harus nyelametin bengkel saya. Dua orang itu punya anak, punya keluarga. Kalau bengkel ini tutup, mereka makan apa? Jadi jangan kalian pikir kalian malaikat dan saya iblis. Kita sama-sama lagi tenggelam, cuma kalian nginjek kepala saya buat naik ke atas."
Kata-kata itu menohok, justru karena ada kebenaran di dalamnya. Arka membuka mulut, tapi Pak Wira belum selesai.
"Dan kalian tahu yang paling bikin saya muak?" Suaranya naik. "Kalian itu anak-anak buangan. SMK pinggiran yang mau ditutup. Yang sekolahnya nggak laku. Mestinya kalian belajar yang bener, lulus, cari kerja di pabrik—bukan main-main jadi tukang murahan yang ngerusak harga pasar buat orang yang udah puluhan tahun hidup dari ini. Kalian ngerusak periuk orang sambil ngerasa jadi pahlawan."
Kata buangan itu menghantam sesuatu di dada Arka—luka lama, luka yang ia sembunyikan dengan menertawakan dirinya sebelum orang lain sempat. Anak buangan. Itulah yang selalu ia takut orang lihat ketika menatapnya.
Ia berdiri. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena marah yang ditahan.
"Kami bukan buangan, Pak," katanya, suaranya rendah tapi tegas. "Kami anak-anak yang nggak punya pilihan lain selain belajar bikin barang pakai tangan sendiri. Dan barang yang kami bikin itu jujur. Pak Lukas masih pakai bushing kami setahun tanpa ganti. Itu bukan main-main, Pak. Itu kerja."
Ia menarik napas, menenangkan diri. "Tapi Bapak bener soal satu hal. Kita sama-sama lagi tenggelam. Saya cuma nggak ngerti kenapa orang yang sama-sama tenggelam mesti saling nenggelemin. Kenapa nggak saling pegangan."
Pak Wira tertawa pahit. "Karena pelampungnya cuma satu, Nak. Dan kamu masih terlalu muda buat ngerti itu."
Arka pulang dengan dada yang penuh—amarah karena disebut buangan, tapi juga sesuatu yang lebih rumit. Pengertian yang tidak ia inginkan. Pak Wira bukan iblis. Ia orang yang ketakutan, yang dapurnya benar-benar terancam, yang menekan tetangga miskin bukan karena jahat tapi karena putus asa.
Dan di tengah amarah itu, sebuah pikiran mulai tumbuh—samar, masih jauh, tapi ada. Bagaimana kalau pelampungnya tidak harus cuma satu? Tapi pikiran itu masih terlalu mentah. Untuk sekarang, ia hanya tahu satu hal: perang ini tidak bisa dimenangkan dengan mengalahkan Pak Wira. Karena mengalahkannya berarti menenggelamkan dua karyawan yang punya anak. Dan itu bukan kemenangan. Itu cuma memindahkan kemiskinan dari satu pintu ke pintu lain.