Gilang meminta waktu pada Jumat malam, di meja makan yang sama tempat perjanjian itu dulu ditandatangani.
Meja itu tidak pernah diganti. Kinara pernah mengusulkan menggantinya, dulu, waktu ia masih menganggap benda bisa membawa nasib. Belakangan ia justru memilih mempertahankannya, dengan alasan yang ia sebut sendiri sebagai alasan pengacara: bukti tidak dihilangkan hanya karena tidak enak dipandang.
Perjanjian itu ditandatangani di meja ini pada suatu sore, dengan dua saksi dan satu map. Kinara ingat ia membacanya sampai halaman terakhir waktu itu, seperti membaca kontrak kerja, dan ingat bahwa tidak seorang pun di ruangan itu menganggapnya aneh. Ia juga ingat bahwa ia menandatanganinya karena ia percaya sedang membuat keputusan yang masuk akal untuk keluarganya.
Bagian yang paling lama ia maafkan pada dirinya sendiri bukan tanda tangannya, melainkan betapa masuk akalnya semua itu terasa waktu itu.
Tidak ada hujan dramatis. Tidak ada lilin. Reza tidak ada, tidak diminta ada, dan tidak diberi tahu.
Kinara duduk dengan buku catatannya di depan, tertutup.
'Saya mau mengatakan satu hal,' kata Gilang, 'dan saya sudah menyusunnya, jadi maaf kalau kedengarannya seperti disiapkan. Memang disiapkan.'
'Silakan.'
Ia meletakkan kedua tangannya di meja.
'Jangan menikahi dendam itu lagi,' katanya pelan. 'Nikahi saya yang ini. Yang mengarsipkan perang hukuman minggu lalu dan menandatanganinya. Yang penyaringnya cuma untuk ancaman, bukan untuk kau. Yang tidak menahan pintu. Yang meminta izin tiap kali dan berhenti waktu jawabannya belum. Yang menjawab fokus waktu Reza bilang saya hampir manusia. Yang ke makam ayahnya tanpa membawa kau sebagai bukti apa pun. Yang menaruh cincin di meja sebagai pilihan, bukan sebagai borgol. Yang tidak membeli panggung, tidak membeli artikel, tidak menjadikan kau simbol perusahaan. Yang mendengar kau bilang tertuduh, tidak bersalah, tinggal karena memilih — dan tidak mengubah tiga kalimat itu jadi milik saya.'
Ia berhenti sebentar.
'Yang ini. Bukan yang dulu — bukan yang menikahi hukuman dan membawa perempuan yang tidak tahu apa-apa ke dalamnya. Saya tidak sedang meminta maaf murah supaya dapat tiket. Saya minta dinikahi yang ini, tiap hari, lewat pilihan kau. Atau tidak, kalau kau bilang tidak. Dua-duanya saya terima.'
Kinara diam lama.
Cukup lama sampai Gilang mulai menyiapkan diri untuk jawaban yang lain, dan menyadari bahwa ia sudah lama berhenti merasa berhak atas jawaban tertentu.
Yang berputar di kepalanya selama diam itu bukan kalimat Gilang barusan.
Yang berputar adalah daftar: tiga belas bulan tanpa satu pun ancaman terselubung; penyaring yang tidak pernah dimatikan diam-diam; pintu yang tidak pernah ditahan walau ia beberapa kali sengaja berjalan pelan ke arahnya untuk melihat apa yang terjadi; izin yang selalu diminta dan dua kali dijawab belum tanpa akibat apa pun; amplop merah yang sekarang berstatus arsip dengan tanda tangan, bukan dengan janji.
Bukti, bukan perasaan. Ia menimbangnya seperti ia menimbang berkas.
'Dicatat,' kata Kinara akhirnya. 'Dan saya akan jawab dengan cara saya, bukan dengan cara yang biasanya orang jawab di film.'
'Silakan.'
'Dendam yang dulu — saya setuju, jangan dinikahi lagi. Itu arah, dan saya pegang.' Ia meletakkan telapak tangannya di atas buku catatan yang tertutup. 'Rem masih berlaku. Percaya belum total, dan mungkin tidak akan pernah seratus persen, dan saya sudah berhenti menganggap itu kekurangan saya.'
'Bukan kekurangan.'
'Hari ini saya memilih: ya. Saya nikahi yang ini — dalam arti saya tinggal, saya jaga remnya, dan saya minta ruang saya tetap ada. Bukan dalam arti saya lupa apa yang terjadi. Bukan dalam arti saya otomatis membalas waktu Bapak bilang love you.'
'Tidak pernah saya tagih.'
'Saya tahu. Itu sebabnya jawabannya ya hari ini.' Ia menatapnya lurus. 'Dan yang ini diukur dari tindakan, bukan dari kalimat malam ini. Kalau yang algojo kembali — bukan marah, bukan salah kecil, tapi yang algojo — maka dua pintu, dan yang satu tidak dibuka lagi. Hafal?'
'Dan satu hal yang tidak akan saya ucapkan malam ini,' kata Kinara, 'supaya Bapak tidak salah dengar: saya tidak bilang sudah sembuh. Saya tidak bilang semuanya impas. Saya bilang saya tinggal, dan saya menjaga syaratnya. Itu dua hal yang berbeda, dan orang sering menganggapnya satu.'
'Saya tidak akan menganggapnya satu.'
'Bagus.'
'Hafal,' kata Gilang. 'Yang ini. Diukur tindakan. Besok diuji lagi.'
'Besok diuji lagi,' ulangnya.
Mereka duduk diam sekitar sepuluh menit setelah itu, di meja yang sama, tanpa menyentuh apa pun dan tanpa menambahkan apa pun.
Lalu Kinara berdiri dan menyalakan kompor, karena air harus mendidih sebelum mi bisa dimasak, dan karena hidup pada akhirnya berjalan lewat hal-hal sekecil itu.
Gilang mengambil dua mangkuk dari rak tanpa diminta. Mereka makan berdiri di dekat kompor, seperti dua orang yang sedang buru-buru padahal tidak ada yang perlu dikejar.
'Satu hal,' kata Kinara sambil mencuci mangkuknya. 'Kalimat Bapak tadi bagus. Tapi jangan diulang tiap bulan. Kalimat yang diulang jadi upacara, dan upacara jadi tagihan.'
'Tidak akan diulang,' kata Gilang. 'Sekali cukup. Sisanya dikerjakan.'
'Sisanya dikerjakan,' ulangnya, dan mematikan lampu dapur.