Kinara menulis catatan itu pada Jumat malam, di meja kerja rumah, dengan pulpen tinta hitam yang biasa ia pakai untuk mengoreksi draf.
Bukan surat perpisahan. Ia sudah pernah menulis satu, dulu, dan tahu persis bagaimana rasanya menulis kalimat yang dimaksudkan sebagai pintu keluar. Ini bukan itu. Ini juga bukan pernyataan bahwa semuanya sudah selesai dan sembuh dan indah, karena kalimat semacam itu hanya akan menjadi bahan tertawaan dirinya sendiri enam bulan lagi.
Surat yang dulu — yang ia sebut surat pilih, yang sampai sekarang tersimpan di kotak yang sama — ditulis dalam keadaan yang sangat berbeda. Waktu itu tangannya dingin dan ia menulis sambil memperhitungkan kemungkinan surat itu dibaca orang lain: mungkin pengacara, mungkin hakim. Kalimat-kalimatnya rapat dan hati-hati seperti dokumen.
Yang malam ini ia tulis tidak diperhitungkan untuk siapa-siapa.
Yang ia tulis lebih menyerupai daftar periksa.
Saya memilih tiap hari, tulisnya. Bukan ditahan. Rem masih berlaku. Percaya belum total, dan mungkin tidak akan pernah total, dan itu boleh.
Saya melihat dia berhenti — sejauh ini.
Saya tidak berdosa. Tidak pernah. Itu bukan pendapat, itu fakta yang sudah dibuktikan di tempat yang seharusnya.
Cincin bukan borgol. Makam bukan piala. Dekat harus dengan izin, tiap kali.
Bara jauh, dan kami tidak merayakannya. Nama saya lebih tenang, dan saya tetap waspada. Saya bukan ornamen dan bukan simbol siapa pun.
Memo penutupan proyek itu masih berlaku. Empat kalimat yang dia ucapkan malam itu masih saya simpan, dan tidak akan saya bacakan kepada siapa pun.
Pintu tidak ditahan. Dia bilang love you jarang, dan saya belum selalu membalasnya, dan dia tidak menagih.
Saya memilih atap ini hari ini. Besok saya memilih lagi — atau saya bilang kalau tidak. Jujur. Mahal. Cukup.
Sebelum menutup buku itu, ia membalik ke halaman-halaman lama, sesuatu yang jarang ia lakukan. Ada catatan dari bulan-bulan pertama setelah sidang: tulisan yang miring, kalimat yang putus di tengah, satu halaman yang hanya berisi tanggal dan tidak ada apa-apa lagi. Ada daftar nomor telepon yang harus diblokir. Ada satu baris berbunyi hari ini tidak menangis di kantor, dan diberi tanda centang.
Ia tidak merasa kasihan kepada perempuan yang menulis halaman-halaman itu. Ia merasa berutang kepadanya.
Ia membaca ulang sekali, tidak mengubah satu kata pun, lalu menutup bukunya.
Ia tidak membakarnya. Tidak ada gunanya membakar sesuatu yang ia tulis untuk dirinya sendiri. Ia menyimpannya di kotak arsip di lemari kamar — kotak yang sama tempat salinan surat, memo penutupan, kertas permintaan maaf bertinta hitam, dan cetakan kabar tentang Bara yang tidak pernah dibuka lagi.
Kotak itu tidak dikunci. Tidak perlu.
Kotak itu bukan tempat rahasia. Gilang tahu isinya kira-kira apa, dan tidak pernah membukanya. Suatu kali, berbulan-bulan lalu, ia sempat memindahkannya waktu membereskan lemari, dan ia melaporkan sendiri malam itu bahwa ia memindahkannya tanpa membuka. Kinara memeriksa, dan memang tidak dibuka. Hal-hal kecil semacam itu yang pelan-pelan mengubah angka di kepalanya, jauh lebih banyak daripada kalimat besar mana pun.
Ia menyebutkannya kepada Gilang keesokan paginya, singkat, di dapur, sambil menuang kopi.
'Saya menulis catatan semalam. Isinya: saya pilih tiap hari. Sudah masuk kotak.'
Gilang mengangguk.
'Tidak perlu dijadikan upacara,' lanjut Kinara. 'Alarm jam enam sudah cukup jadi upacara di rumah ini.'
'Boleh saya baca?'
'Tidak sekarang.'
'Baik.' Ia menutup lembar yang sedang dibacanya. 'Kalau suatu hari kau izinkan, saya baca. Kalau tidak pernah, ya tidak pernah. Itu milik kau.'
'Itu milik rem saya,' kata Kinara. 'Bedanya tipis, tapi ada.'
'Satu lagi,' kata Kinara. 'Kalau suatu hari saya menulis catatan yang isinya lain — yang isinya saya tidak memilih lagi — Bapak akan dengar dari saya, bukan dari kotak itu.'
'Saya tahu.'
'Dan Bapak tidak akan menahan pintu.'
'Tidak akan.' Ia mengucapkannya tanpa jeda, seperti orang menyebutkan sesuatu yang sudah lama diputuskan. 'Itu bagian yang paling saya hafal.'
Ia menghabiskan kopinya berdiri, seperti biasa, lalu mengambil tas dan payung — payung selalu masuk tas sejak tahun lalu, kebiasaan yang bertahan lebih lama dari banyak hal lain. Penyaring nomor di ponselnya masih menyala. Cincin masih di laci, dan hari itu memang tidak dipanggil.
Di pintu depan, Gilang tidak berdiri di dekat gagang. Ia sudah lama belajar untuk tidak berdiri di situ ketika istrinya berangkat, karena tubuh di dekat gagang pintu berarti sesuatu yang tidak ingin lagi ia artikan.
'Berangkat,' kata Kinara.
'Hati-hati.'
Ia pergi karena memilih pergi, ke pekerjaan yang ia pilih juga, dan malam nanti ia akan pulang ke rumah yang ia pilih untuk hari itu.
Hari itu berjalan seperti hari kerja mana pun. Fitri mengirim draf revisinya sebelum pukul sepuluh, dan kali ini paragraf panjang yang kemarin ditandai sudah dipotong jadi dua kalimat yang jelas. Ada rapat pukul dua yang molor setengah jam. Ada klien yang menelepon di jam makan siang untuk hal yang sebenarnya bisa menunggu sampai sore.
Malamnya Kinara pulang pukul delapan, dan lampu dapur menyala dengan seseorang yang sedang memanaskan air di baliknya.
Catatan tinta hitam itu tinggal di dalam kotak, tidak dibaca setiap jam, tidak dipamerkan, tidak dijadikan bukti apa pun kepada siapa pun. Sebuah minggu ditutup tanpa aula, tanpa confetti, tanpa satu pun kalimat besar.
Hanya alarm pukul enam, dan seseorang yang memutuskan lagi, hari itu, untuk tinggal.