Malam itu tenang tanpa alasan khusus. Tidak ada kabar buruk, tidak ada kabar baik, tidak ada tanggal yang perlu diingat. Hanya Sabtu yang lewat pelan.
Hujan turun sejak sore dan berhenti sekitar pukul delapan. Televisi menyala tanpa ada yang menonton, memutar pertandingan yang skornya sudah jauh, dan akhirnya dimatikan oleh orang yang lebih dekat ke remot.
Kinara duduk di ujung sofa dengan buku catatan di pangkuan, menuliskan tiga hal yang harus ia periksa Senin pagi. Gilang duduk di ujung yang lain, jarak dua bantal, dengan tangan di lututnya sendiri. Jarak itu bukan kebetulan; itu kesepakatan lama yang tidak pernah dicabut.
Aturan jarak itu lahir dari malam yang tidak enak diingat keduanya: malam ketika Gilang duduk terlalu dekat tanpa berpikir, dan Kinara mendapati dirinya menahan napas sampai bahunya sakit keesokan harinya. Sejak itu jaraknya dibuat tetap, dan yang boleh mengubahnya cuma satu orang.
Kinara menutup bukunya.
'Kinara,' kata Gilang.
Ia menoleh. Nama, bukan panggilan lain. Itu juga bagian dari kesepakatan — sejak dulu, sejak malam ketika ia menjelaskan bahwa panggilan sayang di mulut orang yang sedang menghukum terasa jauh lebih buruk daripada dibentak.
'Saya minta izin,' kata Gilang. 'Dekat. Malam ini.'
Ia mengucapkannya dengan cara yang sama seperti ia mengucapkannya berbulan-bulan terakhir: pelan, jelas, tanpa mendekat lebih dulu.
'Ini bukan tebusan,' lanjutnya. 'Bukan karena cincin keluar minggu lalu. Bukan tanda apa pun sudah lunas. Kalau belum, jawabannya belum, dan saya berhenti. Berhenti berarti berhenti. Saya hafal.'
Kinara menarik napas, menahannya sebentar, lalu mengembuskannya.
Ia memeriksa dirinya sendiri sebelum menjawab — kebiasaan yang ia bangun dengan susah payah bersama seorang psikolog yang ia bayar sendiri selama sembilan bulan. Apakah ini keinginannya, atau rasa lelah? Apakah ini karena ia mau, atau karena malam terasa tenang dan menolak terasa merepotkan?
Psikolog itu pernah mengatakan satu kalimat yang tidak pernah hilang dari kepalanya: bahwa tubuh yang pernah dipakai sebagai alat pembayaran perlu waktu lebih lama daripada perasaan untuk percaya bahwa sekarang ia cuma tubuh. Kinara sempat marah mendengarnya. Belakangan ia mengakuinya sebagai kalimat paling berguna yang pernah ia bayar.
'Ya,' katanya akhirnya. 'Izin.'
'Terima kasih.'
'Tunggu. Ada syaratnya, dan syaratnya sama seperti dulu.' Ia meletakkan buku catatan ke meja. 'Rem tetap berlaku besok pagi. Ini tidak menghapus apa pun. Jangan diceritakan ke siapa pun, termasuk Reza, walaupun cuma lewat raut muka. Dan jangan pakai kata sayang malam ini sebagai pengganti hal-hal yang harus Bapak lakukan besok.'
'Tidak akan.'
'Bagus.' Ia berdiri lebih dulu. 'Gilang.'
Ia memanggil namanya. Itu penting, dan keduanya tahu kenapa.
Lampu ruang tengah dimatikan. Sisanya milik mereka berdua, tanpa penonton, tanpa masa lalu yang diseret masuk sebagai bahan, tanpa satu pun kalimat yang berbau perhitungan.
Paginya kopi dibuat seperti biasa, dua cangkir, satu tanpa gula. Roti dipanggang terlalu lama dan tetap dimakan. Ada tetangga yang memotong rumput terlalu pagi dan tidak ada yang mengeluh. Kinara membaca berita di ponselnya. Gilang membaca lembar perkiraan biaya. Tidak ada yang berubah bentuk hanya karena semalam.
'Ini tidak otomatis jadi lunas,' kata Kinara, tanpa mengangkat wajah dari layar.
'Tidak otomatis,' kata Gilang.
'Dan jarak dua bantal itu tetap.'
'Tetap. Sampai kau bilang lain, dan kalau kau tidak pernah bilang lain, ya tetap.'
Malam berikutnya ia bertanya lagi — karena satu kali ya bukan izin permanen, dan itu satu-satunya hal yang tidak pernah ia tawar sejak memo penutupan proyek ditulis.
Jawabannya malam itu belum.
'Belum,' kata Kinara. 'Bukan karena marah. Cuma belum.'
'Baik,' kata Gilang, dan ia benar-benar berhenti di situ, lalu pergi tidur di kamarnya sendiri seperti bulan-bulan sebelumnya, tanpa menghela napas panjang di lorong, tanpa satu pun isyarat yang bisa dibaca sebagai tagihan.
Kinara mendengar pintu kamar itu tertutup dari tempatnya berbaring, dan menyadari bahwa suara pintu itu tidak lagi membuat perutnya mengeras. Dulu bunyi itu berarti sesuatu sedang dihitung di kepala orang di baliknya. Sekarang bunyi itu cuma berarti seseorang pergi tidur.
Mira bertanya di telepon dua hari kemudian, dengan caranya yang khas.
'Rem masih?'
'Masih.'
'Ditanya tiap kali?'
'Tiap kali.'
'Dan kau tidak capek?' tanya Mira. 'Jujur saja.'
Kinara memikirkannya sebentar. 'Kadang. Tapi capek yang ini bentuknya beda. Ini capek karena hati-hati. Yang dulu, capek karena takut. Saya pilih yang sekarang.'
'Setahun lebih dan masih ditanya,' kata Mira. 'Ada yang bilang itu kaku.'
'Ada juga yang bilang pernikahan itu berarti tidak perlu ditanya lagi,' kata Kinara. 'Orang-orang itu yang membuat saya butuh sembilan bulan terapi.'
Ada satu hal lagi yang tidak pernah ia ceritakan kepada Mira, dan tidak berencana ia ceritakan kepada siapa pun. Setelah malam Sabtu itu, Gilang tidak sekali pun menyinggungnya lagi — tidak lewat lelucon, tidak lewat tatapan, tidak lewat sikap yang tiba-tiba lebih manis di pagi hari. Persis seperti yang ia minta. Justru itulah yang akhirnya membuat Kinara bisa memikirkan malam itu tanpa memeriksa apakah ada tagihan yang menempel di belakangnya.
Di buku catatannya malam itu ia menulis satu baris, pendek, dengan tinta hitam: izin — ya. Bukan otomatis. Lalu ia menutup bukunya dan mematikan lampu, dan besoknya pergi bekerja seperti biasa.