Kinara tidak menunggu untuk menghadapi Gilang dengan bukti kebenaran itu. Ia tidak menunggu untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah atas kebangkrutan yang membunuh ayah Gilang. Ia tidak menunggu untuk membuktikan bahwa Gilang salah tentangnya.
Kinara menghadapi Gilang malam itu juga, ketika Gilang pulang dari kantor dengan wajah yang lelah, dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi.
'Gilang, kita perlu bicara,' kata Kinara dengan suara yang teguh ketika Gilang masuk ke ruang tamu dengan langkah yang lelah.
Gilang menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi. 'Aku tidak ingin bicara denganmu, Kinara. Aku tidak ingin mendengar apa pun yang kau katakan.'
'Kau harus mendengar saya, Gilang. Kau harus mendengar kebenaran tentang kebangkrutan itu, tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan perusahaan ayahmu, tentang bagaimana saya tidak bersalah atas kebangkrutan yang membunuh ayahmu.' Kinara menatapnya dengan tatapan yang teguh, dengan tatapan yang penuh dengan kebenaran yang tidak bisa disangkal.
Gilang tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Kinara dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi.
'Aku tidak ingin mendengar kebenaran darimu, Kinara. Aku tidak ingin mendengar bahwa kau tidak bersalah atas kebangkrutan itu. Aku tidak ingin mendengar bahwa kau tidak memanipulasi laporan keuangan.' Gilang menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang penuh dengan dendam yang sudah mengakar. 'Aku hanya ingin kau menderita untuk apa yang sudah kau lakukan pada ayahku. Aku hanya ingin kau membayar untuk kebangkrutan yang membunuh ayahku.'
Kinara tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Gilang, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Gilang tidak ingin mendengar kebenaran itu. Gilang tidak ingin mendengar bahwa Kinara tidak bersalah. Gilang tidak ingin mendengar bahwa Kinara tidak memanipulasi laporan keuangan.
Gilang hanya ingin Kinara menderita untuk kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
'Aku punya bukti bahwa saya tidak bersalah, Gilang. Aku punya dokumen yang menunjukkan bahwa ayahmu sendiri yang memanipulasi laporan keuangan, bahwa ayahmu sendiri yang menyebabkan kebangkrutan perusahaan kalian, bahwa saya hanya menjadi kambing hitam untuk kesalahan yang tidak pernah saya lakukan.' Kinara menatapnya dengan tatapan yang teguh, dengan tatapan yang penuh dengan kebenaran yang tidak bisa disangkal. 'Aku punya bukti bahwa saya tidak bersalah, Gilang. Dan kau harus mendengarnya.'
Gilang tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Kinara dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi.
'Aku tidak ingin mendengar bukti itu, Kinara. Aku tidak ingin mendengar dokumen itu. Aku tidak ingin mendengar bahwa kau tidak bersalah atas kebangkrutan itu.' Gilang menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang penuh dengan dendam yang sudah mengakar. 'Aku hanya ingin kau menderita untuk apa yang sudah kau lakukan pada ayahku. Aku hanya ingin kau membayar untuk kebangkrutan yang membunuh ayahku.'
Kinara tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Gilang, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Gilang tidak ingin mendengar kebenaran itu. Gilang tidak ingin mendengar bahwa Kinara tidak bersalah. Gilang tidak ingin mendengar bahwa Kinara tidak memanipulasi laporan keuangan.
Gilang hanya ingin Kinara menderita untuk kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
'Gilang, kau tidak bisa terus membenci saya untuk sesuatu yang tidak pernah saya lakukan,' kata Kinara dengan suara yang pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Kau tidak bisa terus menghukum saya untuk kebangkrutan yang tidak pernah saya sebabkan. Kau tidak bisa terus menghancurkan saya dari dalam untuk kesalahan yang tidak pernah saya lakukan.'
Gilang tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Kinara dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang sudah tidak lembut lagi, dengan tatapan yang sudah tidak tulus lagi.
'Aku bisa, Kinara. Aku bisa terus membencimu untuk sesuatu yang tidak pernah kau lakukan. Aku bisa terus menghukummu untuk kebangkrutan yang tidak pernah kau sebabkan. Aku bisa terus menghancurkanmu dari dalam untuk kesalahan yang tidak pernah kau lakukan.' Gilang menatapnya dengan tatapan yang dingin, dengan tatapan yang penuh dengan dendam yang sudah mengakar. 'Dan aku tidak akan berhenti sampai kau hancur seperti ayahku hancur.'
Kinara tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Gilang, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Gilang tidak ingin mendengar kebenaran itu. Gilang tidak ingin mendengar bahwa Kinara tidak bersalah. Gilang tidak ingin mendengar bahwa Kinara tidak memanipulasi laporan keuangan.
Gilang hanya ingin Kinara menderita untuk kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Dan itu menghancurkan Kinara dari dalam dengan cara yang paling kejam.