Kinara tidak bisa tinggal di mansion itu lagi. Ia tidak bisa tinggal dengan pria yang tidak ingin mendengar kebenaran, dengan pria yang tidak ingin mempercayainya, dengan pria yang hanya ingin menghancurkannya dari dalam untuk kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Kinara memutuskan untuk pergi.
Ia mengemas barang-barangnya di kamar tidur itu dengan tangan yang gemetar, dengan air mata yang mengalir di wajahnya, dengan hati yang hancur. Ia tidak membawa banyak — hanya beberapa pakaian dan buku-bukunya. Ia tidak membawa apa pun yang dibelikan Gilang untuknya. Ia tidak membawa apa pun yang mengingatkannya pada pernikahan yang salah ini.
Ia menulis surat untuk Gilang, surat yang singkat dan jelas:
'Gilang,
Aku pergi. Aku tidak bisa tinggal di sini lagi, tidak setelah kau tidak ingin mendengar kebenaran tentang kebangkrutan itu. Aku tidak bisa tinggal dengan pria yang tidak ingin mempercayai saya, dengan pria yang hanya ingin menghancurkan saya dari dalam untuk kesalahan yang tidak pernah saya lakukan.
Aku tidak bersalah atas kebangkrutan yang membunuh ayahmu, Gilang. Aku tidak memanipulasi laporan keuangan. Aku tidak menyebabkan kebangkrutan itu. Aku tidak bersalah.
Aku punya bukti bahwa saya tidak bersalah, dan aku akan membuktikannya pada semua orang. Aku akan membuktikan bahwa saya tidak bersalah, bahwa saya tidak memanipulasi laporan keuangan, bahwa saya tidak menyebabkan kebangkrutan yang membunuh ayahmu.
Maaf jika aku mengecewakanmu. Tapi aku tidak bisa tinggal dengan pria yang tidak ingin mempercayai saya.
Kinara'
Kinara meletakkan surat itu di meja di kamar tidurnya, di samping cincin pernikahan yang Gilang berikan padanya. Ia menatap cincin itu untuk waktu yang lama, memikirkan semua yang sudah terjadi, semua yang sudah ia rasakan, semua yang sudah hancur.
Lalu ia mengambil tasnya dan berjalan keluar dari kamar tidur itu, menuruni tangga, menuju pintu depan.
Tapi Gilang sudah ada di sana, berdiri di depan pintu dengan wajah yang gelap dan mata yang penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
'Kau mau pergi ke mana?' tanya Gilang, suaranya rendah dan berbahaya.
Kinara berhenti, tas di tangannya. 'Saya pergi, Gilang. Saya tidak bisa tinggal di sini lagi dengan pria yang tidak ingin mempercayai saya.'
'Kau tidak bisa pergi.' Gilang berjalan ke arahnya, langkahnya cepat, dan berhenti di depannya. 'Kau tidak bisa meninggalkanku seperti ini. Kau tidak bisa meninggalkanku sebelum kau membayar untuk apa yang sudah kau lakukan pada ayahku.'
'Saya tidak melakukan apa-apa pada ayahmu, Gilang. Saya tidak memanipulasi laporan keuangan. Saya tidak menyebabkan kebangkrutan yang membunuh ayahmu. Saya tidak bersalah.' Kinara menatapnya dengan tatapan yang teguh, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Dan saya akan membuktikannya pada semua orang. Saya akan membuktikan bahwa saya tidak bersalah.'
Gilang tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Kinara, dan untuk pertama kalinya, Kinara melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat di mata Gilang: keraguan. Keraguan yang mendalam. Keraguan yang hancur.
'Aku tidak ingin kau pergi, Kinara,' kata Gilang akhirnya, suaranya serak. 'Aku tidak ingin kau pergi sebelum aku tahu kebenaran tentang kebangkrutan itu, sebelum aku tahu apakah kau bersalah atau tidak.'
Kinara tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Gilang, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Gilang tidak hanya ingin menghancurkannya dari dalam. Gilang juga ingin tahu kebenaran itu. Gilang juga ingin tahu apakah Kinara bersalah atau tidak.
'Saya tidak bersalah, Gilang,' kata Kinara pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Saya tidak bersalah atas kebangkrutan yang membunuh ayahmu. Dan saya akan membuktikannya pada semua orang.'
Gilang tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Kinara, dan untuk pertama kalinya, Kinara melihat bahwa Gilang tidak hanya ingin menghancurkannya dari dalam. Gilang juga ingin tahu kebenaran itu. Gilang juga ingin tahu apakah Kinara bersalah atau tidak.
'Kau tidak bisa pergi sebelum aku tahu kebenaran itu, Kinara. Kau tidak bisa pergi sebelum aku tahu apakah kau bersalah atau tidak.' Gilang menatapnya dengan tatapan yang dalam, dengan keraguan yang masih ada, dengan keinginan untuk tahu kebenaran yang masih berjuang. 'Kau harus tinggal sampai aku tahu kebenaran itu.'
Kinara tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Gilang, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Gilang tidak hanya ingin menghancurkannya dari dalam. Gilang juga ingin tahu kebenaran itu. Gilang juga ingin tahu apakah Kinara bersalah atau tidak.
Kinara tidak tahu apakah ia harus tinggal atau pergi. Kinara tidak tahu apakah ia harus membuktikan bahwa ia tidak bersalah atau tidak. Kinara tidak tahu apakah ia harus mencoba membuat Gilang mempercayainya atau tidak.
Tapi Kinara tahu satu hal: ia sudah jatuh cinta pada Gilang. Ia sudah jatuh cinta pada pria yang tidak ingin mempercayainya, pada pria yang hanya ingin menghancurkannya dari dalam, pada pria yang tidak mencintainya dengan sepenuh hati.
Dan itu menghancurkan Kinara dari dalam dengan cara yang paling kejam.
Kinara memutuskan untuk tinggal. Ia memutuskan untuk tinggal untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Ia memutuskan untuk tinggal untuk membuat Gilang mempercayainya. Ia memutuskan untuk tinggal untuk membuktikan bahwa cinta mereka nyata.
Tapi Kinara tidak tahu apakah itu akan cukup. Kinara tidak tahu apakah Gilang akan pernah mempercayainya. Kinara tidak tahu apakah Gilang akan pernah mencintainya dengan sepenuh hati.
Kinara hanya tahu bahwa ia sudah jatuh cinta pada Gilang, dan ia tidak bisa pergi begitu saja.
Dan itu menghancurkan Kinara dari dalam dengan cara yang paling kejam.