Usul itu datang dari bagian hubungan masyarakat, dibungkus rapi seperti biasa: sebuah acara kecil untuk menandai, katanya, babak baru keluarga Direktur Utama. Kata yang dipakai bukan pesta. Kata yang dipakai jauh lebih halus — syukuran terbatas, dengan daftar tamu yang disusun tiga lapis dan satu meja untuk wartawan yang dianggap ramah.
Gilang membacanya sampai halaman kedua sebelum menutup map itu.
'Cabut,' katanya kepada Reza. 'Jangan sampai ke agenda.'
'Sudah saya cabut kemarin,' kata Reza. 'Saya cuma menunggu Bapak mengatakannya sendiri.'
Malamnya ia melaporkan kejadian itu kepada Kinara — bukan hasil akhirnya saja, tapi juga bagian yang tidak enak: bahwa selama dua menit pertama membaca usulan itu, ia sempat mempertimbangkannya.
'Kenapa sempat?' tanya Kinara.
'Karena isi kepalanya masuk akal,' aku Gilang. 'Selama setahun terakhir kita cuma diam. Orang mengarang sendiri ceritanya. Satu acara bisa menutup mulut banyak pihak.'
Kinara meletakkan sendoknya. Ketika ia bicara, suaranya tidak keras, tapi tidak ada ruang di dalamnya untuk perundingan.
'Tidak ada pesta besar,' katanya. 'Tidak ada wartawan. Tidak ada foto kita berdua yang dipasang untuk membuktikan apa pun kepada siapa pun. Kalau memang harus ada penutup, penutupnya rumah ini, pekerjaan saya, dan mungkin teh dengan Ibu sesekali. Itu saja.'
'Setuju,' kata Gilang.
'Bapak setuju terlalu cepat.'
'Karena saya tahu alasannya,' katanya. 'Kalau kita berdiri di panggung sebagai pasangan yang sudah baik-baik saja, mulai malam itu juga kita harus terus terlihat baik-baik saja. Dan orang pertama yang akan dituntut menjaga penampilan itu bukan saya. Kau.'
Kinara menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.
'Betul,' katanya akhirnya. 'Saya senang Bapak sampai ke situ sendiri.'
Bagian hubungan masyarakat mencoba sekali lagi dua hari kemudian, dengan bentuk yang lebih kecil: bukan acara, hanya pertemuan santai seratus orang. Reza menolaknya di pintu tanpa perlu menghubungi siapa pun.
Reza melaporkan penolakan itu dengan satu kalimat, dan menambahkan satu hal yang tidak diminta.
'Saya catat siapa yang mengusulkan,' katanya. 'Bukan untuk dihukum. Untuk diingat kalau tahun depan usulnya muncul lagi dengan nama acara yang berbeda.'
'Bagus,' kata Gilang. 'Dan jangan sampai catatan itu berubah jadi daftar orang yang harus disingkirkan.'
'Tidak akan,' kata Reza. 'Bapak sudah punya satu daftar seperti itu dulu. Saya yang membakarnya.'
Vendor yang sudah telanjur disiapkan pergi dengan wajah masam. Om, yang entah bagaimana mengetahui rencana itu sejak awal, menyebut kata kesempatan yang terbuang ketika berpapasan di lift.
'Citra yang dibeli itu bukan citra,' kata Gilang. 'Itu utang.'
Om tidak menjawab, dan tidak mengangkat topik itu lagi.
Ibu, ketika akhirnya mendengar bahwa rencana acara itu dibatalkan, tidak berkomentar apa pun kepada anaknya. Ia hanya mengirim pesan singkat kepada Kinara sore itu, isinya tentang makan siang, seperti biasa — tapi Kinara membacanya dua kali dan menyimpulkan bahwa perempuan itu lega.
Kepada Kinara, dalam teh berikutnya, ia hanya berkata satu kalimat pendek: 'Bagus tidak ada acara. Orang cuma datang untuk melihat siapa yang kelihatan lebih menderita.'
Mira memberi tanggapan paling terus terang, seperti biasa.
'Bagus,' katanya di makan siang. 'Jangan sampai kamu jadi pengantin ulang yang dipajang. Saya sudah lihat dua teman begitu. Enam bulan kemudian cerai, tapi fotonya masih dipakai perusahaan suaminya di laporan tahunan.'
Yang mereka lakukan sebagai gantinya berlangsung di dapur, malam Jumat, tanpa satu pun tamu.
Kinara menuliskan daftar pendek di halaman kosong: rutin, ruang, hormat yang kaku, memilih dengan sadar, malam tenang, tanpa acara besar. Gilang menambahkan di bawahnya dengan tulisan tangannya yang lebih tegak: kesempatan untuk tidak mengulang, memo penutupan, bukan simbol, penyaring tetap hidup, pintu tidak ditahan.
Mereka membacanya sekali, bergantian, keras-keras.
Lalu tidak menandatanganinya.
'Kenapa tidak?' tanya Gilang.
'Karena ini bukan perjanjian baru,' kata Kinara. 'Yang perjanjian sudah ada dua belas poin dan sudah ditandatangani. Ini cuma catatan tentang apa yang kita kerjakan tiap hari. Kalau ditandatangani, besok kita akan mulai memperlakukannya sebagai pencapaian.'
Ia menyelipkan kertas itu di antara halaman buku catatannya, tanpa amplop, tanpa map.
'Kalau nanti ada orang yang menemukan buku ini dan membaca daftar tadi,' kata Gilang, 'mereka tidak akan mengerti apa-apa.'
'Bagus,' kata Kinara. 'Yang penting kita mengerti. Daftar itu bukan untuk dibaca orang lain, dan bukan untuk membuktikan apa pun kepada siapa pun.'
'Penutup perang bukan taburan kertas warna-warni,' katanya. 'Penutupnya hal biasa yang dijaga terus. Besok masih ada yang perlu diwaspadai. Bara masih ada di suatu tempat, Om masih akan mencoba, dan saya masih belum sepenuhnya percaya. Tapi tidak akan ada pesta untuk mencuci apa pun.'
'Tidak ada pesta,' kata Gilang.
Ada satu percakapan lagi sebelum topik itu benar-benar ditutup, dan itu terjadi di mobil, dalam perjalanan pulang dari kantor pada hari yang sama.
'Boleh saya tanya sesuatu yang mungkin tidak enak?' kata Gilang.
'Boleh.'
'Kalau suatu hari nanti kau merasa sudah waktunya orang tahu bahwa namamu bersih — bukan versi saya, versimu sendiri — kau mau lewat mana?'
Kinara memikirkannya cukup lama sampai mobil melewati dua lampu merah.
'Lewat pengadilan, kalau perlu,' katanya akhirnya. 'Atau lewat pekerjaan saya sendiri, pelan-pelan, sampai orang lupa bertanya. Yang jelas bukan lewat acara yang dibayar perusahaan suami saya.'
'Kenapa?'
'Karena nama yang dibersihkan dengan uang orang lain tidak pernah benar-benar jadi milik saya,' kata Kinara. 'Dan saya sudah terlalu lama hidup dengan barang-barang yang katanya milik saya tapi sebenarnya bukan.'
Gilang tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sekali, dan tidak pernah menawarkan acara apa pun lagi setelah malam itu.
Rumah itu tenang lagi malam itu. Payung di rak. Kartu nama Kinara — yang cetakannya sudah diperbarui sekali karena jabatannya naik tipis — tersimpan di laci meja teras. Tidak ada undangan berkilau di mana pun, dan tidak ada satu pun orang di luar rumah itu yang tahu bahwa sesuatu baru saja ditutup di dalamnya.