Godaan itu datang dari orang yang paling berhak mengucapkannya.
'Cerai saja,' kata Mira di makan siang, setengah bercanda dengan cara yang jelas tidak sepenuhnya bercanda. 'Hidupmu sudah naik. Kerjamu jalan. Untuk apa capek-capek mengerem orang di rumah besar itu?'
Kinara menatap kopinya cukup lama sebelum menjawab.
'Saya memilih,' katanya. 'Sadar.'
'Semua orang yang bertahan bilang begitu.'
'Saya tahu,' kata Kinara. 'Makanya saya jelaskan bedanya, sekali saja, biar kamu bisa menilai sendiri.'
Ia meletakkan cangkirnya.
'Orang yang terjebak tidak punya pintu. Saya punya. Ada dua belas poin yang ditandatangani, ada memo penutupan yang dia tulis sendiri, ada pengacara yang memegang berkas saya, ada pekerjaan yang gajinya bukan dari dia, dan ada kotak deposit yang kuncinya cuma saya yang punya. Saya bisa pergi bulan ini kalau saya mau, dan tidak ada satu pun yang bisa menahan saya secara hukum maupun secara uang.'
'Lalu kenapa tidak?'
'Karena hari ini saya memilih tidak,' kata Kinara. 'Bukan karena saya tidak bisa. Itu bedanya.'
Mira diam agak lama, mengaduk minumannya tanpa perlu.
'Saya menggoda supaya kamu mengucapkannya,' akunya akhirnya. 'Saya mau dengar kamu bilang memilih, bukan bilang tidak apa-apa.'
'Sudah saya bilang.'
'Sudah,' kata Mira. 'Sekarang makan.'
Kinara makan.
Sebelum mereka berpisah di depan lift, Mira mengatakan satu hal lagi, dengan nada yang berubah.
'Kalau suatu hari kamu memilih yang sebaliknya,' katanya, 'kabari saya. Saya yang bawa tas. Kamu tidak perlu mengemasi apa pun sendirian.'
Kinara mengangguk. Tenggorokannya terasa lebih penuh dari yang ia perkirakan.
'Terima kasih. Dan tolong jangan sebarkan godaan tadi ke grup mana pun. Rumah saya bukan bahan obrolan.'
'Tidak akan,' kata Mira.
Malamnya ia melaporkan percakapan itu kepada Gilang. Seluruhnya, termasuk bagian tas.
Ia sengaja menceritakannya, dan sengaja memperhatikan reaksi lelaki itu.
Gilang menelan sesuatu. Wajahnya berubah selama kira-kira dua detik — dan Kinara melihat dengan jelas bentuk lama yang hampir muncul di sana: kepanikan yang biasanya berubah menjadi tuntutan, tuntutan yang berubah menjadi pembatasan, pembatasan yang disebut perlindungan.
Lalu bentuk itu surut.
'Saya dengar,' kata Gilang. 'Kau memilih, dengan sadar, hari ini.'
'Iya.'
'Dan temanmu siap membawa tas kalau suatu hari kau memilih sebaliknya.'
'Iya.'
Gilang mengangguk pelan. 'Bagus.'
Kinara mengangkat alis. 'Bagus?'
'Bagus kau punya orang seperti itu,' katanya. 'Dua tahun lalu saya akan berusaha menjauhkan kalian. Saya tahu persis bagaimana caranya, dan saya sudah pernah melakukannya kepada dua orang temanmu yang lain. Sekarang saya tahu itu bukan melindungi. Itu memutus tali supaya kau tidak bisa naik.'
Kinara tidak menjawab langsung. Ia sedang menahan sesuatu, dan butuh beberapa detik sebelum bisa bicara dengan suara yang datar.
'Bapak hampir minta jaminan tadi,' katanya. 'Saya lihat.'
'Hampir,' aku Gilang. 'Saya hampir bertanya apakah kau berjanji tidak akan pergi.'
'Dan kenapa tidak jadi?'
'Karena jaminan itu bukan janji,' kata Gilang. 'Itu borgol yang diucapkan dengan sopan. Kalau kau berjanji malam ini, besok setiap kali kau kesal saya akan menagih janji itu, dan kau akan berhenti mengatakan apa yang kau rasakan supaya tidak dianggap melanggar. Saya sudah pernah membuat rumah seperti itu. Sekali saja sudah terlalu banyak.'
Kinara membuka buku catatannya dan menulis sesuatu, lalu memutar buku itu supaya bisa dibaca dari seberang meja.
Memilih dengan sadar. Rem masih berlaku. Dua pintu tetap ada. Mira membawa tas kalau perlu. Ini bukan terjebak.
'Boleh saya paraf?' tanya Gilang.
'Dengan pensil,' kata Kinara. 'Supaya bisa dihapus kalau ternyata Bapak mengulang.'
Ia memarafnya dengan pensil.
'Saya takut pada tas itu,' katanya kemudian, jujur. 'Tapi saya lebih takut menjadi orang yang membuat tas itu diperlukan.'
'Takut yang begitu boleh,' kata Kinara. 'Yang tidak boleh itu takut yang berubah jadi kandang.'
'Bagaimana saya tahu bedanya?' tanya Gilang. 'Waktu itu saya juga merasa sedang melindungi.'
'Gampang,' kata Kinara. 'Kalau tindakan Bapak menambah pilihan saya, itu melindungi. Kalau mengurangi, itu kandang. Tidak peduli seniat apa pun rasanya di kepala Bapak.'
Gilang mengulang kalimat itu dalam hati dua kali, lalu mengambil pensil dan menuliskannya di halaman yang sama, di bawah paraf tadi.
Sebelum tidur, Gilang mengatakan satu hal lagi, dari ambang pintu dapur, dengan nada orang yang sudah menimbang apakah kalimat itu perlu diucapkan.
'Kalau suatu hari kau memilih pergi,' katanya, 'saya tidak akan menghalangi lewat pengacara. Saya tidak akan menahan berkas, tidak akan mempersulit apa pun, tidak akan menelepon siapa pun di firmamu. Saya mau kau tahu itu sekarang, waktu kau masih tinggal — bukan nanti waktu kau sudah pergi dan kalimat ini jadi tidak ada gunanya.'
Kinara meletakkan sumpitnya.
'Kenapa bilang sekarang?'
'Karena janji yang diucapkan waktu orangnya masih ada itu yang berlaku,' kata Gilang. 'Yang diucapkan waktu orangnya sudah di pintu itu cuma tawar-menawar.'
Kinara memandangnya cukup lama. Ada bagian dari dirinya yang ingin membalas dengan sesuatu yang setara, sesuatu yang menenangkan. Ia menahannya, karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi menukar rasa aman orang lain dengan kejujurannya sendiri.
'Dicatat,' katanya. 'Dan saya hargai.'
'Itu saja yang saya minta.'
Mereka makan mi malam itu, seperti kebanyakan malam belakangan ini, dan tidak ada satu pun kalimat besar yang diucapkan sesudahnya. Menjelang tengah malam, ketika Gilang sudah naik, Kinara duduk sendirian sebentar di ruang tengah dengan lampu yang tidak dinyalakan.
Ia memikirkan tawaran Mira — bukan sebagai godaan, melainkan sebagai kemungkinan yang nyata dan tersedia. Ada tas. Ada tempat. Ada teman yang tidak akan bertanya apa-apa di perjalanan.
Dan ia menyadari bahwa justru karena semua itu tersedia, keputusannya malam ini punya arti. Perempuan yang tidak punya pilihan tidak bisa disebut memilih. Ia hanya bertahan, dan orang-orang di luar akan menyebutnya setia karena itu lebih enak didengar.
Ia berdiri, mematikan lampu dapur yang masih menyala, dan naik ke lantai atas.
Di buku catatan yang sudah ditutup, tinta hitam itu mengering di atas tiga kata yang tidak pernah dibacakan keras-keras oleh siapa pun di rumah itu: bukan terjebak, memilih.