Undangan itu datang lewat pesan singkat, dua kalimat, dari nomor yang selama tiga tahun jarang sekali menghubungi Kinara secara langsung.
Sore ini di rumah. Teh saja, berdua.
Tidak ada Om di dalamnya. Tidak ada acara keluarga. Tidak ada alasan resmi yang biasanya dipakai untuk membungkus pertemuan seperti ini.
Kinara membacanya tiga kali, lalu membalas satu kata: baik.
Ia memilih bajunya sendiri sore itu — bukan hal yang perlu disebut, kecuali kalau diingat bahwa selama dua tahun pertama pernikahan mereka, setiap kunjungan ke rumah itu selalu didahului komentar tentang apa yang pantas dan apa yang tidak. Gilang tidak mengoreksi apa pun. Ia hanya mengantar, lalu berjalan ke kebun belakang dan berdiri di sana cukup lama, jauh dari teras, memastikan tidak terdengar.
Di teras, Ibu menuangkan teh dengan tangan yang tidak sepenuhnya mantap.
'Saya masih berduka,' katanya, tanpa pengantar. 'Dan saya belum selesai dengan semua kertas yang beredar itu. Saya tidak akan berpura-pura sudah selesai.'
Kinara meletakkan cangkirnya. 'Saya tidak minta Ibu selesai.'
'Tapi saya perhatikan satu hal,' lanjut perempuan itu. 'Selama semua ini, kamu tidak pernah memakai duka saya untuk membela diri. Tidak sekali pun saya baca namamu di berita dengan kalimat tentang mertua yang berduka. Kamu bekerja, dan kamu diam.'
'Duka Ibu bukan sidang saya,' kata Kinara.
Ibu menatapnya lama. 'Itu yang saya mau bilang. Untuk teh sore ini, itu cukup.'
Mereka bicara sepuluh menit. Bukan tentang berkas, bukan tentang tuduhan, bukan tentang siapa yang berutang penjelasan kepada siapa. Ibu bertanya soal pekerjaan barunya dengan pertanyaan-pertanyaan pendek yang jelas disiapkan sebelumnya. Kinara menjawab seperlunya, tanpa memperbesar, tanpa memancing.
Satu kali, di tengah percakapan, Ibu menyebut nama suaminya yang sudah meninggal. Suaranya serak di suku kata kedua, dan ia berhenti sebentar untuk membetulkan letak cangkir yang sebenarnya tidak perlu dibetulkan.
Kinara tidak mengisi jeda itu. Ia tidak menyebut berkas apa pun. Ia tidak berkata bahwa dosa lelaki itu nyata, meskipun ia tahu, dan meskipun ia punya salinannya di kotak deposit.
Ia hanya menunggu sampai Ibu siap melanjutkan.
'Terima kasih tidak ceramah,' kata Ibu kemudian.
Tidak ada pelukan sore itu. Tidak ada permintaan maaf yang dipaksakan keluar dari salah satu pihak. Ketika Gilang kembali dari kebun, teh sudah tinggal setengah, dan ibunya berdiri untuk mengantar mereka ke pintu.
Di ambang, perempuan itu menyentuh lengan anaknya sekali.
'Jaga dia,' katanya. 'Dan jangan pernah lebih kejam dari yang perlu. Kamu sudah pernah, dan saya tahu.'
Gilang menunduk sedikit. 'Saya sedang berusaha berhenti sama sekali, Bu. Bukan cuma dikurangi.'
Di dalam mobil, dalam perjalanan pulang, Kinara memandang ke luar jendela cukup lama sebelum bicara.
'Itu bukan pelunasan,' katanya. 'Jangan dianggap begitu.'
'Saya tidak menganggapnya begitu.'
'Dan jangan dinaikkan jadi acara rutin,' lanjutnya. 'Kalau Ibu mengundang lagi, saya yang memutuskan datang atau tidak. Bukan dijadwalkan orang lain sebagai program perbaikan keluarga.'
'Tanya dulu, selalu,' kata Gilang. 'Terima kasih sudah datang karena memilih.'
Ada satu bagian dari sore itu yang tidak diceritakan Kinara kepada siapa pun, bahkan kepada Mira.
Menjelang teh habis, Ibu menanyakan sesuatu yang jelas sudah lama disimpannya.
'Waktu semuanya terjadi,' katanya, 'apa kamu pernah berpikir untuk pergi?'
Kinara mempertimbangkan beberapa jawaban sebelum memilih yang paling jujur.
'Setiap hari, selama satu tahun pertama,' katanya. 'Lalu saya berhenti berpikir begitu — bukan karena membaik, tapi karena saya kehabisan tenaga untuk memikirkannya.'
Ibu mengangguk pelan, dan tidak bertanya lagi. Ia menuangkan sisa teh ke cangkir Kinara tanpa ditanya, sedikit terlalu penuh, seperti orang yang tangannya sedang tidak sepenuhnya diperintah kepalanya.
'Saya juga pernah begitu,' katanya akhirnya. 'Bukan dengan anak saya. Dengan suami saya.'
Kalimat itu dijatuhkan begitu saja, tanpa penjelasan, dan tidak diambil kembali. Keduanya membiarkannya di meja seperti benda yang terlalu panas untuk dipegang.
'Terima kasih tehnya, Bu,' kata Kinara kemudian.
'Datang lagi kalau kamu mau,' kata Ibu. 'Kalau tidak mau juga tidak apa-apa.'
Itu, bagi Kinara, adalah kalimat paling murah hati yang pernah ia terima dari rumah itu: sebuah undangan yang boleh ditolak.
Keesokan paginya, satu pesan masuk ke ponsel Kinara dari nomor yang sama. Isinya tiga kata: jaga makan, ya.
Ia menatap layar itu agak lama sebelum membalas dengan kalimat yang sopan dan agak kaku, dan setelah mengirimnya ia menyadari bahwa kekakuan itu justru yang membuatnya terasa jujur. Tidak ada yang berpura-pura mesra. Hanya dua perempuan yang kehilangan hal berbeda dari lelaki yang sama, dan sepakat untuk tidak saling menagih.
Di rumah, malam itu, Gilang bertanya bagaimana sorenya — sekali saja, dan tidak mengulang ketika jawabannya pendek.
'Hormat,' kata Kinara. 'Tidak lebih, tidak kurang.'
'Ibu bilang sesuatu tentang saya?'
'Ada,' kata Kinara. 'Dan itu antara Ibu dan saya.'
Gilang menerima jawaban itu tanpa menawar. Ia sempat membuka mulut untuk bertanya lagi, lalu menutupnya dan berbalik ke wastafel untuk mencuci dua cangkir yang sebenarnya sudah bersih.
Kinara memperhatikan punggung lelaki itu dan menyadari sesuatu yang cukup ganjil: bahwa hal paling sulit di rumah ini sekarang bukan lagi menahan tuduhan, melainkan menahan diri untuk tidak menjelaskan segalanya kepada satu sama lain. Selama tiga tahun, semua hal harus dilaporkan, diperiksa, dibuktikan. Belajar menyimpan sesuatu yang memang bukan urusan orang lain ternyata butuh latihan juga.
Minggu berikutnya tidak ada undangan lagi. Kinara tidak menunggunya, dan Gilang tidak mengusulkannya.
Undangan yang pertama itu ia simpan di laci meja teras, bukan di tempat yang terlihat. Bukan sebagai kenang-kenangan. Sebagai catatan bahwa sore itu pernah terjadi, dan berlangsung tanpa satu pun tuduhan.
Ketika Mira bertanya di makan siang bagaimana hasilnya, Kinara menjawab dengan tiga kata.
'Hormat, bukan lunas.'
'Jangan kejar pelukan,' kata Mira.
'Tidak akan,' kata Kinara. 'Yang kaku itu sudah cukup. Yang manis biasanya datang terlalu cepat dan pergi lebih cepat lagi.'