Board mencoba cantel. Di sesi 'citra dan stabilitas', seorang direktur memproyeksikan slide kasar: istri Direksi sebagai simbol pemulihan reputasi grup setelah isu lama. Foto Kinara dari acara lama — tanpa izin — nyaris masuk. Reza menghentikan di pra-rapat. Gilang membatalkan slide.
Tapi Om mendorong versi lisan. 'Publik butuh wajah bersih. Kinara bisa jadi simbol. Proyek komunikasi singkat.'
Gilang menatap meja. 'Saya tidak menjadikan istri saya simbol. Bukan topik.'
Om senyum tipu. 'Undang dia. Biar bilang sendiri.'
Gilang tidak mengundang sebagai perintah. Dia telepon Kinara — hard rule izin — jelaskan apa yang mau dilakukan board. 'Opsi. Kau boleh tolak total. Kau boleh datang potong sendiri. Saya tidak jual kau sebagai wajah.'
Kinara diam tiga detik. 'Saya datang. Saya potong. Bukan proyek. Bukan simbol.'
Di ruang board Kinara berdiri tanpa folder trophy. Suara datar. 'Saya Kinara. Saya kerja di firma lain. Saya bukan proyek Mahesa. Saya bukan simbol pemulihan. Nama saya tidak untuk slide. Kalau grup butuh reputasi — perbaiki angka dan hukum, jangan pakai badan saya. Bukan proyek. Bukan simbol. Titik.'
Keheningan. Mira di tautan audit menunduk menyembunyikan anggukan. Gilang tidak menambah pidato cinta. Hanya, 'Agenda berikutnya — angka. Slide itu dihapus permanen. Reza catat: istri bukan aset komunikasi tanpa izin tertulis tiap kali.'
'Reza catat.'
Om merah. Beberapa direktur lega. Kinara keluar lebih dulu. Di mobil dia bilang, 'Saya marah. Izinkan. Saya tidak jadi poster.'
'Diizinkan,' kata Gilang. 'Terima kasih potong. Saya hampir potong sendiri tanpa kasih kau panggung — lalu sadar itu juga mengatur mulutmu. Laporkan hampir. Kau yang potong — lebih benar.'
Kinara: 'Benar. Dua dunia. Besok firma. Jangan jadikan hari ini kemenangan PR.'
'Tidak PR. Hapus slide. Mute Om. Fokus.'
Malam sticky baru di ruang kerja Gilang: BUKAN SIMBOL. Kinara melihat, mengangguk, tidak memeluk. Potongan kalimatnya sudah cukup keras untuk menahan board yang lapar wajah.
Sebelum masuk board Kinara latihan napas di toilet lantai itu — bukan takut angka, takut dijadikan poster. Gilang menunggu di luar tanpa masuk. 'Mau batal?' 'Tidak. Saya potong.'
Setelah rapat Reza menghapus file slide dari server bersama IT. Om mencoba pulihkan. Gagal. Kinara dapat konfirmasi hapus. 'Bagus. Bukan simbol — centang dengan shredder digital.'
Sore portal kecil mencoba framing 'istri CEO tegur board'. Kinara tidak balas. Legal siap. Gilang tidak hero. Statement tidak perlu; tidak ada pernyataan resmi board soal itu. Privasi.
Malam Kinara masih marah. Gilang izinkan marah tanpa menawar jadi pelukan. 'Bukan proyek. Bukan simbol — hafal saya. Kalau muncul lagi — saya potong lagi atau tolak datang.' Gilang: 'Opsi kau. Saya tidak seret. Memo tutup proyek — selaras. Slide = membuka proyek lewat belakang. Ditutup.'
Kinara tidur awal. Sticky BUKAN SIMBOL di ruang kerja Gilang — milik rem, bukan milik pamer tamu.
Direktur yang usul simbol minta maaf kaku ke Gilang. Gilang: minta maaf ke Kinara jika perlu, bukan ke saya sebagai pemilik. Kinara terima pesan singkat hormat tanpa pertemuan. 'Cukup. Jangan ulang slide. Saya kerja.' Bukan simbol — ditegakkan dengan menolak drama tambahan.
Kinara menolak undangan podcast 'perempuan dilindungi suami'. 'Saya bukan simbol dilindungi. Saya pihak yang memotong slide.' Gilang tidak menggantikan isi. Legal tolak. Bukan proyek. Bukan simbol — konsisten di luar board juga.
Setelah board, Kinara mencuci tangan lama di wastafel. Ingin hilangkan rasa dijadikan objek. Gilang tidak masuk. Menunggu di koridor dengan air. 'Bukan simbol,' ulang Kinara. Gilang: 'Bukan. Hapus slide. Pulang. Marah boleh sampai rumah.' Di rumah marah reda jadi notes. Centang.
IT mengirim log hapus slide ke Reza. Gilang tunjukkan ringkas ke Kinara. Kinara: 'Hapus. Bagus. Kalau ada backup Om — buru.' Reza buru. Backup ikut mati. Bukan simbol — ditegakkan sampai server.
Kinara menulis di notes: board lapar wajah; saya bukan makanan. Gilang membaca izin. Mengangguk. Tidak menambahkan hero story ke minutes publik.
Malam setelah board Kinara bilang hampir tidak datang. Gilang: 'Opsi selalu. Terima kasih datang potong. Bukan simbol — hafal rumah juga.' Sticky BUKAN SIMBOL. Mi. Tidur.
Om status samar soal 'perempuan terlalu berani di board'. Ibu membalas di grup keluarga: cukup. Gilang mute. Kinara tidak masuk grup. Bukan simbol — juga bukan bahan status.
Kinara menolak foto 'resmi keluarga bisnis' yang tiba-tiba diusulkan PR setelah board. Gilang cabut usul sebelum rapat. 'Bukan simbol. Hafal.' PR tunduk. Kinara: 'Terima kasih cabut sebelum saya marah lagi. Rem eksternal bagus.' Sticky BUKAN SIMBOL. Hapus slide. Tolak foto. Konsisten.
Bukan proyek. Bukan simbol. Diulang Kinara di notes sampai tidak perlu marah baru tiap ingat board. Gilang hafal. Server bersih. Status Om diabaikan. Tidur.
Senin setelah board Kinara kerja penuh. Tidak cuti marah. Marah sudah jadi notes. Gilang hapus sisa draft slide di email pribadi yang nyasar. Reza cek. Bersih. Kinara: Terima kasih cek. Bukan simbol — sampai inbox. Malam mi. Sticky. Tidur tanpa mimpi poster.
Selasa Om diam. Rabu PR tidak usul lagi. Kamis Kinara bilang ke Mira: saya potong board. Mira: makan. Kinara makan. Jumat review rumah: bukan simbol — centang. Gilang: centang. Hapus permanen. Fokus angka. Dua dunia.