Keributan itu datang bukan dari Bara, bukan dari Om, bukan dari satu pun berkas yang selama ini mereka jaga. Keributan itu datang dari jadwal tamu.
Kinara pulang pukul lima dan menemukan sepatu yang tidak dikenalnya di rak, kopi yang sudah dituang di ruang tamu, dan seorang lelaki berjas yang berdiri untuk menyalaminya dengan senyum yang terlalu siap.
Ia menyalami balik. Ia menawarkan tambahan kopi. Ia duduk sepuluh menit, ikut mendengarkan pembicaraan tentang perpanjangan kontrak logistik, lalu permisi ke atas dengan alasan yang sopan.
Baru setelah pintu depan tertutup, dan mobil tamu itu keluar dari halaman, Kinara turun kembali.
'Tamu di rumah tanpa kabar ke saya,' katanya.
Gilang menegakkan punggung. 'Iya. Saya—'
'Ini bukan soal takut,' potong Kinara. 'Ini soal atap bersama. Saya bukan staf yang jadwalnya cukup diberi tahu belakangan. Bapak hafal poin soal saling hormat itu, atau perlu saya bacakan?'
'Saya hafal,' kata Gilang. 'Saya salah. Refleks lama. Dulu rumah ini cuma tempat saya melanjutkan kantor.'
'Sekarang bukan.'
'Sekarang bukan,' ulangnya. 'Saya perbaiki: tamu di rumah, kabar sehari sebelumnya, kecuali darurat.'
Kinara belum selesai. 'Dan satu lagi. Tadi Bapak memperkenalkan saya sebagai istri saya. Titik. Tanpa nama.'
Gilang membuka mulut, lalu menutupnya.
'Nama saya Kinara,' katanya. 'Tiga tahun terakhir nama itu dipakai orang di ruang rapat untuk macam-macam. Di rumah saya sendiri, saya mau dipanggil dengan nama itu juga.'
'Kinara,' kata Gilang pelan, seperti orang yang sedang menghafal ulang sesuatu yang sebenarnya sudah dihafalnya sejak lama. 'Besok kalau ada tamu, saya sebut namamu.'
Mereka diam sepuluh menit penuh. Bukan diam yang tegang seperti berbulan-bulan lalu — diam yang lebih mirip dua orang menunggu air mendidih.
'Saya marah,' kata Kinara akhirnya. 'Dan saya minta izin marah tanpa Bapak menyeretnya ke urusan Bara atau ayah Bapak. Ini soal tamu dan nama. Itu saja.'
'Diizinkan,' kata Gilang. 'Ini soal tamu dan nama. Titik.'
Ia berdiri, mengambil spidol, dan menulis di kalender dinding dapur — bukan di ponsel, bukan di aplikasi yang bisa dilupakan: tamu = kabari sehari sebelumnya. Perkenalkan dengan nama: Kinara.
Keesokan harinya Reza melihat tulisan itu dan tertawa satu kali, pendek.
'Bapak diingatkan istri soal nama,' katanya. 'Bagus. Jangan balas dengan ngambek.'
'Tidak ada yang ngambek,' kata Gilang. 'Saya cuma menyadari saya bisa menghadapi delapan direktur di ruang rapat dan gagal di ruang tamu sendiri.'
Minggu itu ada dua keributan kecil lagi.
Yang pertama soal undangan resmi acara kantor yang mencantumkan nama Gilang lengkap dengan jabatan, lalu di bawahnya: beserta istri. Gilang menelepon bagian humas dengan nada yang membuat orang di seberang telepon terdiam, lalu — dan ini yang berbeda — ia menutup telepon dan bertanya lebih dulu kepada Kinara sebelum mengirim protes tertulis.
'Protes,' kata Kinara. 'Pakai nama saya. Dan terima kasih sudah bertanya dulu. Itu beda dari kemarin.'
'Saya belajar dari gagal kemarin,' kata Gilang.
Yang kedua soal kartu ucapan untuk vendor rumah, yang otomatis menonjolkan nama keluarga Mahesa dan menaruh nama Kinara di baris kedua dengan huruf lebih kecil. Kinara kesal sebentar, mengatakannya dengan jelas, dan Gilang meminta kartu itu dicetak ulang.
'Lucu, ya,' kata Kinara malam itu, sambil mengaduk mi di dapur. 'Kita berperang di kartu ucapan.'
'Lebih baik daripada berperang di portal berita,' kata Gilang.
'Jauh lebih baik.'
Dua hari setelah kartu itu dicetak ulang, Gilang salah lagi — kali ini soal jam. Rapat vendor yang dijadwalkan pukul tiga bergeser ke pukul lima, dan tamunya akan tiba sebelum Kinara pulang.
Bedanya, kali ini ia menelepon.
'Saya salah lagi,' katanya. 'Vendor geser ke jam lima. Saya bisa pindahkan ke kantor.'
Kinara sedang di firma, di antara dua tumpukan berkas. Ia menahan napas satu hitungan sebelum menjawab, dan yang mengejutkan dirinya sendiri adalah bahwa yang ia tahan bukan kemarahan, melainkan sesuatu yang lebih mirip lega.
'Tidak usah dipindah,' katanya. 'Bapak sudah kabari. Itu bedanya.'
'Bedanya sekecil itu?'
'Bedanya sebesar itu,' kata Kinara.
Ia menutup telepon dan kembali ke berkasnya. Di seberang kota, di ruang kerjanya, Gilang duduk agak lama menatap layar ponsel yang sudah gelap — menyadari bahwa kemarahan istrinya dua hari lalu ternyata tidak berubah menjadi dendam, melainkan menjadi aturan yang bisa dijalankan. Ia hampir menelepon lagi hanya untuk mengatakan sesuatu yang manis, lalu tidak jadi. Kinara sudah pernah bilang: jangan diubah jadi upacara.
Dari tiga keributan kecil itu lahir satu hal yang bertahan lebih lama daripada kekesalannya: sebuah kalender bersama. Bukan untuk mengawasi pekerjaan Kinara — pekerjaan di firma tetap miliknya sendiri, dan hanya ia yang memutuskan apa yang dibagikan. Kalender itu hanya memuat urusan atap: tamu, acara rumah, jadwal vendor, kunjungan keluarga.
'Ini damai yang praktis,' kata Kinara. 'Bukan romantis. Kalender.'
'Kalender,' Gilang setuju.
Ujian pertamanya datang dua hari kemudian, ketika seorang rekan bisnis mampir setelah dikabari sehari sebelumnya. Gilang berdiri, dan mengucapkan kalimat yang seminggu lalu tidak terpikir olehnya untuk diucapkan.
'Ini istri saya, Kinara.'
Setelah tamu itu pergi, Kinara hanya mengangguk sekali ke arahnya. 'Lulus yang kecil,' katanya. 'Jangan minta nilai.'
'Tidak minta nilai,' kata Gilang.
Malamnya, ketika mereka makan mi di dapur seperti dua orang yang tidak sedang memperbaiki apa-apa, Gilang mengaku pada satu hal yang mengganjal.
'Saya takut yang kecil-kecil ini menumpuk di matamu,' katanya. 'Lalu suatu hari jadi besar.'
Kinara meletakkan sumpitnya. 'Yang kecil dan diakui tidak menumpuk,' katanya. 'Yang kecil dan disangkal — itu yang berbahaya. Bapak tidak menyangkal. Jadi tidak menumpuk.'
'Kalau saya lupa lagi?'
'Saya ingatkan,' kata Kinara. 'Tajam. Tapi bukan sebagai dendam.'
Gilang mengangguk, dan mereka melanjutkan makan. Di dinding dapur, kalender itu menggantung dengan dua tulisan spidol yang belum dihapus, dan untuk rumah yang selama tiga tahun hanya berisi jadwal satu orang, dua baris itu terasa seperti perubahan yang lebih besar daripada kelihatannya.