Gilang bilang love you jarang — bukan karena strategi cold, karena kata itu di mulutnya masih terasa seperti bisa mencuri lunas. Suatu malam setelah mi, jarak sofa longgar, Kinara tertawa kecil soal salah kirim email rekan, Gilang menatap lama lalu bilang pelan, 'Love you.'
Bukan pidato. Bukan minta balasan. Hampir seperti laporan cuaca yang sulit.
Kinara berhenti tertawa. Napas. 'Saya dengar. Saya belum balas. Jujur OK. Jangan ulang tiap malam sebagai tes. Jangan sedih teater. Saya catat. Percaya belum total. Coba. Sejauh ini. Badan — belum. Hafal?'
'Hafal,' kata Gilang. Suaranya stabil. 'Tidak tes. Tidak tagih. Terima kasih jujur. Saya tidak tarik kata. Saya juga tidak genapkan dengan cium. Izin — belum saya minta malam ini.'
Kinara mengangguk, lega. 'Bagus. Love you jarang — boleh. Love you sebagai kunci ranjang — tidak. Saya tidur. Terpisah. Opsional.'
'Baik. Kinara.'
'Gilang.'
Pagi Reza membaca muka Gilang. 'Lo bilang sesuatu yang berat.'
'Love you,' kata Gilang singkat. 'Dia belum balas. Jujur OK. Fokus. Jangan spoil.'
'Reza tidak spoil. Reza ingat rem. Jangan jadi anak kecil ditolak.'
'Tidak,' kata Gilang. 'Saya orang dewasa yang pernah jadi algojo. Jujur dia lebih aman dari balasan palsu.'
Kinara di firma bekerja dengan kata itu di belakang kepala — tidak mengganggu worksheet. Mira makan siang: 'Dia bilang?'
'Bilang. Saya belum. OK,' kata Kinara.
'Makan,' kata Mira. 'Jangan hukuman diri karena belum.'
Malam Gilang tidak mengulang. Hanya mi. Jarak longgar. Kinara bilang terima kasih tidak mengulang tes. Gilang mengangguk. Love you jarang tinggal sebagai fakta, bukan sebagai tagihan. Jujur OK — dan rumah tidak runtuh karenanya.
Dua hari Gilang tidak mengulang love you. Hari ketiga Kinara bilang di dapur, 'Saya masih belum balas. Jangan baca diam sebagai hukuman.' Gilang: 'Tidak saya baca sebagai hukuman. Saya baca sebagai jujur. OK.'
Kinara mengangguk, lega kedua kali. Di notes dia menulis love you — dicatat, belum dibalas, bukan utang. Mira bilang jangan balas karena kasihan. Kinara: 'Tidak kasihan. Belum.'
Sore Gilang hampir bilang lagi karena takut kata hilang. Ditahan. Laporkan hampir. Kinara: 'Bagus ditahan. Jarang = jarang. Bukan keran.'
Kinara bermimpi hampir membalas love you lalu bangun panik. Dia menulis di notes: hampir di mimpi ≠ siap. Pagi bilang ke Gilang ringkas tanpa detail mimpi. 'Saya belum. Tetap OK.' Gilang: 'OK. Kerja. Tidak tes.'
Malam mereka menonton berita ekonomi tanpa gandengan. Love you jarang mengambang di udara tanpa menuntut pendaratan. Jujur menjaga rumah lebih baik daripada balasan yang dipaksa agar simetris.
Di daftar perbaikan Gilang menambah: love you jarang — tidak tagih balasan — jujur OK. Kinara melihat dan tidak mengubah. Hanya bilang, 'Centang. Saya bukan mesin simetri. Tidur.'
Gilang menulis di jurnal pribadi — bukan untuk Kinara — mengapa love you jarang: karena dulu kata dipakai orang untuk membungkus kuasa. Dia takut jadi itu. Kinara suatu malam bertanya kenapa jarang, bukan menuntut sering.
Gilang jelaskan ringkas tanpa jurnal. Kinara: 'Alasan itu sah. Saya belum balas karena belum. Bukan karena menghukum kata Bapak. Jujur OK dua arah.'
Mereka berjabat batas dengan kata, bukan dengan tubuh. Pagi kopi. Love you tidak muncul. Rumah tetap berdiri.
Reza suatu sore hampir bercanda soal love you. Gilang tatap sampai candaan mati. 'Bukan bahan. Fokus.' Reza angguk. Habis energi disimpan untuk legal sisa dan filter, bukan gosip koridor.
Kinara di dunia lain menolak rekan yang ingin menjodohkan narasi 'suami romantis'. 'Suami saya jarang bilang. Saya belum balas. Itu urusan rumah. Angka.'
Malam Gilang dan Kinara berbagi diam yang tidak memusuhi. Love you jarang seperti bintang yang tidak harus jadi matahari. Jujur OK — diulang sebagai cuaca, bukan sebagai doktrin.
Kinara menulis kemungkinan balasan love you suatu hari — lalu mencoret. Belum. Mencoret terasa lega. Gilang tidak pernah melihat kertas itu. Milik rem internal.
Mereka berbagi payung sekali di parkir basah tanpa hampir cium. Love you tidak diucap. Prosedur cuaca. Jujur OK tetap menjadi kesepakatan tanpa sidang.
Pekan love you jarang ditutup tanpa pengulangan. Kinara bilang terima kasih sekali. Gilang mengangguk. Mira: kamu OK? Kinara: OK jujur. Belum balas. Makan.
Gilang di kantor lebih fokus angka. Kata berat sudah keluar; tidak perlu digiling. Jujur OK menjadi praktik, bukan slogan di dinding.
Kinara menyusun batas sekali lagi di notes: love you jarang diterima sebagai fakta; balasan belum; tidak ada tes; tidak ada hukuman lewat diam; jujur OK. Dia tunjukkan ke Gilang. Gilang paraf pensil. 'Hafal. Saya bilang lagi hanya kalau benar-benar perlu, bukan karena takut hilang.'
Kinara: 'Perlu bukan takut. Jarang. OK. Kerja. Jangan spoil ke Reza detail.' Gilang: 'Tidak spoil. Fokus. Jujur OK. Tidur terpisah. Opsional.'
Minggu itu kata tidak muncul lagi. Rumah tidak miskin karenanya. Justru aman. Love you jarang menunggu waktu yang tidak mencuri lunas.
Pagi dapur tanpa love you. Hanya kopi dan payung. Jujur OK — diam yang tidak menghukum. Kinara berangkat tegak. Gilang juga. Kata jarang tetap jarang; rumah tetap rumah.
Jujur OK. Belum balas. Jarang. Rem. Coba. Sejauh ini.
Dicatat. Tidur. Kerja.
Cukup.