Hari ketiga setelah artikel kotor, Kinara masuk firma tepat waktu. Lobi biasa. Tidak ada karangan bunga. Tidak ada wartawan — partner senior menepati janji mengusir yang mencoba. Di meja, worksheet menunggu. Kinara membuka laptop seperti orang yang menolak dijadikan hiburan.
Rekan pantry menatap sebentar terlalu lama, lalu bilang, 'Kopi?' Kinara terima. Tidak menjelaskan. Tidak membela diri di depan mesin kopi. Angka lebih berguna.
Mira menjemput jam makan siang — bukan drama, protokol teman. Mereka makan di warung sempit dua blok dari gedung. Mira pegang ponsel cadangan yang menyaring alert. 'Kolom komentar aku yang baca. Kau tidak. Hafal?'
'Hafal,' kata Kinara. 'Saya marah. Saya kerja. Beda.'
'Bagus,' kata Mira. 'Kalau suami mau jadikan ini romance wash, potong.'
'Sudah dipotong kemarin,' kata Kinara. 'Hard rule izin nama.'
Di dunia lain Gilang rapat legal. Draft klarifikasi perusahaan dan jalur somasi portal sudah ada. Dia menolak tiga usul yang memakai kata “istri tercinta” dan “rumah tangga harmonis”.
'Ini fitnah ke orang,' katanya. 'Bukan kesempatan bersihkan citra pasangan. Reza, kirim draft ke Kinara. Tanpa dia izin — tidak tayang.'
Reza mengirim. Kinara membaca di toilet firma, bukan di meja terbuka. Mencoret satu kalimat yang terasa seperti bela suami lebih daripada bela fakta. Membalas: `Izin versi ini setelah legal final. Jangan live. Jangan TV.`
Gilang: `Hafal.`
Sore wartawan mencoba menelepon nomor lama Kinara. Mira yang angkat di ponsel saring, lalu tutup. Kinara dapat laporan. 'Terima kasih pegang. Saya tidak hutang cerita ke mereka.'
Malam rumah masih goyang tipis. Gilang laporkan: somasi portal jalan, klarifikasi terjadwal setelah izin, tidak ada cage, tidak ada jemput paksa dari firma. Kinara makan lebih banyak dari dua hari lalu. Mira sempat tinggal sampai suapan kelima, lalu pulang.
'Aku hampir minta kau cuti panjang “demi aman”,' jujur Gilang. 'Itu cage berbaju peduli. Dicabut. Laporkan hampir.'
'Bagus dicabut,' kata Kinara. 'Kerja saya = napas. Ambil napas saya lagi — dua pintu. Hafal?'
'Hafal. Kau bukan hukuman. Kau tetap kerja. Saya legal. Tidur.'
Kinara ke kamar dengan worksheet di kepala, bukan judul portal. Fitnah belum mati. Meja kerjanya masih hidup. Itu yang dia pilih jaga malam itu.
Siang di firma, Kinara menyelesaikan rekonsiliasi yang sempat tertunda karena kepala penuh. Angka beres. Partner senior lewat, mengetuk meja pelan. 'Bagus. Gangguan eksternal bukan kesalahan worksheet.'
Kinara mengangguk. Di laci mejanya tidak ada print artikel. Hanya sticky: dua dunia — kerja.
Gilang sore itu menolak undangan podcast bisnis yang ingin 'klarifikasi manusiawi'. 'Manusiawi mereka = hiburan. Legal saja.' Reza mencatat penolakan. Om mencoba masuk ke grup WA direksi dengan link artikel; Gilang keluar dari thread dan minta admin mute topik.
Malam Kinara mencuci tumbler kerja. Gilang mengeringkan piring. 'Aku takut kau dipecat diam-diam,' katanya. 'Takut itu bukan alasan saya mengatur cuti paksa. Saya laporkan takut. Tidak bertindak.'
'Takut dicatat,' kata Kinara. 'Bertindak mengatur = cage. Firma pegang. Mira pegang saring. Bapak pegang legal dan izin. Pembagian itu jalan. Jangan rapatkan jadi satu tangan.'
Gilang mengangguk. Di daftar perbaikan: hampir cuti paksa — dicabut. Kinara tetap kerja — centang. Fitnah masih hidup di luar; di dalam, meja Kinara tidak disita dunia luar.
Selasa Mira mengantar makan siang lagi. 'Kau kurus.' Kinara makan. Gilang dapat foto kosong dari Mira — bukan pantau, hanya bukti Kinara makan — lalu menghapus chat karena tidak ingin jadi pengawas. Rem peduli yang beracun.
Rabu Kinara menolak wawancara tertulis dari portal yang mengaku 'beri hak jawab'. Hak jawab sudah lewat legal. Portal mau konten. Dia teruskan ke pengacara, bukan membalas sendiri.
Gilang hampir mengirim satpam ke gedung firma setelah tip palsu ada 'demo kecil'. Tip dicek Reza — bohong. Gilang laporkan hampir panik. Kinara: 'Panik berlapis satpam di kerja saya = cage. Bagus dicek dulu.'
Kamis worksheet Kinara dipuji singkat di rapat tim kecil. Dia tidak cerita ke Gilang sebagai piala. Hanya bilang malam hari, 'Hari ini angka saya beres. Kepala masih marah ke portal. Keduanya bisa bareng.'
Gilang: 'Bareng. Saya tidak minta kau bahagia demi menenangkan saya. Saya minta kau aman dan kerja. Legal saya dorong.'
Jumat Mira menonton Kinara makan siang penuh. 'Lulus suapan.' Kinara tertawa pelan pertama kali minggu itu. Fitnah masih ada. Napas juga.
Akhir pekan pendek dipakai tidur dan laundry, bukan hunting komentar. Kinara menjemur baju kerja. Gilang memperbaiki engsel pintu kamar tamu yang berdecit — tangan yang dulu merusak sekarang mengencangkan sekrup. Tidak ada pidato. Hanya engsel.
Minggu malam Kinara menyusun map Senin. Gilang menyusun agenda legal. Mereka berpapasan di koridor. 'Tetap kerja,' kata Kinara, seperti mengingatkan cuaca.
'Tetap legal,' sahut Gilang. 'Izin nama — tetap. Tidak cage — tetap. Tidur.'
Fitnah di luar masih bisa dicari orang iseng. Di dalam, pembagian pegangan Mira-legal-kerja tidak dilepas. Itu cara mereka menahan goyang tanpa kembali ke hukuman.
Senin baru Kinara ke firma dengan mata lebih utuh. Mira kirim pesan: saring bersih pagi ini. Kinara balas makan sudah. Gilang di lift mengulang hard rule izin supaya tidak goyah oleh usul PR baru.
Sore ada kurir membawa amplop tanpa pengirim jelas ke rumah. Reza cek: kosong tipuan, hanya kertas koran artikel. Kinara buang ke shredder. Gilang tidak meledak. 'Legal sudah tahu pola. Kau kerja. Saya tidak cage.'
Kinara: 'Bagus tidak cage. Amplop kotor tidak mengatur napas saya. Tidur.'