Balasan kotor datang lewat portal hiburan yang lapar. Judulnya tidak halus: istri CEO akuntan bermasalah disebut “menggoda” pengusaha untuk lolos dari dosa lama. Ada foto Kinara di acara perusahaan lama, dipotong jahat. Ada spekulasi pernikahan sebagai transaksi badan. Tidak ada bukti. Ada racun.
Kinara melihat notifikasi saat istirahat makan siang di firma. Tangan dingin. Dia tidak membuka kolom komentar. Dia menelepon Mira. 'Ada. Versi tipu. Saya di kantor. Jangan jemput drama.'
Mira: 'Saya ke lobi jam pulang. Napas. Jangan balas.'
Gilang mendapat kabar dari Reza dua belas menit setelah tayang. Pena tidak patah kali ini — dia berdiri, lalu duduk karena perintah sendiri. 'Legal. Somasi. Lacak sumber. Jangan portal perang. Panggil Kinara — tanya izin sebelum statement.'
Dia menelepon Kinara. Suara dilatih datar. 'Kau sudah lihat?'
'Sudah,' kata Kinara. 'Saya tidak berdosa di artikel itu. Saya marah. Rumah nanti. Jangan keluarkan statement bernama saya sebelum saya baca.'
'Hafal. Izin. Hard rule. Aku… hampir turun ke kantor portal. Ditahan. Laporkan hampir.'
'Ditahan bagus,' kata Kinara. 'Saya pulang sore. Kerja saya belum selesai. Dua dunia — jangan rusak meja saya dengan drama suami.'
Sore rumah goyang tanpa barang lempar. Kinara masuk, letakkan tas, berdiri di tengah ruang tamu. Gilang dan Reza sudah ada. Layar tablet menampilkan artikel.
'Ini Bara,' kata Reza. 'Pola. Tipu. Mau pecah fokus legal.'
Kinara duduk. Air mata tidak keluar kali ini — terlalu marah untuk basah. 'Mereka bilang saya menggoda. Saya digambarkan pelacur strategi. Saya kerja. Saya tertuduh lama. Sekarang ditambah kotoran ini.'
Gilang menelan. 'Saya minta izin: draft respons legal singkat — fitnah, proses hukum, tanpa detail ranjang, tanpa “istri saya suci” yang berbau teater. Fokus: tuduhan tanpa dasar, hak jawab, langkah hukum. Baca.'
Kinara membaca draft di ponsel. Mencoret dua frasa yang memposisikannya sebagai milik Gilang. Mengganti menjadi nama lengkapnya sebagai pihak. 'Ini. Kirim setelah legal final. Saya izin versi ini. Bukan versi romance wash.'
Gilang mengangguk. 'Kirim jalur legal. Tidak live. Tidak TV.'
Om menelepon — Reza angkat, lalu tutup. Ibu menelepon — Gilang angkat. 'Ibu, jangan baca komentar. Kami hukum. Kinara tidak mengaku palsu. Saya tidak mengorbankan dia.' Ibu menangis pelan, lalu tutup.
Malam Kinara tidak makan banyak. Mira tinggal sampai dia makan tiga suap. Gilang berdiri di ambang dapur. 'Kau bukan hukuman. Kau bukan umpan. Kau tidak menggoda saya demi lolos. Pernikahan ini dosa saya yang sedang saya perbaiki — bukan transaksi yang mereka tulis.'
Kinara mendongak. 'Dicatat. Rem masih. Percaya belum total — termasuk percaya publik akan langsung adil. Coba… tetap. Tapi malam ini saya marah. Izinkan saya marah tanpa dihibur murah.'
'Diizinkan,' kata Gilang. 'Saya marah bersama tanpa preman. Tidur di kamar kau. Saya di ruang kerja dengan legal. Tidak ketuk.'
Artikel tetap hidup di luar. Somasi berjalan. Rumah goyang, tapi perjanjian tidak robek: izin nama ditepati, cage tidak kembali, dua dunia esok pagi tetap dicoba — Kinara ke firma dengan mata kurang tidur, Gilang ke kantor dengan rahang terkunci, dan versi tipu Bara sudah menjadi perang baru yang tidak mereka menangkan semalam.
Malam rumah goyang, Kinara membuka laci cincin, menatap, lalu menutup lagi tanpa memakai. Bukan simbol cerai. Hanya menolak jadi istri-ornamen di kepala pembaca portal.
Gilang melihat dari jauh. Tidak komentar. Dia sibuk dengan legal sampai dini hari. Reza ganti shift singkat dengan kopi.
Pagi portal masih mengulang. Firma Kinara memanggil. Partner senior: 'Kami tahu pola fitnah. Kerja Ibu dilanjutkan. Kalau wartawan ke lobi — biar kami yang usir.'
Kinara menunduk sebentar, lega yang pahit. 'Terima kasih. Saya kerja.'
Gilang dapat kabar itu dan hampir menangis di toilet eksekutif — ditahan. Dia kirim pesan ke Kinara: `Firma pegang. Saya tidak turun ke sana. Izin statement versi kemarin — sudah kirim jalur legal.` Kinara: `Dicatat. Rem. Coba tetap. Marah tetap. Pulang malam.`
Rumah malam kedua lebih quiet. Artikel belum mati. Somasi belum selesai. Tapi cage tidak kembali, dan itu yang mereka jaga saat dunia luar menulis versi tipu.
Kinara memblokir kata kunci namanya di alert berita. Mira memegang ponsel cadangan untuk saring. Gilang menolak wawancara eksklusif tiga kali dalam satu sore.
Di dapur, Kinara bilang, 'Versi tipu ini mau pecah “coba” kita. Saya tidak pecah. Saya marah. Beda.'
Gilang: 'Saya tidak pecah jadi preman. Saya legal. Izin nama — sudah. Kau bukan hukuman. Kau bukan penggoda di artikel. Tidur kalau bisa.'
Kinara: 'Tidur sebentar. Bangun untuk kerja. Rumah goyang — lantai perjanjian masih.'
Lantai itu diuji. Belum retak total. Di luar, judul kotor mengulang. Di dalam, dua orang menjaga agar goyang tidak menjadi cage dan tidak menjadi maaf murah.
Dua hari setelah artikel, Kinara tetap masuk kerja. Mata kurang tidur. Worksheet benar. Itu perlawanan yang dia pilih.
Gilang menolak usul PR internal yang ingin 'cerita cinta membersihkan fitnah'. 'Tidak. Fakta hukum. Izin Kinara. Titik.'
Kinara malam itu hampir bilang terima kasih sebagai cinta. Dia potong sendiri. 'Terima kasih prosedur. Bukan lebih. Rumah goyang. Lantai ada. Tidur.'
Gilang mengangguk, rahang longgar seinci. Versi tipu masih di luar. Di dalam, mereka tidak menjual akhir manis semalam. Hanya tahan goyang tanpa kembali ke hukuman.