Ruang rekaman di kantor pengacara luar tidak mewah. Meja kayu, dua kamera sudut, air mineral, AC yang terlalu dingin. Darto duduk dengan kemeja yang digosok terlalu rapi. Kinara di kursi samping sebagai pihak terkait — tidak mewawancara, tidak menekan. Gilang di ruang sebelah lewat kaca satu arah, Reza di sampingnya, keduanya diam sesuai prosedur: tidak mengintimidasi saksi.
Pengacara membuka. 'Saudara Darto, ceritakan sesuai yang saudara alami. Jangan menambah. Jangan mengurangi.'
Darto menarik napas. Suaranya pelan, lalu stabil. Dia menyebut rapat-rapat kecil di firma lama. Nama Bara muncul berkali-kali sebagai orang yang “membawa keputusan dari atas”. Dia menyebut bagaimana ringkasan laporan dipotong lampirannya. Dia menyebut malam Kinara dipanggil, wajah pucat, lalu pemecatan yang terlalu cepat.
'Saya disuruh diam,' kata Darto. 'Disuruh bilang Kinara ceroboh. Saya diam. Saya pengecut.'
Pengacara: 'Siapa yang menyuruh?'
Darto menunggu seinci, lalu menjawab, 'Bara. Lalu ada arahan yang melibatkan angka proyek milik klien besar — termasuk yang terkait Pak Mahesa. Saya tidak bilang Pak Mahesa suci. Saya bilang ada manipulasi yang saya lihat cuplikannya, dan Kinara dijadikan wajah yang mudah dibuang.'
Di balik kaca, Gilang menutup mata seinci. Nama ayah. Nama Bara. Nama istri. Semuanya di satu keterangan tanpa teater.
Kinara tidak tersenyum. Air matanya turun diam, satu, dua, lalu lebih banyak — tanpa isak yang minta digendong. Dia menerima tisu dari staf, mengusap sendiri, menunduk ke catatan kosong yang tidak dia isi karena tangan gemetar.
Sesi berlangsung hampir dua jam. Istirahat sekali. Darto minum. Kinara ke toilet, berdiri di wastafel, memegang porselen sampai napas kembali. Mira menunggu di lobi luar — zona aman — dan hanya menatap saat Kinara keluar sebentar. 'Menangis boleh. Pesta jangan.' Kinara mengangguk, masuk lagi.
Di bagian akhir, Darto membaca ulang ringkas yang diketik, mengoreksi dua kata, lalu tanda tangan. Hash file. Salinan ke legal. Salinan ke box yang diizinkan.
Setelah kamera mati, Darto berdiri. 'Maaf terlambat.'
Kinara menjawab serak, 'Terima kasih jujur. Jangan hilang. Ikuti protokol lindung.'
Gilang baru masuk setelah Darto ke ruang lain dengan Reza. Dia berdiri jauh dari Kinara. 'Aku tidak usap. Air di meja. Kau… tidak sendirian di kertas lagi.'
Kinara mengangguk, masih basah. 'Ini bukan kemenangan murah. Ini keterangan. Berat. Ayah mertua… rumit. Bara… jelas. Saya… tidak berdosa. Tapi dada saya tidak ringan seperti pesta.'
'Tidak pesta,' kata Gilang. 'Pulang. Kerja kau boleh cuti setengah hari — bukan cage. Opsi.'
'Saya ambil setengah hari,' kata Kinara. 'Bukan karena takut. Karena kepala penuh. Mira antar. Bapak — jangan pidato di mobil.'
Di perjalanan Mira yang setir. Kinara menangis lagi diam di kursi penumpang, lalu berhenti, lalu makan roti yang Mira sodorkan. Di rumah dia tidur siang pendek. Gilang tidak mengetuk. Dia ke ruang kerja, memutar ulang audio izin dengan headphone, berhenti di nama ayah, berhenti di nama Bara, menulis di sticky: keterangan hidup — jangan murah — jangan hunus.
Sore Ibu mendapat kabar ringkas dari Gilang — bukan portal: ada saksi, ayah ikut dalam kerumitan angka, istri tidak kerangka utama. Ibu diam lama di telepon, lalu bilang, 'Saya tidak siap dengar detail. Saya duka. Jangan libatkan saya ke media.' Gilang setuju.
Malam Kinara bangun, mata bengkak. Gilang laporkan Ibu tanpa memaksa Kinara menelepon. Kinara: 'Hormat. Saya tidak pesta di duka Ibu. Keterangan Darto — simpan prosedur. Besok saya masuk kerja. Dunia saya. Jangan jadikan hari ini altar.'
Gilang mengangguk. 'Bukan altar. Bukti. Tidur lagi kalau perlu.'
Kinara kembali ke kamar. Di notes dia menulis satu baris: menangis diam ≠ menang. Menang nanti, kalau nama bersih tanpa menghancurkan orang yang tidak perlu. Malam itu cukup: saksi sudah bicara, air mata sudah jatuh, dan tidak ada confetti di meja makan.
Pengacara menutup sesi dengan pengingat: salinan tidak untuk dibagikan ke grup keluarga, tidak untuk Om, tidak untuk portal. Darto mengangguk. Reza mengantarnya lewat pintu samping ke mobil protokol.
Di ruang tunggu Gilang berdiri dekat jendela, jari mengunci rahang. Kinara keluar belakangan, mata merah, bahu lurus.
'Kalau Bapak mau marah ke ayah,' kata Kinara pelan, 'marah di tempat yang benar. Jangan ke saya. Keterangan ini bukan tiket Bapak kembali jadi algojo dengan target baru yang lebih nyaman.'
'Tidak ke kau,' kata Gilang. 'Ayah — rumit. Bara — target bukti. Kau — bukan.'
Dalam perjalanan terpisah, Gilang memutar ulang satu menit audio di mana Darto bilang wajah yang mudah dibuang. Dia mematikan sebelum marah mengambil setir. Di rumah dia menyiapkan air dan handuk bersih di kamar Kinara tanpa masuk. Kinara melihat dari ambang. 'Prosedur. Terima kasih. Jangan tunggu saya keluar untuk pidato.'
Gilang mundur. Malam itu dia menulis surat singkat ke batu di kepala — bukan ke makam fisik: ayah, saksi sudah bicara, aku tidak mencuci dosamu dengan istri. Lalu dia tidur di sofa ruang kerja dengan headphone di meja, keterangan tersimpan, air mata Kinara bukan piala kemenangannya.
Pagi setelah rekaman, Kinara ke firma dengan kacamata hitam dilepas di lobby — tidak sembunyi. Rekan menyapa biasa. Dia menjawab biasa. Di dalam dada, audio Darto masih berputar.
Gilang ke makam ayah sebentar sebelum kantor, tanpa bunga besar. Berdiri. Bisik singkat: saksi sudah bicara, aku tidak lebih busuk, aku tidak mencuci dengan korban. Balik. Reza di mobil tidak bertanya.
Sore legal mengunci file keterangan. Kinara menerima konfirmasi hash. Dia membalas satu kata: diterima. Tidak ada emoji. Tidak ada pesta. Malam dia menulis di notes: air mata kemarin — milik tubuh, bukan milik kemenangan. Tidur.