Ruang kerja rumah disiapkan seperti ruang audit kecil: dua kursi sejajar, satu layar, satu lampu meja, air, tidak ada alkohol, tidak ada musik. Reza duduk di belakang sebagai saksi, tablet siap mencatat waktu buka file dan hash.
Gilang membuka folder. 'Ini salinan. Asli di legal dan brankas. Kau boleh berhenti kapan saja.'
Kinara duduk tegak. 'Saya tidak berhenti di halaman pertama. Saya sudah terlalu lama dicekoki halaman yang dipotong orang lain.'
Mereka membaca bersama. Tegang. Profesional. Jari Kinara sesekali menunjuk baris, bukan menuduh. Gilang menggeser dokumen, menjelaskan kode internal yang dia kenal dari masa ayah masih aktif.
'Ini pola transfer,' kata Kinara pelan. 'Saya dulu diminta tandatangani ringkasan tanpa lampiran penuh. Saya tolak dua kali. Yang ketiga… tekanan dari atas. Nama di chat rekan: Bara.'
Gilang menelan. 'Di file ini, jalur itu lebih jelas.'
'Reza verifikasi cocok dengan cuplikan box saya?' tanya Kinara tanpa menoleh.
'Reza cocokkan hash dan rentang tanggal,' jawab sekretaris. 'Cocok cukup untuk lanjut audit. Belum vonis pengadilan.'
Kinara mengangguk. Matanya basah seinci, lalu dikeringkan dengan napas, bukan teater. 'Saya tidak pesta. Saya tidak bilang “kan saya bilang”. Itu murahan. Saya bilang: arah kuat. Rem: jangan hunus malam ini. Jangan Om. Jangan portal.'
'Hafal,' kata Gilang. 'Aku… hampir minta maaf sekarang. Ditahan. Belum. Kerja dulu.'
Kinara menatap layar lagi. 'Terima kasih ditahan. Maaf murah akan merusak malam ini.'
Mereka bekerja dua jam. Kinara membuat catatan kolom: siapa untung, siapa rugi, siapa yang meneken, siapa yang dibuang. Gilang mengisi kolom yang hanya dia yang bisa baca dari gaya ayah. Sesekali bahu mereka hampir bersentuhan karena kursi dekat. Keduanya mundur seinci. Bukan mesra. Disiplin.
'Reza, kopi,' kata Gilang.
'Reza ambil. Jangan tinggalkan laptop tanpa kunci,' kata Kinara.
Gilang mengunci layar sebelum Reza pergi. Kebiasaan baru yang pahit: paranoia sehat.
Saat istirahat, Kinara berdiri di jendela. 'Pertama kali kita kerja berdampingan tanpa hukuman di meja. Aneh.'
'Aneh,' aku Gilang. 'Aku terbiasa memerintahmu diam. Sekarang aku butuh matamu.'
'Butuh mata saya bukan berarti memiliki saya,' kata Kinara. 'Ingat perjanjian.'
'Ingat.'
Mereka lanjut. Di halaman akhir catatan ayah, Kinara membaca kalimat salah sasaran dengan suara pelan, hampir tanpa nada. Gilang tidak meminta dia berhenti. Dia mendengarkan hukuman yang ditulis orang mati kepada anaknya.
Setelah tutup file, Kinara merapikan catatan. 'Salinan ringkas yang boleh saya simpan di box — sesuai legal?'
'Reza cek klausul,' kata Gilang. 'Ya, ringkas. Bukan full dump ke Mira tanpa filter — kecuali jalur audit forensik yang sudah jalan.'
Kinara mengangguk. 'Mira sudah di jalur itu. Diam-diam. Baik.'
Reza mencatat jam tutup. 'Selesai sesi satu. Lo berdua tidak lempar barang. Bagus. Tidur. Jangan telepon Bara malam ini.'
Gilang: 'Tidak.'
Kinara: 'Tidak. Saya ke kamar. Kepala penuh. Terima kasih prosedur. Bukan cinta pidato.'
Gilang berdiri. 'Terima kasih tidak merayakan. Terima kasih tajam. Kinara.'
'Gilang,' jawabnya. 'File hidup. Kita hidup. Rem masih.'
Di koridor mereka berpisah ke dua pintu. Di belakang, ruang kerja masih berbau kopi dan kertas. Kerja berdampingan malam itu tidak menyembuhkan segalanya. Tapi untuk pertama kali, meja di antara mereka bukan meja vonis.
Setelah sesi pertama, Kinara tidak langsung tidur. Di kamar tamu dia menyalin kolom untung-rugi ke buku kertas, karena kertas tidak bisa dihack mudah. Dia menandai tiga baris yang masih abu-abu: butuh saksi hidup, bukan hanya file.
Pagi berikutnya mereka mengulang sesi pendek empat puluh menit sebelum Gilang ke kantor. Protokol sama: dua kursi, Reza saksi, layar terkunci tiap kali berdiri.
'Ini bukan honeymoon kerja,' kata Kinara saat Gilang hampir menuang kopi ke cangkirnya. 'Jangan biasa. Biasa membuat lengah.'
'Tidak biasa,' kata Gilang. 'Profesional.'
Di sela halaman, Kinara bertanya tanpa menuduh, 'Kalau ayah Bapak menulis peringatan itu, kenapa Bapak lebih dulu percaya portal dan Om daripada kertas?'
Gilang lama diam. 'Karena marah lebih cepat dari baca. Karena aku butuh wajah untuk dibenci. Kau tersedia.'
Jawaban itu kasar dan jujur. Kinara mengangguk. 'Dicatat. Lanjut baris.'
Mereka menemukan satu lampiran yang menyebut kode proyek yang sama dengan cuplikan Mira. Reza tersenyum tipis — jarang. 'Ini nyambung.'
Kinara tidak tersenyum. Dia menulis tanggal. 'Nyambung bukan menang. Nyambung = kerja tambahan.'
Sore hari Gilang mengirim ringkas ke pengacara: temuan sesi dua, tanpa embel emosional. Kinara membaca draf sebelum kirim, mencoret satu kata yang berbau tuduh publik prematur.
'Audit dulu,' katanya. 'Mulut kemudian.'
Gilang mencoret. 'Mulut kemudian.'
Malam itu di koridor mereka berpapasan. Tidak ada usap. Tidak ada cium. Hanya satu kalimat Gilang: 'Kerja berdampingan kemarin… aku tidak merasa seperti algojo sejenak.'
Kinara menjawab, 'Jangan rayakan sejenak. Ulangi besok tanpa algojo. Itu baru berharga.'
Pintu. Jarak. File menunggu sesi tiga. Meja vonis belum dibongkar total, tapi sudah diganti meja kerja untuk malam-malam berikutnya.
Sebelum tidur Kinara merapikan dua pensil di box. Gilang, dari ambang ruang kerja, hanya bilang, 'Sesi tiga kapan?'
'Besok malam. Lebih pendek. Kepala saya penuh,' kata Kinara. 'Bawa air. Jangan bawa pidato.'
'Air,' kata Gilang. 'Tidak pidato.'
Reza mematikan lampu koridor. Rumah kembali jadi dua kamar dan satu file yang menunggu tanpa vonis.