Pagi setelah file cadangan hidup di tiga tempat, Gilang membuka laptop lagi sebelum kopi. Dia tidak mencari bukti baru. Dia mencari jalan keluar yang terdengar seperti kesetiaan.
Tombol hapus. Konfirmasi. Nama folder berkode. Di kepalanya suara lama berbisik: lindungi nama ayah. Di meja, catatan ayah sendiri bilang dendam bisa salah sasaran. Dua suara itu bertabrakan sampai jarinya gemetar di atas mouse.
Reza masuk tanpa ketuk ramah. Dia melihat layar, melihat jari Gilang, lalu menutup laptop dengan telapak tangan — bukan kasar, tapi final.
'Lo mau hapus,' kata Reza datar. 'Saya lihat. Jangan pura-pura cek virus.'
Gilang menarik napas. 'Kalau file ini keluar, nama ayah…'
'Nama ayah lo sudah di dalam file itu,' potong Reza. 'Hapus = lo pilih dusta nyaman. Lo hapus = lo jadi Bara versi anak. Tangan bersih di permukaan, kotor di pilihan. Saya tidak kerja untuk versi itu.'
Kalimat itu menempel lebih dalam dari somasi portal mana pun. Gilang berdiri, jalan ke jendela, balik lagi.
'Aku hampir,' katanya. 'Demi ayah.'
'Demi ayah yang menulis peringatan ke lo,' kata Reza. 'Baca ulang. Lalu pilih.'
Gilang membuka lagi. Dia membaca catatan pinggir sekali lagi. Dia tidak menangis. Dia hanya menutup mata sampai napasnya turun.
'Salin ke legal tepercaya,' katanya akhirnya. 'Bukan Om. Bukan internal yang suka fishing. Pengacara luar yang sudah kita pakai untuk kontrak sensitif. Triple copy. Hash. Saksi.'
'Reza sudah siapkan nama,' kata sekretaris itu. 'Tinggal lo tanda perintah.'
Gilang menandatangani perintah singkat di tablet: amankan, jangan sebar, jangan musnahkan, jangan serang publik dulu. Dia memasukkan salinan fisik ke amplop, merekat, memberi stempel waktu.
Kinara lewat di koridor, berhenti seinci karena melihat muka mereka.
'Perang?' tanyanya.
'Belum,' kata Gilang. 'Tahan tangan. Rem.'
Kinara mengangguk. 'Bagus tahan. Kalau nanti cerita, cerita lengkap. Jangan versi yang sudah dicuci.'
Setelah dia pergi, Reza menatap Gilang. 'Lo bilang ke dia kapan?'
'Hari ini,' kata Gilang. 'Kerja berdampingan. Profesional. Bukan teater maaf.'
Mereka ke kantor legal luar siang itu. Ruang rapat netral, kopi pahit, AC terlalu dingin. Pengacara membaca ringkas, tidak dramatisisasi.
'Ini bahan audit dan kemungkinan sengketa,' katanya. 'Bukan surat cinta. Jangan gebrak media. Jangan hapus. Kami simpan sesuai protokol.'
Gilang mengangguk. Di mobil pulang, dia memegang setir lebih erat dari biasanya.
'Reza,' katanya. 'Kalau tadi kau tidak datang…'
'Lo sudah batal sekali semalam,' kata Reza. 'Hari ini lo hampir lagi. Rem butuh orang lain sampai lo kuat sendiri. Saya rem. Jangan hero.'
Di rumah sore, Gilang mencuci tangan di wastafel dapur lebih lama dari perlu. Kinara melihat dari meja.
'Bapak gemetar,' katanya pelan.
'Aku hampir jadi orang yang kubenci,' jawab Gilang tanpa melihatnya. 'Ditahan. File hidup. Legal pegang salinan. Besok… bukan besok. Malam ini aku minta kau lihat. Kalau kau mau.'
Kinara menaruh sendok. 'Saya mau. Bukan sebagai istri hukuman. Sebagai orang yang namanya ada di kerangka itu. Jam?'
'Setelah makan. Reza saksi. Tidak Om. Tidak Ibu. Tidak portal.'
'Hafal,' kata Kinara. 'Makan dulu. Kepala kosong lebih berbahaya dari lapar.'
Mereka makan diam. Nasi, sayur, lauk sederhana. Bukan perayaan. Setelah piring kosong, Gilang berdiri.
'Siap?'
'Siap,' kata Kinara. 'Jangan hapus di depan saya juga. Rem dari tadi — lanjut.'
Gilang hampir tersenyum pahit. 'Reza bilang aku hampir jadi Bara versi anak. Itu menempel.'
'Bagus menempel,' kata Kinara. 'Itu obat sementara. Kerja yang menyembuhkan.'
Mereka menuju ruang kerja. File menunggu. Pilihan dusta nyaman sudah ditolak dua kali dalam dua hari. Malam itu, kebenaran akan dibuka ke orang yang pernah dia hukum — tanpa pidato tobat, tanpa tombol hapus.
Siang setelah perintah legal ditandatangani, Gilang masuk rapat angka dengan kepala yang terbelah. Dia menandatangani dua kontrak tanpa salah, lalu salah menyebut kode proyek di kalimat ketiga. Mira, yang hadir lewat tautan audit, menatap dari layar.
'Fokus,' bisik Reza dari samping. 'Lo sudah pilih tidak hapus. Jangan hapus konsentrasi juga.'
Setelah rapat, Gilang ke toilet eksekutif, membasuh muka. Di cermin dia mengulang kalimat Reza sampai tidak terdengar seperti hinaan, melainkan rem: Bara versi anak. Dia tidak mau jadi itu.
Dia menelepon pengacara luar sekali lagi hanya untuk memastikan protokol pemusnahan tidak ada dalam kontrak penitipan. 'Tidak ada klausul destroy atas permintaan klien tanpa saksi ganda,' tegas pengacara. Gilang lega seinci.
Sore di rumah, Kinara menyusun box audit di meja makan. Gilang berdiri jauh.
'Aku hampir menghapus file demi nama ayah,' katanya tanpa dibuka. 'Reza menahan. Legal sekarang pegang. Aku bilang ini supaya kau tidak dengar duluan dari orang lain.'
Kinara berhenti menstaples. 'Terima kasih bilang. Jangan ulangi hampir itu diam-diam. Kalau gatal lagi, panggil Reza atau saya — sebelum mouse.'
'Hafal,' kata Gilang.
Mereka tidak melanjutkan ke layar malam itu; sesi baca bersama sudah dijadwalkan. Gilang ke gym rumah, memukul punching bag terlalu lama sampai tangan nyeri — pelampiasan yang lebih aman daripada hapus. Reza menonaktifkan notifikasi Om. Kinara makan malam dengan Mira lewat telepon: Hari ini suami hampir jadi versi yang dia benci. Ditahan. Mira: Bagus ditahan. Kamu makan. Kinara makan.
Menjelang malam dia menulis di notes: rem eksternal masih dibutuhkan. Itu bukan kelemahan. Itu fakta. File hidup karena ada orang yang berani bilang Bara versi anak di muka CEO.