Reza bekerja dua hari tanpa drama. Tidak ke portal. Tidak ke Om. Ke arsip firma lama lewat jalur legal sempit + orang dalam yang takut tapi masih punya nurani seinci. Malam kedua dia masuk ruang kerja Gilang dengan folder tipis, muka ketus seperti biasa.
'Lo dengar tanpa teriak,' kata Reza. 'Arsip firma lama memang ada jejak aneh di periode yang sama. Stempel, kode jalur, pola catatan kaki — bukan fotokopi murahan dari printer warung. Belum vonis pengadilan. Tapi lo bilang “palsu total” kemarin di dapur — itu prematur. Saya bilang lo belum baca sampai akhir.'
Gilang duduk, tangan di pelipis. 'Jangan bilang dia bersih.'
'Saya tidak bilang dia bersih,' Reza mengetuk folder. 'Saya bilang lo belum baca sampai akhir. Ada lampiran yang Kinara belum tempel ke muka lo karena lo tutup map. Ada kode yang cocok dengan memo internal ayah lo tahun itu — yang lo simpan di brankas pribadi, bukan di board. Saya tidak buka brankas tanpa izin. Saya minta izin sekarang: bandingkan. Atau lo terus tuduh supaya nyaman.'
Gilang lama diam. 'Izin. Bandingkan di sini. Kinara tidak masuk dulu.'
Mereka bandingkan. Gilang membuka brankas, ambil memo lama ayah — tangan gemetar seinci. Di samping fotokopi Kinara, pola sama terlalu dekat untuk diabaikan. Bukan identik sempurna di setiap goresan; cukup untuk membuat dinding dendam retak lebih dalam. Gilang menutup kedua set. Napas.
'Ini belum berarti ayahku penjahat,' katanya pelan.
'Ini berarti lo tidak boleh menghukum istri dengan naskah “pasti dia” lagi,' kata Reza. 'Audit lanjut. Nama orang dalam — belum saya angkat ke lo kalau belum cukup. Fokus: baca sampai akhir. Minta maaf? Belum wajib. Berhenti tuduh palsu di dapur? Wajib.'
Gilang menelepon Kinara ke ruang tamu. Kinara masuk, jarak, tidak senyum menang. 'Hasil?'
'Belum vonis,' kata Gilang serak. 'Arsip ada jejak. Saya… belum baca sampai akhir. Tuduhan palsu kemarin — prematur. Saya tidak bilang maaf dosa. Saya bilang: uji lanjut. Jangan pesta.'
Kinara menelan. 'Dicatat. Prematur. Uji lanjut. Saya tidak pesta. Saya minta Bapak baca halaman yang ditutup. Saya di sofa lagi — diam — kalau Bapak mau. Atau sendiri. Opsi.'
'Sendiri dulu,' kata Gilang. 'Keluar. Terima kasih tidak pesta — itu bukan cinta. Prosedur.'
'Tidak cinta di meja uji,' kata Kinara. 'Prosedur. Tinggal. Audit luar.' Dia keluar. Reza angguk ke Gilang. 'Lo hampir manusia. Jangan spoil ke dia sebagai sertifikat.' Gilang: 'Fokus. Baca.' Semalam dia baca sampai akhir — pelan, tanpa Kinara, dengan memo ayah di sisi. Di halaman belakang ada inisial lain yang kabur. Belum nama jelas di kepala. Hanya mual. Tidak menelepon Ibu. Tidak membakar. Tidur di sofa lagi. Pagi Kinara lihat sofa; tidak usap; kopi terpisah. 'Baca sampai akhir?' Gilang: 'Sampai akhir. Mual. Jangan bilang bersih. Bilang… rumit.' Kinara: 'Rumit dicatat. Tidak berdosa — masih. Dendam buta — retak. Rem masih.' Cukup — jejak arsip yang menolak kata palsu, dan suami yang akhirnya membaca tanpa vonis dapur.
Kinara tidak masuk ruang kerja semalaman Gilang baca. Dia kirim residual: `Saya di kamar. Tidak desak. Audit luar besok.` Gilang tidak balas lama; lalu: `Dicatat. Jangan pesta.` Subuh dia cuci muka, kelihatan lebih tua seinci. Reza bawa kopi sachet jelek. 'Lo kelihatan kena fakta. Bagus. Jangan ke makam dulu sebagai kabur.' Gilang: 'Tidak makam. Angka. Banding lanjut kalau perlu.'
Siang Kinara dapat satu rekan yang mau bicara lima menit di parkir jauh: 'Saya tidak nama orang. Tapi kode itu… orang dalam. Bukan junior.' Kinara tidak tekan. Catat. Tidak sebut ke Gilang detail supaya tidak dihancurkan. Malam Gilang tanya: 'Ada nama?' Kinara: 'Ada arah. Belum untuk Bapak. Rem preman.' Gilang rahang, lalu angguk. 'Rem. Terima kasih tidak kasih umpan. Baca saya — rumit. Tuduh palsu — saya tarik sebagai vonis. Belum tarik sebagai curiga.' Kinara: 'Curiga boleh. Vonis dapur tidak. Setuju.' Setuju seinci. Cukup untuk folder Reza dan map yang akhirnya dibaca sampai belakang.
Folder jejak aneh digandakan terbatas. Gilang tidak kirim ke board. Kinara tidak pesta. Mira: makan. Dua jalur: arsip dan audit luar. Curiga boleh; preman tidak.
Gilang menulis di sticky lalu sobek: jangan bilang bersih. Simpan di kepala: rumit; baca akhir; rem preman. Kinara lanjut parkir jauh tanpa sebut nama ke suami.
Reza menyusun timeline arsip di papan kecil ruang kerja: stempel, kode, memo brankas, fotokopi Kinara. Gilang berdiri lama seperti orang di museum yang salah masuk. 'Kalau ayahku ikut… saya tetap anaknya. Tapi saya tidak boleh jadi algojo salah sasaran.' Reza: 'Tulis itu di kepala. Jangan di portal.' Kinara dapat kabar dari Mira soal rekan yang mau bicara lagi minggu depan — syarat: tanpa suami di lokasi. Gilang digigit; setuju. Malam dia baca ulang halaman belakang; inisial kabur; mual; tidak bakar. Residual ke Kinara: `Rumit. Uji. Tidak preman.` Kinara: `Baik. Arah ada. Zona.` Dua jalur tanpa saling merebut kemudi.
Brankas ditutup lagi. Memo ayah kembali. Fotokopi di protokol. Kinara tidak diminta menonton Gilang mual. Hormat proses. Arah 'orang dalam' tersimpan di notes Mira-encrypted. Preman ditahan.