"Pergilah! Anggap saja aku sudah mati!" Antonio mengusir Alia, menghancurkan hatinya yang sudah remuk. Kedua orang tuanya pun tak menginginkannya.
Alia terduduk di jalan, air mata membasahi pipinya. Wajah ceria, tegar, dan tengil yang selama ini ia pasang luntur sudah, sejak ayahnya menukarnya dengan uang. Hujan mulai turun, menambah perih keadaannya.
Rafa hanya bisa memandang Alia. Hujan menyembunyikan air mata yang terus mengalir deras. Hatinya tersentuh melihat Alia yang menangis pilu.
Rafa mengulurkan tangan. "Ayo, kita pulang... Ini bukan tempatmu lagi," ucapnya lembut.
Alia mendongak, menatap Rafa dengan mata merah. "Kau! Kau yang membuat semua ini terjadi! Sejak bertemu denganmu, hidupku kacau balau!" teriaknya histeris. "Kenapa kau mengacaukan hidupku? Kau membuat semuanya berantakan!"
Alia merasa dunianya runtuh. Ia memukuli Rafa dengan sekuat tenaga, namun pukulannya tak berarti apa-apa bagi pria itu. Rafa hanya diam, membiarkan Alia melampiaskan emosinya. Perlahan, pukulan itu melemah. Alia berlari menjauhi Rafa, yang segera mengejarnya.
Alia terus berlari, namun tubuhnya melemah. Tiba-tiba, ia terjatuh tak sadarkan diri.
Rafa dengan sigap menghampiri Alia, menggendongnya ala bridal style, dan membawanya ke mobil. Di dalam mobil, Rafa sesekali menatap wajah Alia. Kali ini, wajah itu memancarkan kesedihan yang mendalam, membuat hatinya terenyuh.
Sejak kematian ibunya dan kehilangan Natasha, Rafa menjadi pria tanpa belas kasihan. Pria atau wanita, semua sama saja baginya. Namun, kali ini ia merasa iba pada Alia. Aksinya ini membuat para pengawal di mansionnya merasa heran sekaligus senang. Setidaknya, akan ada sedikit warna dalam hidup Rafa setelah kehadiran Alia, meski dengan cara yang salah.
Sesampainya di mansion, Rafa memerintahkan pengawal untuk menghubungi dokter pribadinya. Ia membawa Alia ke kamar yang sudah disiapkan untuknya.
Para pelayan mengikuti pergerakan Rafa, siap melayani Alia.
Rafa membaringkan Alia di ranjang kingsize. "Bersihkan dirinya!" perintah Rafa.
"Baik, Tuan!"
Rafa meninggalkan kamar itu dan menuju kamarnya sendiri. Ia merendam tubuhnya di bathtub, mencoba menenangkan pikiran.
Kejadian hari ini membuatnya lelah. Terlebih lagi, besok ayahnya akan memaksanya menikahi Evelyn. Sambil berendam, Rafa mengerjakan beberapa pekerjaan melalui tabletnya.
Tak lama kemudian, seorang pengawal datang menghadap. "Maaf, Tuan, Nona Alia sudah sadar, tapi dia terus menangis dan tidak mau makan..."
Rafa bergegas menuju kamar Alia. "Gadis itu benar-benar menyusahkan!" gerutunya kesal.
"Kalian pergilah! Tinggalkan aku sendiri!" Alia berteriak histeris, terus menangis.
"Nyonya, berhentilah menangis. Nanti Nyonya sakit," bujuk seorang pelayan.
"Kalian pergilah! Aku bukan nyonya kalian!" bentak Alia keras.
"Tapi, Nyonya... Nyonya sangat lemah!"
"Pergi kalian, sialan!" Alia melempar bantal ke arah para pelayan.
Rafa yang sedari tadi memperhatikan, akhirnya turun tangan. "Kalian pergilah!" perintah Rafa. Para pelayan segera meninggalkan kamar itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" teriak Alia.
"Menunggumu selesai berteriak!" jawab Rafa datar.
"Pergilah, aku ingin sendiri!"
"Siapa kau berani mengusirku? Kau lupa mansion ini milik siapa?"
"Baiklah, aku yang akan pergi!" Alia bangkit dari tempat tidur.
"Kau tidak bisa pergi!"
"Siapa kau melarangku?"
"Aku sudah membayarmu 100 juta Euro, jadi kau milikku sekarang!" ucap Rafa tajam.
Alia terdiam mendengar ucapan Rafa. Air matanya semakin deras mengalir.
"Hei! Diamlah!" Rafa panik melihat Alia semakin histeris. "Hiks... Hiks..." tangis Alia membuat hati Rafa sakit.
"Alia Sofia De Luca, berhenti menangis!" bentak Rafa. Seketika Alia terdiam.
"Untuk apa kau menangisi seseorang yang tidak menginginkanmu? Lihatlah, mereka bahkan tidak memikirkan perasaanmu! Jangan bodoh, Alia!" ucap Rafa tegas. "Sekarang, berhentilah menangis! Dan beristirahatlah, kau hanya membuat dirimu semakin menderita."
"Alia, dengarkan aku, menangis takkan menyelesaikan masalahmu! Kau hanya perlu mengikuti alur yang ada dan mempertahankan dirimu sendiri!" Rafa menatap wajah Alia yang lusuh.
"Makanlah sedikit," ucap Rafa sambil menyuapkan makanan kepada Alia.
Alia hanya diam, menerima suapan dari Rafa.
Setelah selesai, Rafa memberikan obat penenang yang diresepkan dokter agar Alia bisa beristirahat dengan tenang malam ini.
Setelah Alia tertidur, Rafa meninggalkan kamar itu. Ia melihat wajah cantik itu menyimpan banyak kesedihan.
Kemudian, Rafa keluar dari kamar Alia. Para pelayan tetap berjaga di luar kamar Alia.
Hari berganti, Rafa bersiap berangkat ke perusahaan. Namun, langkahnya terhenti oleh keributan di ruang tamu.
"Ada apa ini?!" bentak Rafa pada pengawalnya.
"Tuan Besar Romano datang bersama Nyonya Isabella, Tuan," lapor pengawal itu gugup.
"Sialan! Mengapa si b******k itu mengganggu hidupku?!" Rafa menggeram marah melihat kedatangan Giovanni dan Isabella. "Apa yang kalian cari?!" tanyanya datar.
"Menagih janjimu, Nak!" jawab Giovanni.
"Kenapa kau terus mengganggu kehidupanku? Urus saja urusanmu sendiri!" Rafa menatap tajam ayahnya.
"Aku masih ayahmu, jadi kau harus menuruti permintaanku! Lagipula, kau tidak pernah mengingkari janji, kan?" Giovanni tahu betul kelemahan Rafa.
"Kau tak perlu mengajariku tentang menepati janji! Pergi dari mansion ini atau kau akan menyesal!" ancam Rafa dingin.
"Sayang... berhentilah bersikap seperti itu. Menikahlah dengan Evelyn Fernandez, putri Tuan Fernandez," Isabella mencoba membujuk Rafa.
"Tutup mulutmu, b*****t! Ingat, kau bukan siapa-siapa di sini!" Rafa membentak Isabella.
"Rafa! Jaga bicaramu, dia ibumu juga!" Giovanni memperingatkan Rafa.
"Ibu?! Dengar baik-baik, wanita jalang ini tidak pantas dianggap ibu!" Rafa semakin meninggikan suaranya.
"Ingat, Rafa, kau harus menikahi Evelyn! Jika kau menolak, kau hanya seorang pengecut!" Giovanni bersikeras.
"Aku bukan pengecut, b*****t!"
"Kalau begitu, mana wanitamu? Kau tidak bisa menemukannya sampai sekarang, kan? Jadi, kau harus menikahi Evelyn!" Giovanni menantang Rafa.
"Maaf, Ayah Mertua... Enzo Rafa Romano tidak akan menikah dengan siapa pun! Karena aku adalah istrinya!"
Semua orang terkejut. Alia, yang sudah bangun sejak tadi, tampil cantik dengan riasan sederhana dari para pelayan. Saat hendak berjalan ke taman, ia mendengar keributan dan bertanya pada asisten pribadi Rafa yang kebetulan lewat.
Setelah mendengar penjelasan dari asisten Rafa, Alia memutuskan untuk berpura-pura menjadi istri Rafa.
"Ka-kau siapa?" tanya Isabella bingung.
"Oh, iya, aku lupa memperkenalkan diri! Perkenalkan, namaku Alia Sofia De Luca. Eh, maksudku Alia Sofia De Luca Romano," ucap Alia tersenyum manis.
"Kau pasti berbohong!" Isabella tak percaya.
"Untuk apa aku berbohong? Oh, iya, aku lupa Enzo belum memberi tahu kalian, ya..." Alia tampak tidak enak hati.
"Sayang... Bukankah kau berjanji akan memberi tahu Ayah Mertua tentang pernikahan kita?" Alia bermanja sambil memeluk Rafa.
"Maafkan aku, Sayang. Aku hanya ingin memberitahukannya saat aku tidak sibuk," Rafa mencium kening Alia.
"Oh, iya, maaf Ayah Mertua, Enzo adalah suamiku. Jadi, tolong jangan pernah menyuruhnya menikah dengan siapa itu? Siapa namanya, Sayang, aku lupa? Oh, iya, Evelyn... Nah, iya, siapa pun itu, aku tidak akan membiarkan suamiku direbut oleh siapa pun! Ingatlah, aku tidak akan membiarkan wanita itu melihat dunia ini lagi jika sampai menyentuh suamiku!" ucap Alia sinis.
"Kalian sudah mendengar apa yang dikatakan istriku! Jadi, pergilah, aku tidak ingin melihat kalian!" Rafa menimpali dengan nada yang sama sinisnya.
"Pengawal, usir mereka!" perintah Rafa.
Kemudian, Rafa menggendong Alia ala bridal style menuju lantai atas, sambil memberikan senyum kemenangan sebelum pergi.
Alia meronta, "Turunkan aku, b******n! Turunkan! Mereka tidak akan melihatnya lagi!" Ia memaksa Rafa melepaskan gendongannya.
Rafa menurunkan Alia di ranjang. Saat hendak berdiri, kakinya tersandung karpet, membuatnya jatuh menimpa Alia. Mata mereka bertemu, intens. Rafa merasakan getaran aneh saat menatap wajah Alia. Hidung mancung, pipi berisi, dan bibir merah merekah menyempurnakan kecantikannya.
"Woi! Berat!" teriak Alia, membuyarkan lamunan Rafa.
"Kau berat sekali!" celetuk Rafa, lalu menjauh.
Alia menatap tajam. "Kau bilang apa? Aku berat?!"
"Bugh! Bagh! Bugh!" Alia memukuli Rafa dengan brutal. "Kau saja yang tidak punya tenaga!"
"Cih, sia-sia aku menolongmu!" Alia berbalik, hendak pergi.
Rafa menarik tangannya, membuat mereka berhadapan lagi. Mata mereka kembali bertemu. "Apa kau menyetujui perjanjian itu?" tanya Rafa lembut.
"Tidak! Aku hanya kasihan melihatmu seperti orang bodoh tadi!" jawab Alia ketus.
"Kau—"
"Apa? Sudah kubilang aku tidak ingin menikah!" teriak Alia.
"Ingat, Alia, kau sudah menjadi milikku, dan aku tidak suka penolakan!" Rafa menggeram, frustrasi dengan sifat tengil Alia.
"Ya, ya, ya, terserah!" ucap Alia, berjalan keluar kamar Rafa.
"Alia Sofia De Luca!" Rafa berteriak keras, merasa frustrasi dengan sikap Alia.
~~
"Sayang, bagaimana ini? Kita sudah berjanji dengan keluarga Fernandez! Kasihan Evelyn, dia sangat mengharapkan Rafa!" Isabella berkata kepada Giovanni, suaminya.
"Aku juga tidak menyangka dia menikah! Siapa wanita itu? Dari mana asalnya? Dan bagaimana latar belakangnya?" Giovanni tampak bingung.
Giovanni tahu betul Rafa sangat membenci wanita sejak ibunya meninggal. Natasha sempat mengisi kekosongan itu, namun malah meninggalkannya. Kedatangan Isabella yang terlalu cepat menggantikan posisi ibunya membuat Rafa semakin membenci wanita.
"Sialan! Jika aku tidak bisa mendapatkan keturunan dari si tua bangka ini, bagaimana aku bisa menguasai kekuasaan Romano? Sedangkan Evelyn saat ini tidak bisa membantuku!" Isabella membatin. "Aku harus menghabisi wanita itu agar kekayaan Rafa jatuh ke tanganku. Ya, aku harus segera menggantikan posisi nyonya Romano!"
"Sayang... Kau harus cari tahu. Apa kau tidak malu jika keluarga kita dimasuki wanita tidak jelas?" Isabella merajuk pada Giovanni.
"Kau benar, sayang... Aku harus mencari tahu siapa wanita itu," ucap Giovanni sambil memeluk Isabella.
~~
Saat Alia hendak ke ruang makan untuk mengambil minum, ia berpapasan dengan Rafa. Rafa berjalan cepat tanpa menatapnya.
"Mau kemana dia? Kenapa dia terlihat marah?" Alia bergumam, mengabaikan Rafa yang pergi dengan wajah datar.
"Nyonya ingin apa?" tanya seorang kepala pelayan.
"Aku hanya ingin minum," jawab Alia singkat.
"Nyonya bisa menyuruh kami untuk mengambilkannya."
"Tidak perlu, aku masih punya tangan dan kaki," cetus Alia datar, lalu duduk di kursi meja makan. "Hei, Madam! Apa rumah ini milik Enzo?"
"Iya, Nyonya. Rumah ini milik Tuan Rafa."
"Kenapa orang tuanya tidak tinggal di sini?" tanya Alia.
"Maaf, Nyonya, saya tidak bisa memberi tahu tentang hal ini. Jika Nyonya ingin tahu, silakan tanyakan pada Tuan Rafa," jawab kepala pelayan itu dengan hormat.
"Aku hanya ingin tahu. Tenang saja, aku tidak akan memberi tahu siapa pun jika kau bicara!"
"Tidak, Nyonya. Kami memiliki sumpah untuk tidak membicarakan apa pun tentang keluarga Tuan Rafa," jawab pelayan itu tetap hormat.
"Baiklah, kalau kau tidak ingin memberitahuku, tidak apa-apa," ucap Alia, lalu pergi menuju kamarnya.
"Ah, membosankan sekali di sini," keluh Alia, menghempaskan tubuhnya ke ranjang empuk. Ia menatap langit-langit kamar, memikirkan jalan hidupnya yang rumit. Ingin rasanya ia pergi jauh. Alia adalah pribadi yang mudah menangis, tetapi sejak kepergian ibunya, ia memutuskan untuk tidak menangis lagi. Namun, sebagai seorang wanita, hatinya hancur melihat cinta pertamanya, ayahnya, malah menghabiskan waktu dengan wanita-wanita jalang di rumahnya. Pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat sejak kecil itu membuatnya terluka.
Hatinya lambat laun mengeras karena hinaan yang ia terima, terlebih ia tidak pernah merasakan kasih sayang yang sebenarnya.
"Hidupku memang sudah hancur, seharusnya aku mati saja," ucap Alia frustrasi.
Ia berjalan menuju kamar mandi, menatap wajahnya di cermin. Alia sadar bahwa hidupnya saat ini tidak berarti, terlebih saat ayahnya tidak menginginkannya lagi. Ia menyalakan shower dan duduk di bawah pancuran air sambil menangis. Alia merasa tubuhnya mulai bergetar hebat.
"Aku lelah jika harus seperti ini," ucap Alia di tengah tangisnya. Hampir dua jam ia berada di bawah pancuran air yang terus mengalir. Terkadang ia menangis, terkadang tertawa melihat kehidupannya. Lambat laun, tubuh Alia mulai kedinginan dan pandangannya memudar, hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri.
~~
Rafa tengah melakukan transaksi penjualan barang-barang terlarang. Penyelundupan barang-barang itu menjadi sumber kekayaannya. Ia tak segan membunuh siapa pun yang mencoba menghancurkan bisnisnya. Bahkan, Rafa membayar mahal para kepala polisi untuk membungkam mereka.
Rafa bergerak dalam berbagai bidang dunia mafia, termasuk obat-obatan terlarang sebagai salah satu sumber utama kekayaannya. Meski begitu, banyak pemimpin mafia gelap yang ingin menjatuhkan kekuasaannya. Hari ini, Rafa harus menghadapi beberapa pengacau. Ia tidak pernah memberi ampun kepada siapa pun yang mencoba mengusik bisnisnya.
"Tuan, apakah Nyonya Alia menyetujui perjanjian itu?" tanya asisten pribadi Rafa.
"Tidak, dia masih bersikeras menolak! Ini pertama kalinya aku ditolak secara langsung!" jawab Rafa.
"Dia sangat cocok menjadi nyonya besar, Tuan. Dia memiliki sifat yang sama dengan Nyonya Besar Falia. Bahkan, nama mereka hanya berbeda A dan F saja," timpal asisten pribadi Rafa.
"Kau benar, aku baru menyadarinya. Hanya saja, untuk membuatnya setuju, aku harus bekerja keras, sama seperti ibuku dulu ketika aku meminta sesuatu," ujar Rafa.
"Tapi, Tuan, saya rasa Tuan Besar akan mencari informasi tentang pernikahan kalian. Kalian harus segera menyelesaikannya secepat mungkin untuk menjaga posisi Nyonya Alia."
"Kau betul! Aku harus segera memaksa gadis tengil itu! Dan tetap berikan dia pengawal khusus. Jika dunia tahu dia Nyonya Besar Romano, dia akan menjadi incaran para musuh," ucap Rafa serius.
"Baik, Tuan. Saya akan memilih orang-orang khusus untuk mengawasi Nyonya," jawab pengawal pribadi Rafa.
Mereka pun melanjutkan pekerjaan. Rafa harus menandatangani surat-surat penting dan menghabisi beberapa pengacau.