Alia hendak meninggalkan mansion Rafa. Seorang pelayan menghampirinya.
"Nyonya, izinkan saya mengantar Anda ke sekolah," kata pelayan itu sopan.
"Ke sekolah? Kenapa?" tanya Alia bingung.
"Tuan Raka memerintahkan kami. Beliau khawatir Nyonya terlambat," jawab pelayan itu.
"Aku bisa pergi sendiri!" protes Alia.
"Maaf, Nyonya. Kami tak berani menolak perintah Tuan," jawab pelayan itu, sedikit gemetar.
Tiba-tiba, Rafa muncul. Pakaiannya berlumuran darah, sebuah luka menganga di keningnya. Alia tersentak ngeri.
"Dari mana saja kau?" tanya Alia, suaranya bergetar.
"Mengurus beberapa hal," jawab Rafa singkat, tatapannya tajam. "Kau tak perlu ke sekolah dengan pengawal. Naik taksi saja."
Alia bergegas pergi, namun Rafa memanggilnya.
"Kalian! Antar dia ke sekolah!" perintah Rafa pada para pengawal.
"Tapi Tuan..." protes Alia.
"Tidak ada penolakan! Jika kalian menolak, kalian akan membersihkan kandang kuda sampai tengah malam tanpa makan dan minum!" ancam Rafa. Para pengawal langsung menurut.
Alia mendengus kesal saat melihat mobil yang akan membawanya Rolls-Royce Boat Tail terbaru.
"Ini? Tidak ada yang lebih sederhana?" gerutunya. Para pengawal hanya saling pandang. Alia memang unik.
Ia masuk ke dalam mobil. Dua pengawal di depan dan belakang, beberapa Jeep mengawal di belakang.
"Kenapa banyak sekali pengawal?" tanya Alia.
"Tuan memerintahkan kami untuk melindungi Nyonya," jawab salah seorang pengawal.
"Berhenti memanggilku Nyonya! Aku bukan istrinya!" bentak Alia.
"Tuan mengatakan Nyonya akan menjadi Nyonya Besar di mansion," jawab pengawal itu.
Alia menghela napas panjang. Perjalanan menuju sekolah dipenuhi ocehan protesnya.
Sesampainya di sekolah, kedatangan Alia dengan rombongan mobil mewah dan pengawalnya menjadi pusat perhatian. Namun, bukannya kagum, para siswa justru penasaran dengan sosok Alia yang tampak kesal dan terus menggerutu.
Alia menggerutu dalam hati, menyadari semua mata tertuju padanya.
"Lihat gadis miskin itu, dikawal pengawal!" cibir Feby, pemimpin kelompok geng cewek populer yang terkenal angkuh dan sering membully siswa lain.
Alia mengabaikannya. Namun, Intan, salah satu anggota geng tersebut, tiba-tiba menarik rambut Alia.
"Akh!" jerit Alia kesakitan. Ia membalas dengan tendangan tepat ke perut Intan.
Chacha, anggota geng lainnya, langsung menampar Alia. Alia membalas dengan pukulan dan tarikan rambut.
Feby, kalap, menyerbu Alia. Perkelahian besar pun terjadi. Alia mencakar wajah Feby, dan Feby membalas dengan lemparan batu yang mengenai kening Alia. Darah segar mengalir. Alia membalas dengan melempar tasnya ke wajah Feby.
Perkelahian baru berakhir setelah ketua OSIS melerai. Alia menolak bantuan pengawalnya.
Kini, mereka berada di ruang ketua OSIS. Orang tua Feby, Intan, dan Chacha telah datang, marah besar. Mereka menuntut Alia meminta maaf.
"Anakmu yang memulai!" bantah Alia, menunjukkan luka di keningnya.
"Tidak benar! Dia yang menyerang kami duluan!" bantah Feby, Intan, dan Chacha kompak.
Ketua OSIS mendesak Alia meminta maaf.
"Sekolah ini mengajarkan membenarkan kesalahan? Karena mereka, aku terluka!" seru Alia, menunjuk lukanya.
"Aku tidak melakukannya," bantah Feby, gugup.
"Kenapa gugup kalau kau tak bersalah?" tanya Alia tajam.
Vano, ayah Feby, hendak menampar Alia, namun tiba-tiba pintu ruang OSIS ditendang dengan keras. Semua terbelalak melihat Enzo, sosok yang ditakuti dan pemilik saham terbesar sekolah itu, masuk bersama seorang yang penting lainnya.
"Enzo…!"
"Enzo…!!" jerit Alia, matanya membulat menyaksikan seseorang menghancurkan pintu ruang dewan siswa dengan tendangan. Debu beterbangan, mengaburkan wajah-wajah panik para siswa.
"Tu-tuan Rafa…" gumam mereka, suara gemetar. Herlambang, ayah Intan, terkesiap. Ia tak menyangka pemilik perusahaan tempatnya bekerja, Tuan Rafa, akan muncul di sekolah putrinya.
"Jauhkan tangan kotormu, b*****t!" Rafa menarik tangan Vano, memelintirnya dengan paksa. Bunyi tulang yang bergeser terdengar nyaring, membuat Feby, Intan, dan Chacha menjerit histeris.
"Oom! Lepaskan Daddyku!" Feby berteriak, melihat ayahnya kesakitan. Rafa mendorong Vano hingga terjatuh.
"Berhenti berteriak padaku!" suara Rafa dingin, menusuk. Ia menatap tajam dewan siswa. "Dan kalian! Apa yang kalian lakukan sampai seorang gadis tak bersalah harus meminta maaf?"
"Ma-maafkan kami, Tuan. Tapi gadis ini… ia bersalah," jawab salah satu dewan siswa, ketakutan.
"Tidak! Aku tidak melakukan apa pun! Mereka yang menghinaku! Mempermasalahkan pengawalku!" Alia membela diri, menolak disalahkan.
"Diam! Atau aku usir kau! Kau tahu siapa yang kau ajak bicara? Tuan Besar Romano!" bentak dewan siswa.
Rafa, mendengar Alia dibentak, menarik kerah baju dewan siswa hingga terangkat.
"Tu-tuan… maafkan aku… aku tak bermaksud…" dewan siswa memohon ampun. Herlambang dan Morgan hanya bisa menyaksikan dengan ngeri.
"BUGH!" Suara tubuh dewan siswa membentur tembok. Rafa mendekat, menginjak d**a dewan siswa itu. "Kau b******n sialan! Berani berteriak di depanku?!"
"Tu-tuan… maafkan… ini semua ulahnya…" dewan siswa menunjuk Alia.
"Tidak! Mereka yang menyerangku duluan! Aku hanya membela diri!" Alia berseru, putus asa.
"Tutup mulutmu, jalang! Kau yang memulai semuanya!" Feby menjambak rambut Alia. Intan dan Chacha ikut menyerang.
Alia meringis kesakitan. Herlambang dan Morgan berusaha melerai putri-putri mereka.
Tanpa ragu, Rafa menampar Feby. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
"Beraninya kau menyentuhnya?!" Rafa menggeram.
"Daddy… dia menamparku!" Feby menangis, mengadu pada ayahnya yang juga terluka.
"Aku akan pastikan kalian semua menderita!" ancaman Rafa bergema.
"Tapi aku tak bersalah! Aku bersumpah, CCTV bisa membuktikannya! Aku hanya membela diri!" Alia memohon, ketakutan.
"Tunjukkan CCTV-nya!" Rafa memerintah dewan siswa.
Rekaman CCTV diputar. Semua tercengang melihat Feby melempar batu ke arah Alia. Alia nyaris dikeroyok jika tak melawan. Rafa mengepalkan tangannya, menahan amarah.
"Kau… direktur di perusahaan MEI?!" Rafa menatap tajam Herlambang. "Maafkan putriku, Tuan…" Herlambang terbata, ketakutan.
"Tak ada maaf bagi MEI! Hari ini, kau dipecat! Dan kau, Morgan, pemilik cabang BEI yang baru saja kerja sama dengan Euro Nusantara Global… aku tarik semua modal! Perusahaanmu takkan maju!" Amarah Rafa meledak.
"Dan kau, Vano! Kau pikir kekayaanmu bisa menyaingiku? 70% investor perusahaanmu adalah aku! Kerja sama kita berakhir! Kau akan ku pastikan keluar dari sekolah ini!" Rafa kejam.
"Dan kalian bertiga… akan merasakan apa yang wanita ini rasakan," Rafa berkata datar.
Seorang pengawal mengambil batu berlumuran darah Alia. Feby ketakutan.
"Takut? Padahal tadi kau tak takut melakukannya!" Rafa membentak.
"BUGH!" Rafa menarik rambut ketiga gadis itu, lalu mendorong mereka hingga terjatuh.
Alia panik. Situasi sudah sangat gawat. Ketiga gadis itu, orang tua mereka, dan dewan siswa tampak mengenaskan.
"Enzo, hentikan!" Alia berteriak, menghentikan Rafa.
"Kau ingin mereka mati?" Alia mendekati Rafa, yang masih diliputi amarah. Bahkan dewan sekolah pun takut menentangnya. Semua orang ngeri.
"Hentikan, Enzo! Kau membuat semua orang membencimu!" Alia memohon.
Rafa menatap Alia, kemarahannya perlahan mereda. Ia menarik napas dalam-dalam.
"Aku peringatkan kalian semua! Siapa pun yang berani mengusik wanita ini… jangan harap kalian bisa hidup tenang!" Rafa memperingatkan dengan tatapan tajam, namun nadanya sedikit lebih tenang.
Alia menggenggam tangan Rafa, menatap wajahnya yang masih dipenuhi amarah, namun kini ada sedikit kelembutan di baliknya. Suasana tegang masih terasa, namun ancaman Rafa telah membuat semua orang tertunduk takut.
Alia menarik Rafa menjauh dari kerumunan. "Apa yang kau lakukan di sini?" Alia bertanya, bingung.
"Menikah," jawab Rafa datar.
Beberapa siswa mendengarnya, terkejut. Ketampanan dan kekuasaan Rafa memang memikat. Ia adalah donatur terbesar sekolah.
Alia menendang kaki Rafa. "Sudah berapa kali kukatakan aku tak mau menikah denganmu!"
"Aku tak menerima penolakan," Rafa tetap tenang.
"Kau gila!" Alia frustasi.
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya menarik Alia. "Kau! Berani tak pulang!" Antonio, ayah Alia, membentak.
"Ayah…" Alia berbisik.
"Pulang!" Antonio menyeret Alia.
Rafa melihat sikap kasar Antonio, lalu menarik tangan Alia.
"Lepaskan dia!" Rafa menatap tajam.
"Kau yang harus melepaskannya! Ini putriku! Jangan ikut campur!" Antonio berteriak.
Alia mengangguk pada Rafa, meminta agar tak terjadi keributan. Rafa membiarkan mereka pergi, mengikuti dari belakang.
Mereka sampai di sebuah rumah bertingkat sederhana. Alia meringis saat kakinya terbentur kusen pintu.
"Lepaskan aku, Ayah!" Alia berteriak.
"Tidak! Kau harus tetap di sini, berhenti sekolah! Aku akan menyerahkanmu pada Tuan Kelvin. Ia akan membayar semua hutang setelah ibumu pergi!" Antonio membentak.
"Tidak! Aku tak mau menikah!" Alia memberontak.
"Kau harus mau! Jika tidak, aku akan dibunuh!"
"Ada cara lain, Ayah! Aku masih ingin sekolah!"
"Diam atau kupukul kau!"
Alia menendang alat vital Antonio, lalu berlari keluar. Antonio mengejar, namun Alia terjatuh, kakinya keseleo.
"Ah!" Alia kesakitan.
Antonio menangkap Alia. "Kau tak bisa lari lagi!"
"Lepaskan aku! Aku tak mau menikah!"
"Kau harus menikah!"
"Lepaskan wanita itu!" Suara Rafa kembali terdengar.
"Pergilah! Jangan ikut campur!"
"Enzo, tolong! Aku tak mau menikah dengan Tuan Kelvin!" Alia memohon.
"Diam! Kau harus menikah untuk membayar hutang!" Antonio menatap tajam Alia.
"Ayah, aku tak mau!" Alia menangis.
Rafa mengeluarkan kartu hitam, melemparkannya pada Antonio.
"Kartu ini berisi 250 juta Euro! Cukup untuk membayar hutangmu?" Rafa berkata datar.
Antonio terkejut. Hutang keluarganya hanya 10 juta Euro.
"Aku akan memberikan PIN-nya jika kau melepaskan wanita itu! Dan hubungan kalian sebagai ayah dan anak berakhir!" Rafa memberikan selembar perjanjian.
Antonio menandatangani perjanjian itu, menorehkan cap jempolnya.
"Ayah… apakah Ayah menjualku?" Alia sedih.
"Diam! Kau hanya mengganti biaya hidupmu! Menjauhlah dariku!" Antonio mengambil kartu itu, lalu menerima PIN dari Rafa.
"Ayah…" Alia menangis.