“Aku tidak akan pernah mau menikah kontrak dengan orang gila sepertimu.”
Itu adalah kalimat terakhir yang sempat aku ucapkan sebelum melangkah keluar dari ruangan kerja CEO paling menyebalkan yang pernah kutemui seumur hidupku.
Namun sialnya…
Sudah tiga hari berlalu semenjak pertemuan itu, dan anehnya aku masih saja terus memikirkannya.
Bukan memikirkan orangnya—Aditya Mahendra yang arogan dan menyebalkan itu—melainkan angka lima miliar yang terlontar dari mulutnya.
Dan juga kenyataan bahwa hidupku perlahan namun pasti mulai berantakan sepenuhnya.
Pagi itu.
“Aurel…”
Suara Mas Dimas, manajerku, terdengar begitu hati-hati saat memanggil namaku.
Saat itu aku sedang duduk melamun di ruang rapat agensi, hanya mengenakan baju bertudung berwarna hitam dengan wajah yang sama sekali tidak memiliki semangat.
“Ada apa lagi?” tanyaku datar, sudah bisa menebak bahwa kabar yang akan didengarnya pasti bukan kabar baik.
Mas Dimas menghela napas panjang, lalu menatapku dengan ragu.
“Kita kehilangan dua kontrak kerja sama dari merek yang cukup besar.”
Aku diam sejenak, lalu bertanya dengan nada yang sudah terasa lelah.
“Merek perawatan kulit dan perhiasan itu, kan?”
Ia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
Rasanya dadaku seketika terasa sesak dan berat.
“Begitu ya…”
Hanya itu kalimat yang mampu aku ucapkan.
Aku merasa sudah terlalu lelah untuk marah, berteriak, atau meluapkan emosi apa pun lagi. Semua rasanya sia-sia.
“Dan…” Mas Dimas kembali bersuara, kali ini terdengar makin ragu dan sungkan.
“Ada kabar buruk lain yang mulai berhembus. Rumor-rumor baru mulai bermunculan lagi.”
Aku malah tertawa kecil, tertawa yang kering dan penuh kepahitan.
“Lucu sekali ya dunia ini. Karier seseorang bisa hancur begitu saja dalam sekejap mata hanya karena berita bohong yang tidak bertanggung jawab.”
“Aurel…” panggilnya lembut seolah ingin menenangkan.
Aku langsung berdiri dari kursiku, emosi yang sempat tertahan kembali merayap naik ke permukaan.
“Padahal aku sama sekali tidak merebut siapa pun, Mas. Aku tidak berbuat dosa sebesar itu,” ucapku dengan suara yang mulai bergetar.
“Padahal aku sudah bekerja mati-matian dan berjuang sekuat tenaga sampai rasanya badan ini mau rontok.”
“Padahal aku sudah lelah sekali.”
Napas aku mulai tidak teratur, menahan tangis yang ingin meledak.
“Tapi kenapa orang-orang lebih percaya gosip dan fitnah daripada fakta yang sebenarnya?”
Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap.
Mas Dimas hanya menatapku dengan tatapan penuh rasa iba dan kasihan.
“Sabar ya, Aurel. Semua ini pasti akan berlalu juga,” hiburnya pelan.
Aku hanya mengangguk kecil, berusaha menguatkan diri sendiri.
Tiba-tiba ponselku yang tergeletak di meja bergetar berkali-kali.
Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Aku hampir saja mengabaikannya begitu saja, tapi…
“Nona Aurel, ini saya Rian, asisten pribadi Tuan Aditya Mahendra. Tuan kami masih menunggu kepastian jawaban dari Anda.”
Aku langsung mendengus kesal.
“Ih, dasar menyebalkan!” gerutuku pelan.
Mas Dimas mengernyitkan dahi melihat perubahanku.
“Ada apa? Siapa yang menelepon?”
“Tidak ada. Hanya ada orang aneh dan menyebalkan yang mencari masalah saja,” jawabku ketus.
“Lupakan saja.”
Malam harinya.
Aku memutuskan untuk pulang ke rumah Mama.
Jujur saja… saat ini aku sedang rindu suasana rumah yang hangat. Aku butuh sandaran dan kenyamanan, meski hanya sejenak.
Mama sedang duduk di ruang tengah, tampak sibuk menghitung dan menata beberapa tumpukan berkas di atas meja. Begitu melihat kedatanganku, ia langsung tersenyum menyambut.
“Aurel? Kok kamu pulang, Nak? Ada apa?”
Aku langsung berjalan mendekat dan memeluk tubuh Mama dari belakang dengan erat.
“Kangen sama Mama, makanya aku pulang,” jawabku pelan.
Mama ikut tertawa kecil sambil mengusap tanganku yang melingkar di pinggangnya.
“Kamu ini tumben sekali manis begini.”
Namun…
Saat mataku tanpa sengaja menatap ke arah meja, senyumku perlahan menghilang.
Di sana berserakan banyak sekali surat tagihan pembayaran, surat-surat dari bank, dan berbagai dokumen penting lainnya. Dan wajah Mama… terlihat jauh lebih lelah dan pucat dari biasanya.
“Mama…” panggilku hati-hati.
Mama langsung dengan cepat membereskan semua kertas itu dan menumpuknya rapi seolah tidak terjadi apa-apa.
“Ah, ini tidak ada apa-apa kok, Sayang. Hanya urusan administrasi biasa saja,” jawabnya berusaha tenang.
Tapi aku sudah tahu.
Ada sesuatu yang disembunyikan dariku.
“Mama,” panggilku lagi dengan nada yang lebih serius.
Aku duduk di sebelahnya dan menatap lekat-lekat wajah ibuku itu.
“Katakan saja yang sebenarnya sama aku. Ada masalah apa?”
Mama terdiam cukup lama, lalu akhirnya ia menghela napas panjang dan menyunggingkan senyum yang terasa begitu pahit.
“Sebenarnya… usaha bisnis Papa sedang mengalami kesulitan keuangan, Nak.”
Rasanya hatiku seolah turun ke dasar perut.
“Apa maksud Mama?”
“Utang perusahaan kami belum lunas dan angkanya cukup besar. Beberapa aset milik keluarga bahkan sudah rencananya akan segera dijual untuk menutupi kekurangan itu,” jelas Mama dengan suara lirih.
Aku langsung membeku di tempat, tubuhku terasa kaku dan dingin.
“Kenapa Mama dan Papa tidak pernah bilang sama aku selama ini?”
Mama malah tersenyum lembut sambil mengusap kepalaku.
“Kamu kan sedang sibuk mengejar karier dan cita-citamu, Mama tidak mau membebani pikiranmu dengan masalah orang tua. Biar kami saja yang mengurusnya.”
Aku langsung menahan napasku agar tidak terisak.
Sialan.
Kenapa semua hal buruk ini datangnya bersamaan dan bertubi-tubi seperti ini?
Namaku sedang tercemar dan kariermu hancur lebur.
Berita buruk dan gosip semakin menjadi-jadi di mana-mana.
Dan sekarang, keluargaku pun ternyata sedang berada dalam masalah besar.
Malam itu, aku sama sekali tidak bisa memejamkan mataku.
Pukul dua pagi.
Aku masih terbaring menatap langit-langit kamarku yang gelap.
Lalu… tanganku perlahan meraih sebuah kartu nama berwarna hitam yang terselip di dalam dompetku.
Nama itu tertulis jelas di sana: Aditya Mahendra.
Pria yang sombong. Arogan. Menyebalkan. Terlalu percaya diri seolah ia memiliki segalanya di dunia ini.
Aku menggigit bibir bawahku dengan kuat, perasaan bercampur aduk memenuhi kepalaku.
“Ah, gila benar hidupku ini…” gerutuku pelan.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku meraih ponsel dan mulai mengetik pesan singkat.
“Baik. Kita perlu bicara.”
Balasan pesan itu datang dengan sangat cepat, seolah ia sudah menunggunya sejak tadi.
“Besok. Pukul sepuluh pagi.”
Sialan.
Kenapa dia bisa secepat itu merespons? Rasanya semakin membuatku kesal saja.
Keesokan harinya.
Aku kembali melangkahkan kakiku masuk ke ruangan kerja CEO itu untuk kedua kalinya.
Dan seperti dugaanku… dia masih sama menyebalkannya.
Duduk dengan santai di kursi kebesarannya mengenakan jas berwarna abu-abu gelap yang pas di badan. Tatapannya dingin, tajam, dan wajahnya datar seolah manusia ini tidak pernah tahu apa itu senyum dan kebahagiaan.
“Kamu kembali lagi,” ucapnya pelan, bukan bertanya melainkan menyatakan fakta.
Aku langsung duduk di kursi di hadapannya dengan kasar dan keras.
“Jangan merasa diri kamu terlalu hebat atau terlalu dibutuhkan,” sahutku ketus.
Ia sedikit mengangkat sebelah alisnya, menatapku dengan pandangan yang meremehkan namun penasaran.
“Benarkah?”
“Aku datang kembali hanya karena aku ingin mendengarkan penjelasan dan rincian kontrak itu lebih lanjut. Tidak lebih,” jelasku tegas.
Sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang terlihat begitu puas dan penuh kemenangan.
Sungguh menyebalkan sekali pemandangannya itu.
“Aku sudah menduga kamu pasti akan kembali ke sini. Tidak ada orang yang bisa menolak tawaranku,” ucapnya santai dan percaya diri.
Aku melipat kedua tanganku di d**a, menatapnya tajam.
“Kurangi gaya bicaramu yang sok tahu itu.”
Ia hanya mengangguk santai, lalu mendorong sebuah map tebal berwarna hitam ke arahku melintasi meja.
“Baca sendiri isinya.”
Aku membuka halaman pertamanya, membaca poin demi poin yang tertulis di sana dengan teliti. Namun baru saja membaca baris kedua, mataku membelalak dan aku hampir saja tersedak ludahku sendiri karena kaget.
“SATU TAHUN? Kamu bilang satu tahun?!” seruku kaget.
“Iya,” jawabnya tenang tanpa perubahan nada sedikit pun.
“Dan setelah masa itu selesai, kita langsung bercerai dan berpisah jalan begitu saja?”
“Tepat sekali.”
Aku mengernyitkan dahiku makin dalam, menatapnya penuh kebingungan.
“Tunggu dulu. Kenapa harus aku? Dari sekian banyak wanita di kota ini, kenapa harus aku yang kamu pilih untuk melakukan pernikahan gila ini?”
Ia menjawab dengan nada yang begitu datar dan profesional.
“Karena kamu cantik.”
Aku langsung melotot lebar-lebar mendengar jawaban yang tidak terduga itu.
“…Apa katamu?”
“Kamu terkenal, banyak dikenal orang, dan punya pengaruh,” lanjutnya menjelaskan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Dan yang paling penting, kamu terampil dalam berpura-pura dan bisa menampilkan citra yang sempurna di depan publik.”
Mulutku sampai terbuka sedikit karena tak percaya.
“Aduh, benar-benar mulutmu itu… caramu bicara persis seperti orang yang sedang mencari model atau bintang iklan saja,” komentarku kesal.
Ia tetap tenang dan tidak tersinggung sama sekali.
“Ibu saya menyukai wanita yang berpenampilan anggun dan sopan. Keluarga kami juga sering menjadi sorotan media massa. Aku membutuhkan seseorang yang mampu berperan dengan baik sebagai istriku tanpa membuat masalah.”
Aku mendengus sinis.
“Wah, romantis sekali sekali alasannya. Aku jadi merasa sangat dihargai dan istimewa,” kataku dengan nada sarkas yang kental.
Ia seolah tidak mendengar nada ejekanku itu dan langsung beralih ke pembahasan selanjutnya.
“Sekarang mari kita bahas aturan mainnya.”
Aku kembali mengernyit.
“Banyak sekali aturannya?”
Ia mulai membacakan poin demi poin dengan suara berat dan tegas.
“Pertama.”
Ia menatapku lurus tepat ke dalam manik matanya.
“Selama pernikahan kontrak ini berlangsung, tidak boleh ada rasa jatuh cinta atau perasaan lebih dari salah satu pihak kepada pihak lainnya.”
Aku langsung tertawa lebar mendengar aturan konyol itu.
“HA HA HA HA! Oh tenang saja, jangan khawatir berlebihan begitu.”
“Aku sama sekali tidak mungkin akan jatuh cinta atau menyukai pria sedingin, sekeras, dan se-menyebalkan kamu ini,” ucapku dengan penuh keyakinan.
Ia menatapku dengan tatapan yang sama dinginnya.
“Bagus. Itu mengurangi beban pikiranku.”
Aku langsung mengerucutkan bibirku kesal.
“Eh sebentar… kok rasanya aku jadi yang tersakiti dan tidak diinginkan banget sih?” gerutuku pelan.
Ia kembali mengabaikan protesku dan melanjutkan ucapannya.
“Kedua.”
“Kita tidur di kamar yang terpisah dan masing-masing punya ruang pribadi sendiri.”
Wajahku langsung berubah cerah dan lega seketika.
“Nah! Ini baru namanya aturan yang masuk akal dan manusiawi. Aku juga sama sekali tidak berniat untuk tidur sekamar atau berdekatan denganmu lebih dari yang seharusnya,” jawabku cepat.
“Bagus.”
“Tapi…” nada suaranya berubah menjadi lebih serius.
“Di depan keluarga dan kerabat, kita harus terlihat harmonis, saling menyayangi, dan bahagia layaknya pasangan suami istri pada umumnya.”
“Terlihat harmonis itu seperti apa maksudnya?” tanyaku curiga.
Ia terdiam sejenak seolah sedang memilih kata yang tepat.
“Kita harus sering terlihat berpegangan tangan, sesekali berpelukan, dan kalau perlu pura-pura terlihat sangat mesra dan saling mencintai di depan mereka.”
Aku langsung terbatuk kaget mendengar penjelasan itu.
“HAH? Kamu bilang apa?!”
Ia malah santai meminum kopi yang ada di gelasnya.
“Kamu itu seorang model, Aurel. Berakting dan berpura-pura seharusnya adalah hal yang mudah dan biasa bagimu,” katanya wajar.
Aku langsung menunjuk wajahnya dengan telunjukku.
“Dengar ya, jangan macam-macam atau minta hal yang aneh-aneh dariku!”
“Aku ini orang yang profesional dan tahu batasan,” jawabnya tenang.
“Kamu juga harus sama.”
Aku menghela napas panjang, berusaha meredakan emosiku yang kembali naik.
“Baiklah, aku mengerti. Lalu?”
“Aturan ketiga.”
Ia kembali membalik halaman kontrak itu.
“Kita sama-sama tidak boleh ikut campur dalam kehidupan pribadi masing-masing di luar urusan pernikahan ini.”
Aku langsung mengangguk cepat dengan wajah yang kembali bersinar lega.
“Nah, ini poin yang paling aku sukai. Berarti kamu tidak boleh mengatur-ngatur kehidupanku, kemana aku pergi, atau dengan siapa aku berteman.”
“Begitu juga sebaliknya, aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang kamu lakukan,” jawabnya setuju.
Aku tersenyum kecil, setuju dengan hal ini.
“Sepakat.”
“Tapi…” potongnya cepat sebelum aku merasa menang.
“Jika ada pria lain yang mendekat atau terlihat terlalu akrab denganmu saat kita sedang berada di depan keluargaku atau dalam acara resmi… kamu tetaplah istriku saat itu juga.”
Aku langsung melotot kaget.
“Loh? Itu namanya posesif bukan main-main!”
“Hanya demi menjaga citra dan penampilan saja,” jawabnya santai.
“Oalah, ternyata begitu.” Aku mengangguk paham.
“Tapi gantian ya, kamu juga tidak boleh terlihat dekat atau bersikap manis dengan wanita lain di depanku, bagaimanapun juga kita sedang berpura-pura menjadi pasangan.”
Ia sedikit mengangkat sebelah alisnya menatapku dengan pandangan yang mengandung makna tersirat.
“Kamu cemburu?”
“Jijik sekali! Mana mungkin!” jawabku cepat dengan wajah yang memerah karena kesal.
Ia hampir saja tersenyum. Hampir saja. Tapi tetap saja tidak ada kehangatan di sana.
“Terserah saja padamu.”
“Dan yang terakhir.”
Ia berhenti sejenak saat sampai di poin akhir.
Dan anehnya… untuk sepersekian detik, ekspresi wajahnya yang kaku itu sedikit saja berubah menjadi lebih serius.
“Ibu menginginkan cucu.”
Aku langsung membeku di tempat seolah tersambar petir.
“…Apa?!”
“Kita harus memberikan kesan kepada semua orang bahwa kita adalah pasangan yang normal dan siap untuk memiliki keturunan kapan saja.”
Aku langsung berdiri dari kursiku dengan gerakan cepat.
“TIDAK! TIDAK MAU! SAMA SEKALI TIDAK BOLEH ADA ANAK DAN HAMIL-HAMILAN INI!”
Ia menghela napas panjang melihat reaksiku yang berlebihan.
“Duduklah dengan tenang dulu, Aurel.”
“Aku tidak mau hamil! Itu di luar kewajibanku dan aku menolaknya mentah-mentah!”
“Kamu dengarkan dulu penjelasanku sampai selesai,” katanya tegas.
“Tidak harus benar-benar terjadi saat ini juga atau kapan pun. Kita hanya perlu menciptakan kesan dan imajinasi bahwa hal itu bisa terjadi kapan saja.”
Aku masih menatapnya dengan tatapan curiga dan penuh kekesalan.
“Contohnya seperti apa?”
“Mama mungkin akan sering bertanya-tanya kapan kita menambah anggota keluarga. Mungkin juga menyuruh kita untuk mulai tidur sekamar secara rutin. Dan banyak hal lain yang turut campur dari beliau.”
Aku langsung memijat-mijat kepalaku yang tiba-tiba terasa pening.
“Ya Tuhan… Rumit sekali dan pusing sekali urusan keluargamu ini.”
Ia terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada datar.
“Kamu berhak menolak tawaran ini dan pergi dari sini sekarang juga.”
Ruangan itu kembali hening sepi.
Aku menatap map kontrak yang ada di atas meja itu.
Angka lima miliar rupiah.
Karierku yang sedang hancur dan semakin terpuruk.
Keluarga yang sedang mengalami masalah keuangan besar.
Aku menggigit bibirku keras-keras, perasaan bimbang dan tertekan melandaku sepenuhnya.
Sialan… kenapa hidupku harus serumit dan seberat ini?
Aditya diam-diam memperhatikan raut wajahku yang berubah-ubah.
“Kamu sedang punya masalah, bukan?” tanyanya tiba-tiba memecah keheningan.
Aku langsung mendongak tajam menatapnya.
“Tidak usah kepo atau ikut campur urusan orang lain,” jawabku ketus.
Ia diam selama beberapa detik, lalu kembali bersuara.
“Apakah uang lima miliar itu masih dirasa terlalu sedikit bagimu?”
Aku langsung melotot marah.
“Dengar ya, tidak semua masalah di dunia ini bisa diselesaikan atau diukur dengan uang semata!” bentakku.
“Kalau begitu apa masalahnya?” tanyanya tenang.
Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya kasar.
“Karierku sedang hancur lebur karena fitnah yang tidak masuk akal. Dan sekarang… keluargaku juga sedang menghadapi masalah yang cukup berat.”
Suasana ruangan itu mendadak menjadi jauh lebih tenang dan hening dari sebelumnya.
Ia tidak mengejekku, tidak memotong pembicaraanku, dan tidak menatapku dengan tatapan meremehkan. Ia hanya diam dan mendengarkan semuanya dengan saksama.
Aneh rasanya.
“Aku sudah sangat lelah, Aditya,” ucapku pelan, suara yang penuh keputusasaan akhirnya keluar juga.
“Orang-orang selalu mengira menjadi model itu hidupnya mudah, penuh kemewahan, dan menyenangkan.”
“Padahal kami juga bekerja keras, capek, dan punya masalah sendiri.”
“Semua orang dengan mudahnya menghakimi dan menyalahkan. Padahal aku sama sekali tidak bersalah.”
Untuk pertama kalinya semenjak aku bertemu dengannya…
Tatapan dingin dan tajam itu perlahan melunak. Sangat sedikit, namun nyata terlihat.
“Aku bisa membantu membersihkan nama baikmu,” ucapnya pelan namun tegas.
Aku terdiam menatapnya.
“Aku punya banyak koneksi dan kekuasaan di dunia media massa. Berita buruk dan skandal itu bisa hilang begitu saja dalam waktu yang sangat singkat jika aku menghendakinya.”
Aku mengepalkan tanganku di atas pangkuan dengan erat.
“Tapi kenapa harus aku? Kenapa kamu mau repot-repot melakukan ini semua untukku?”
Ia menjawab dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.
“Karena kamu yang paling cocok untuk memenuhi syarat yang aku butuhkan saat ini.”
Hening sejenak.
Lalu dengan tangan gemetar, aku perlahan menutup kembali map kontrak itu.
Aku menghela napas panjang, seolah melepaskan sebagian besar nasibku ke dalam genggaman orang lain.
“Kalau aku setuju dengan tawaran gila ini…”
Ia langsung menatapku dengan fokus penuh.
“Ya? Apa syaratmu?”
Aku menatapnya tajam, menatap tepat ke manik matanya.
“Jangan pernah bersikap kasar atau kurang ajar kepadaku, apa pun yang terjadi.”
“Sepakat,” jawabnya cepat tanpa ragu.
“Jangan pernah mencoba mengatur dan mengendalikan hidupku di luar aturan kontrak ini.”
“Selama hal itu tidak merusak citra atau nama baikku maupun keluargaku, aku tidak akan ikut campur,” janjinya.
“Dan…” aku menunjuk tepat ke arah wajahnya.
“Kurangi sedikit saja sifatmu yang menyebalkan, dingin, dan arogan itu.”
Untuk kedua kalinya hari itu, ia tersenyum tipis. Sangat tipis, namun kali ini terasa sedikit lebih tulus.
“Hm… Aku anggap hal itu mustahil terjadi,” jawabnya santai.
“Ih, dasar menyebalkan!” gerutuku kesal.
Aku bersandar malas di sandaran kursi, menyerah pada keadaan.
Lalu… dengan perasaan yang sangat berat dan penuh pertimbangan, aku akhirnya mengucapkannya.
“Baiklah.”
“Aku terima tawaran ini.”
Hening.
Benar-benar hening seketika itu juga.
Aditya perlahan berdiri tegak di tempatnya. Tangannya masuk ke dalam saku celana, dan tatapannya kembali menjadi dingin serta penuh wibawa seperti biasanya.
“Bagus,” ucapnya singkat dan padat.
Aku langsung mendengus kesal melihat ekspresi datarnya itu.
“Responmu itu persis seperti orang yang baru saja berhasil membeli saham perusahaan, tidak ada rasa senang atau terima kasih sama sekali,” sindirku.
Ia mengabaikan ucapanku itu begitu saja.
Namun kemudian, ia mengucapkan satu kalimat…
Satu kalimat yang membuatku langsung membeku dan ingin sekali mencekik lehernya saat itu juga.
“Mulai hari ini…”
Ia mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja, lalu menatapku lekat-lekat.
“Kamu akan pindah dan tinggal di penthouse milikku.”
“…HAH?!”