Pagi itu seharusnya terasa tenang dan damai.
Seharusnya.
Kalau saja hidupku tidak tiba-tiba berubah menjadi seperti alur drama murahan yang sering ada di televisi.
“AUREL DIDUGA MENJADI ORANG KETIGA?”
“MODEL SEKSI AUREL ARASYA TERLIBAT HUBUNGAN TERSEMBUNYI DENGAN AKTOR TERKENAL?”
“SKANDAL BARU MENGUNCANGKAN DUNIA HIBURAN!”
Dengan kasar aku membanting iPad yang sedang kupegang ke atas sofa.
“ANJIR!” seruku keras.
Eva yang saat itu sedang asyik mengunyah kue sus hampir saja tersedak mendengar teriakanku.
“WOI! Apa-apaan ini?!” sergahnya sambil memukul dadanya pelan.
Lira yang duduk di sebelahku langsung mendekat dengan wajah khawatir.
“Masih jadi perbincangan hangat di mana-mana ya?” tanyanya hati-hati.
“MASIH?!” Aku menunjuk layar ponselku dengan tangan gemetar menahan amarah. “LIAT SENDIRI INI! HEADLINE-NYA SEMUA ISINYA FITNAH BELAKA!”
Lira membaca sekilas sambil meringis menahan sakit hati melihat berita itu.
“Ya Tuhan… ini sih benar-benar keterlaluan banget isinya,” gumamnya.
Aku berdiri dan mulai mondar-mandir di ruang tengah apartemenku yang luas itu, merasa frustrasi luar biasa.
“Sialan… aku sama sekali tidak melakukan apa-apa! Kenapa mereka bisa menulis sembarangan begini?!”
Eva menghela napas panjang, lalu menatapku dengan tatapan simpati.
“Kamu tahu sendiri kan bagaimana dunia hiburan ini, Rel? Sedikit saja ada angin, langsung mereka buat jadi badai.”
“Aku capek, Va… aku capek banget,” keluhku sambil duduk kembali dan memijat pelipis yang tiba-tiba terasa berdenyut.
Padahal semalam aku baru saja menyelesaikan acara peragaan busana besar dengan hasil yang memuaskan. Kukira hari esok akan membawa kabar baik. Tapi nyatanya? Malah aku yang harus menghadapi skandal tidak masuk akal begini. Belum lagi dua merek yang akan menandatangani kontrak kerja sama denganku kemarin mengabarkan bahwa mereka menundanya sampai masalah ini selesai.
Hebat. Benar-benar lengkap sudah penderitaaku kali ini.
Ting… Tong…
Suara bel pintu berbunyi nyaring memecah keheningan.
Eva melirik ke arah pintu, lalu menatapku bingung.
“Siapa yang datang pagi-pagi begini?”
“Aku tidak memesan makanan atau apa pun kok,” jawabku sama bingungnya.
Lira beranjak berdiri. “Aku buka dulu deh.”
Begitu pintu terbuka, terlihat sesosok pria berpakaian sangat rapi berdiri tegak di ambang pintu. Kemeja hitam yang ia kenakan terlihat bersih dan pas di badan, tatapannya tajam namun sopan, dan aura yang ia pancarkan benar-benar khas orang yang bekerja di dunia korporat.
“Selamat pagi,” sapanya sedikit membungkukkan badan dengan nada bicara yang sangat profesional.
“Apakah benar ini kediaman Nona Aurel Arasya Nabiqa?” tanyanya lagi.
Aku yang kini sudah berdiri di belakang Lira langsung menatapnya dengan curiga.
“Siapa yang bertanya?” tanyaku ketus.
“Perkenalkan, nama saya Rian,” jawabnya tenang.
Ia kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jasnya dan mengulurkannya ke arahku.
“Saya adalah asisten pribadi Tuan Aditya Mahendra.”
Ruangan itu seketika hening.
Aku mengedipkan mata beberapa kali, mencoba memproses apa yang baru saja ia ucapkan.
“…Siapa?”
Eva yang berdiri di sebelahku sampai melotot tak percaya dengan mulut sedikit terbuka.
“TIDAK MUNGKIN! Aditya Mahendra yang mana? Si CEO itu?!”
Lira ikut menutup mulutnya dengan tangan.
“Aditya Mahendra… Pemilik dan Ketua Mahendra Group? Orang terkaya di negeri ini itu?!” serunya berbisik namun terdengar jelas.
Aku mengerutkan keningku makin dalam, masih belum paham arah pembicaraan ini.
“Oke… lalu ada keperluan apa beliau mengirimkan asistennya ke sini?” tanyaku datar.
Rian tetap menjaga ketenangannya, wajahnya tidak berubah sedikit pun.
“Tuan kami ingin bertemu dengan Anda, Nona Aurel.”
Aku langsung tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.
“Hah? Bertemu? Untuk apa?”
“Sekarang,” tambah Rian tegas.
Aku melipat kedua tanganku di d**a, menatapnya menantang.
“Boleh tahu untuk keperluan apa? Kalau urusan bisnis atau hal lain, kenapa tidak lewat email atau surat resmi saja? Aku sedang tidak ingin bertamu ke mana-mana.”
“Ini bersifat sangat pribadi dan mendesak, Nona.”
Eva langsung menyikut lenganku pelan lalu berbisik, “Rel… ini kesempatan langka tahu. Itu relasi orang paling berpengaruh di negeri ini, jangan dianggap remeh.”
Lira juga ikut membisikkan sesuatu, “Atau jangan-jangan… jangan-jangan dia tertarik atau penggemar berat kamu sampai mau bertemu langsung?”
Aku langsung melotot ke arah mereka berdua.
“DIEM KALIAN BERDUA!”
Kembali menatap Rian, aku berkata dengan nada tegas.
“Kalau saya tolak permintaan Tuan Mahendra, bagaimana?”
Rian menatapku lekat-lekat.
“Tuan Aditya bukanlah tipe orang yang suka ditolak, Nona.”
Aku langsung mengangkat sebelah alisku, rasa penasaranku bercampur rasa kesal mulai mendominasi.
“Oh ya?”
Senyumku menjadi tipis dan sinis.
“Terus menurutmu aku harus takut dan patuh begitu saja?”
Rian tampak sedikit tertegun dan bingung sejenak. Sepertinya ia tidak terbiasa melihat orang yang berani berdebat atau menantang atasannya, atau bahkan orang yang mewakilinya.
“Tuan kami sudah menunggu tepat pukul dua belas siang. Ini alamatnya,” ucapnya tenang sambil kembali menyodorkan selembar kartu nama yang berbeda dari sebelumnya.
“Silakan pertimbangkan.”
Setelah itu, ia berbalik badan dan pergi begitu saja.
Begitu pintu tertutup rapat, Eva dan Lira langsung berteriak heboh bersamaan.
“YA AMPUNNN SIALAN!”
“AUREL! ITU DIA! ITU ORANGNYA!”
Aku masih berdiri terpaku di tempatku, menatap pintu yang baru saja ditutup.
“Kalian ini kenapa sih? Berlebihan banget reaksinya,” kataku masih belum mengerti kegemparan mereka.
“ITU LHO! CEO TERPENGARUH DAN TERPENGARUH DI JAKARTA! ORANGNYA SUPER KAYA, GANTENG, DAN NAMANYA SELALU ADA DI MAJALAH FORBES!” seru Eva antusias.
Aku menyipitkan mataku ke arah mereka.
“Terus?”
Eva memegang kedua bahuku dan menggoyangkannya pelan.
“Jangan bilang kamu berniat tidak datang, kan? Ini kesempatan yang mungkin tidak akan pernah datang dua kali seumur hidupmu, Rel!”
Aku menghela napas panjang dan berjalan kembali ke sofa.
“Entahlah… rasanya mencurigakan banget. Jangan-jangan ini penipuan atau jebakan semacamnya,” gumamku ragu.
Pukul dua belas siang.
Aku akhirnya memutuskan untuk datang.
Bukan karena tertarik pada siapa orangnya atau hartanya, melainkan karena rasa penasaran yang kian memuncak. Aku ingin tahu, sebegitu hebatnya apa orang bernama Aditya Mahendra ini sampai membuat semua orang begitu segan?
Gedung pencakar langit milik Mahendra Group menjulang tinggi di pusat kota, terlihat sangat elegan, kokoh, dan mewah. Bahkan baru melangkah masuk ke lobi saja, aura kemewahan dan kekuasaannya sudah terasa begitu kuat dan menekan.
Aku masuk mengenakan gaun selutut berwarna hitam polos yang sederhana namun berkelas, dipadukan dengan jas luaran putih dan kacamata hitam besar. Rambutku dibiarkan terurai indah. Meski hidupku sedang penuh masalah dan kekacauan, penampilan tetaplah nomor satu bagiku. Aku tidak boleh terlihat buruk atau kalah gaya di mana pun aku berada.
Resepsionis di meja depan langsung berdiri tegak begitu melihat kehadiranku.
“Selamat siang, Nona Aurel Arasya Nabiqa,” sapanya ramah dan sopan.
Aku sedikit mengangkat alisku.
“Kalian sudah tahu aku mau datang?”
“Tentu. Tuan Aditya sudah menunggu di lantai khusus, Nona.”
Lantai khusus?
Wah, benar-benar gaya hidup kaum sultan.
Pintu lift terbuka, dan saat aku melangkah keluar di lantai yang dituju… aku sampai tertegun.
Satu lantai penuh yang luas dan megah ini hanya digunakan untuk ruang kerja satu orang saja? Gila.
Rian sudah berdiri menunggu di depan pintu besar di ujung lorong.
“Selamat siang, Nona. Silakan masuk,” persilahnya.
Pintu besar itu terbuka lebar.
Dan di sana…
Seorang pria berdiri membelakangi pintu, menatap pemandangan kota dari balik kaca jendela yang sangat besar dan lebar. Ia mengenakan setelan jas hitam yang terlihat sangat mahal dan pas di badan, postur tubuhnya tinggi dan tegap, kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya.
Aura dingin dan kaku terasa menyelimuti seisi ruangan itu.
Saat ia perlahan berbalik badan menghadap ke arahku…
Oke.
Aku akui dengan jujur.
Cowok ini kelewat tampan. Sangat tampan bahkan.
Tapi ada satu hal yang langsung terlintas di pikiranku saat menatap wajahnya.
Wajahnya menyebalkan.
Tipe wajah pria yang sombong, tinggi hati, dan merasa paling berkuasa. Tatapannya tajam seolah bisa menembus pikiran orang, rahangnya tegas, dan ekspresinya datar tanpa emosi sedikit pun.
“Duduk,” ucapnya singkat, suaranya terdengar berat dan berwibawa namun sangat dingin.
Aku langsung mengernyitkan dahiku mendengar perintah itu.
“…Permisi?”
“Aku bilang, duduk,” ulangnya tanpa perubahan nada, bahkan tanpa senyum sedikit pun.
Aduh, kurang ajar banget bicaranya. Nggak ada sopan santunnya sama sekali.
Alih-alih duduk, aku malah tetap berdiri tegak di tempatku, menatapnya dengan tatapan menantang.
“Kalau saya tidak mau duduk bagaimana?” balasku ketus.
Ia sedikit mengangkat sebelah alisnya, lalu menatapku dari ujung kepala hingga ke kaki dengan tatapan yang sangat menilai dan mengkritik.
Tatapannya itu benar-benar bikin darahku mendidih. Rasanya seperti sedang dinilai barang dagangan yang cacat.
“Aurel Arasya Nabiqa,” ucapnya pelan namun tegas.
Ia kemudian berjalan ke meja kerjanya dan mengambil sebuah tablet di sana.
“Usia dua puluh satu tahun.”
“Bekerja sebagai model dan duta merek beberapa perusahaan ternama.”
“Baru saja lulus sarjana ekonomi dengan nilai yang cukup memuaskan.”
Aku melipat kedua tanganku di d**a, merasa semakin tidak nyaman.
“Ngapain kamu mencari tahu semua data diriku sampai sedetail ini? Kamu mau menguntitku atau apa?”
“Tentu saja aku melakukan riset sebelum bertemu orang asing,” jawabnya santai seolah itu hal yang biasa.
“Oke, itu namanya menyerang privasi dan menyeramkan,” komentarku sinis.
Ia malah tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak terasa ramah.
“Kamu sedang berada di titik terendah kariermu sekarang,” ucapnya tiba-tiba.
Aku langsung membeku di tempat.
“…Apa maksudmu?”
Ia melempar tablet itu ke atas meja menghadap ke arahku, menampakkan berita-berita yang sedang marak tentangku.
“Aurel diduga menjadi perebut suami orang lain.”
“Banyak kontrak iklan yang terpaksa ditunda karena citra buruknya.”
“Nama dan reputasinya sedang jatuh bebas.”
Dadaku langsung terasa panas menahan amarah yang kembali meluap.
“Lalu? Apa urusanmu dengan semua ini?”
Ia bersandar santai di kursi kebesarannya sambil menyilangkan kedua tangannya di d**a.
“Berarti posisimu saat ini membuatmu mudah untuk diajak bernegosiasi,” ucapnya santai dan penuh percaya diri.
Suasana ruangan yang besar itu seketika menjadi sunyi senyap.
Aku mengedipkan mataku beberapa kali, lalu perlahan tertawa kecil yang penuh dengan nada sinis.
“Oh…”
“Oke, sekarang aku mulai mengerti arah pembicaraanmu ini.”
Aku kembali berdiri tegak dan bersiap untuk pergi.
“Kalau tujuanmu memanggilku ke sini hanya untuk menghina dan merendahkanku lebih jauh, aku rasa aku sudah selesai mendengarkan. Aku pamit pulang.”
“Duduk.”
“Tidak mau,” tolakku tegas.
Ia menghela napas pendek, terlihat sedikit kesal karena aku sulit diatur.
“Dengar dulu penawarannya, Aurel.”
“Apa?!” bentakku tidak sabar.
Pria itu kemudian membuka sebuah map berwarna hitam tebal yang ada di atas mejanya, lalu mendorongnya ke arahku sampai tepat di pinggiran meja.
“Kontrak,” ucapnya singkat.
Aku mengernyitkan dahi, menatap benda itu dengan curiga.
“Kontrak apa?”
“Pernikahan kontrak.”
…
Hening.
Benar-benar hening seketika itu juga.
Aku menatap wajahnya, lalu beralih menatap map itu, lalu kembali menatap wajahnya lagi dengan tatapan tidak percaya.
“…HAH?!” seruku nyaris berteriak.
Ia tetap duduk dengan tenang seolah baru saja mengucapkan hal yang paling wajar di dunia ini.
“Menikah denganku selama satu tahun ke depan,” ucapnya santai.
Aku langsung tertawa terbahak-bahak, suaranya bergema memenuhi ruangan besar itu.
“HA HA HA HA HA! Ya Tuhan, aku pasti salah dengar kan?!”
Aku sampai menepuk-nepuk permukaan meja kerjanya karena menahan tawa yang bercampur keterkejutan.
“Kamu serius mengusulkan hal yang tidak masuk akal seperti itu kepadaku?!”
“Sangat serius,” jawabnya tanpa ragu sedikit pun.
Aku kembali berdiri tegak, menunjuk ke arahnya dengan jari telunjukku.
“Kamu pasti gila! Atau kurang kerjaan?! Aku sedang sibuk membenahi hidupku, dan kamu pikir aku mau menikah dengan orang asing yang baru saja kutemui lima menit yang lalu?!”
“Kamu sedang membutuhkan uang dalam jumlah besar dan perlindungan,” potongnya tenang.
Kalimat itu seolah membakar kesabaranku sampai habis.
“HEI! KAMU PIKIR AKU INI PEREMPUAN MURAHAN YANG BISA DIBELI DENGAN UANG?!” bentakku dengan suara tinggi.
Ruangan itu kembali hening, namun kali ini suasananya jauh lebih panas dan menegangkan.
Pandangan kami saling bertaut dan beradu, seolah ada percikan api yang muncul di udara.
Ia tidak tampak takut sedikit pun menghadapi kemarahanku.
Dan aku pun sama sekali tidak gentar menghadapi arogansinya.
“Aku tidak pernah bilang kamu w************n,” ucapnya tenang namun tajam.
“Tapi aku tahu satu hal, setiap orang pasti punya harga diri dan kebutuhan yang bisa dinegosiasi.”
Aku tertawa sinis sambil menggelengkan kepala.
“Wah… benar-benar sombongnya tidak ada obatnya.”
Ia tetap tenang dan tidak terpengaruh.
“Lima miliar.”
…
Aku terdiam seketika.
“…Apa?”
“Aku berikan uang sebesar lima miliar rupiah,” ulangnya tegas.
Ia mendorong map itu sedikit lebih dekat ke arahku.
“Sebagai gantinya, kamu menjadi istriku yang sah di atas kertas selama satu tahun penuh.”
Aku menatapnya dengan mata terbelalak tidak percaya.
“Kamu benar-benar gila!”
“Tidak. Ini namanya strategi bisnis yang saling menguntungkan.”
Aku hampir tertawa karena rasanya konyol sekaligus kesal luar biasa.
“Kamu pikir aku sudah seputus asa itu sampai mau menjual diriku begini?!”
“Kamu sedang dihancurkan oleh media massa saat ini,” katanya dingin dan nyata.
“Bisa jadi dalam beberapa bulan lagi, namamu tidak akan lagi ada di industri ini dan kamu akan kesulitan bertahan.”
Aku mengepalkan tanganku erat-erat sampai buku jariku memutih.
“Kurang ajar…”
“Tapi apa yang kukatakan ini benar adanya, bukan?” balasnya santai.
Aku membenci cara bicaranya. Terlalu sok tahu, terlalu tenang, dan terlalu menyebalkan.
“Kalau kamu tidak suka, tolak saja tawaranku itu,” katanya sambil melirik jam tangannya seolah punya banyak sekali pilihan lain.
“Tapi pikirkan baik-baik, Aurel.”
“Lima miliar rupiah. Tempat tinggal mewah di bawah namaku. Keamanan terjamin. Dan yang paling penting… aku bisa menghapus semua skandal dan berita buruk tentangmu dalam waktu kurang dari seminggu.”
Aku membeku di tempat.
“…Apa?”
“Aku memegang banyak koneksi dan kekuasaan di dunia media massa. Jika aku menginginkannya, dalam tujuh hari saja namamu akan kembali bersih dan harum mewangi,” ucapnya penuh percaya diri.
Jantungku berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Brengsek… kenapa tawaran yang keterlaluan ini malah terdengar begitu menggoda dan menarik bagiku?
Aku langsung menggelengkan kepalaku keras-keras untuk membuang pikiran gila itu.
“Tidak! Mustahil! Tidak ada orang waras yang mau melakukan pernikahan atas dasar kontrak begini!”
Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum kecil yang tipis.
Dan anehnya… senyumnya itu malah membuatku semakin kesal dan ingin memukul wajahnya.
“Kamu akan kembali lagi ke sini, Aurel. Aku yakin itu,” ucapnya penuh keyakinan.
Aku langsung melotot tajam ke arahnya.
“Pede banget kamu itu!”
“Kita lihat saja nanti.”
Aku meraih tasku dari atas meja dengan kasar, lalu melangkah pergi menuju pintu keluar. Namun sebelum keluar sepenuhnya, aku berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.
“Ah ya satu lagi,” ucapku dengan nada penuh penghinaan.
“Kamu itu terlalu arogan, dingin, dan menyebalkan untuk bisa menjadi suami siapa pun.”
Ia malah menjawab dengan nada santai tanpa rasa tersinggung.
“Untungnya ini cuma pernikahan kontrak, bukan yang sesungguhnya dan selamanya.”
Aku refleks mendecapkan lidahku dengan keras.
Cih! Menyebalkan banget! Benar-benar manusia paling nyebelin yang pernah kutemui seumur hidupku!
Tapi entah kenapa…
Saat aku melangkah keluar dari gedung itu dan menghirup udara segar, satu kalimat itu terus berputar dan bergema di dalam kepalaku.
“Lima miliar…”
Dan yang lebih menyebalkan lagi…
Wajah dingin dan senyum penuh percaya diri CEO itu terus saja membayangi pikiranku.