Bima mulai menunjukkan bakat musik yang luar biasa. Ia mulai belajar bermain gitar dengan guru musik terbaik di kota, dan ia sudah bisa memainkan lagu-lagu sederhana dengan sangat baik dalam beberapa bulan.
Arga dan Larasati mendukung Bima sepenuhnya dengan bakat musiknya. Mereka tidak memaksanya untuk menjadi seperti mereka, tidak memaksanya untuk mengikuti jejak bisnis Arga, tidak memaksanya untuk menjadi seperti Aisha yang akademis. Mereka hanya mendukung Bima untuk menjadi dirinya sendiri, untuk menemukan kebahagiaannya sendiri dengan musik.
Suatu sore, ketika Bima berlatih gitar di ruang keluarga dengan lagu yang ia ciptakan sendiri, Arga dan Larasati duduk di sofa dengan tatapan yang penuh dengan kekaguman yang tidak bisa disangkal.
'Bima sangat berbakat, Larasati,' kata Arga pelan, menatap Bima bermain gitar dengan tatapan yang penuh dengan kekaguman. 'Bima sangat berbakat dengan musik, dan ia akan menjadi musisi yang luar biasa suatu hari nanti.'
'Bima sangat berbakat, Arga. Bima sangat berbakat dengan musik, dan ia akan menjadi musisi yang luar biasa suatu hari nanti.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan kita akan mendukungnya untuk menjadi musisi yang luar biasa, Arga. Kita akan mendukungnya untuk menemukan kebahagiaannya sendiri dengan musik.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Bima bermain gitar, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Bima tidak hanya anaknya. Bima juga individu yang unik, individu yang berbakat, individu yang akan menemukan kebahagiaannya sendiri dengan musik.
'Aku tidak akan memaksanya untuk menjadi seperti aku, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku tidak akan memaksanya untuk mengikuti jejak bisnisku, tidak akan memaksanya untuk menjadi seperti Aisha yang akademis. Aku akan mendukungnya untuk menjadi dirinya sendiri, untuk menemukan kebahagiaannya sendiri dengan musik.'
'Saya juga tidak akan memaksanya untuk menjadi seperti kita, Arga. Saya juga tidak akan memaksanya untuk mengikuti jejak bisnis Anda, tidak akan memaksanya untuk menjadi seperti Aisha yang akademis. Saya juga akan mendukungnya untuk menjadi dirinya sendiri, untuk menemukan kebahagiaannya sendiri dengan musik.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan kita akan mendukungnya untuk menjadi musisi yang luar biasa bersama-sama, Arga. Kita akan mendukungnya untuk menjadi musisi yang luar biasa bersama-sama.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Bima bermain gitar, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu membantunya menjadi ayah yang baik untuk Aisha dan Bima.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan mendukung Bima untuk menjadi musisi yang luar biasa bersama-sama. Seperti orang tua yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebanggaan yang tidak bisa disangkal, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Bima berhenti bermain gitar untuk sesaat dan menatap Arga dan Larasati dengan tatapan yang penuh dengan keinginan untuk membuat mereka bangga.
'Papa, Mama, apa kalian suka lagu yang saya ciptakan?' tanya Bima dengan tatapan yang penuh dengan keinginan untuk membuat mereka bangga.
'Bima, lagu itu luar biasa,' kata Arga pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Lagu itu luar biasa, Bima. Papa sangat bangga padamu.'
'Bima, lagu itu luar biasa,' kata Larasati pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Lagu itu luar biasa, Bima. Mama sangat bangga padamu.'
Bima tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga dan Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, dengan keinginan untuk membuat mereka bangga yang tidak bisa dijelaskan.
'Saya akan terus bermain musik untuk kalian, Papa, Mama. Saya akan terus bermain musik untuk kalian dan menjadi musisi yang luar biasa untuk kalian.' Bima menatap mereka dengan tatapan yang penuh dengan keinginan untuk menjadi musisi yang luar biasa.
'Bima, kau sudah menjadi musisi yang luar biasa untuk kami,' kata Larasati pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Kau sudah menjadi musisi yang luar biasa untuk kami, dan kau akan menjadi musisi yang lebih baik lagi di masa depan.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebanggaan yang tidak bisa disangkal, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Dan untuk pertama kalinya, Arga merasa bahwa ia tidak hanya ayah yang protektif. Ia juga ayah yang bangga dengan Bima yang sudah menjadi musisi yang luar biasa.
Dan itu sudah cukup.