Aisha diterima di universitas impiannya: Universitas Indonesia, dengan jurusan Sastra Inggris yang ia inginkan sejak kecil. Ia diterima dengan nilai yang sangat baik, dengan rekomendasi yang sangat baik, dengan masa depan yang sangat cerah.
Arga dan Larasati tidak bisa lebih bangga lagi dengan Aisha. Mereka tidak bisa lebih bangga lagi dengan putri mereka yang sudah tumbuh menjadi wanita yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan.
Aisha memberitahu mereka di malam hari, ketika mereka makan malam bersama di ruang keluarga, dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
'Papa, Mama, saya diterima di Universitas Indonesia dengan jurusan Sastra Inggris!' teriak Aisha dengan tawa yang keras, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Saya diterima di universitas impian saya!'
Arga dan Larasati tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Mereka hanya menatap Aisha dengan tatapan yang penuh dengan kebanggaan yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
'Aisha, itu luar biasa,' kata Arga akhirnya, suaranya serak. 'Itu luar biasa, Aisha. Papa sangat bangga padamu.'
'Aisha, itu luar biasa,' kata Larasati akhirnya, suaranya serak juga. 'Itu luar biasa, Aisha. Mama sangat bangga padamu.'
Aisha tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga dan Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, dengan keinginan untuk membuat mereka bangga yang tidak bisa dijelaskan.
'Saya akan belajar dengan baik di universitas, Papa, Mama. Saya akan belajar dengan baik dan menjadi wanita yang baik seperti Mama.' Aisha menatap mereka dengan tatapan yang penuh dengan keinginan untuk menjadi seperti Larasati.
'Aisha, kau sudah menjadi wanita yang baik seperti Mama,' kata Larasati pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Kau sudah menjadi wanita yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan. Dan kau akan menjadi wanita yang lebih baik lagi di universitas.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Aisha, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Aisha sudah tumbuh menjadi wanita yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan. Aisha sudah tumbuh menjadi wanita yang akan menemukan kebahagiaannya sendiri dengan cinta yang benar.
'Aisha, Papa tidak bisa lebih bangga lagi padamu,' kata Arga pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Papa tidak bisa lebih bangga lagi dengan wanita yang sudah kau menjadi, dengan masa depan yang sudah kau buka untukmu sendiri, dengan kehidupan yang sudah kau bangun untukmu sendiri.'
Aisha tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga dan Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, dengan keinginan untuk membuat mereka bangga yang tidak bisa dijelaskan.
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebanggaan yang tidak bisa disangkal, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Malam itu, ketika Aisha dan Bima tertidur di kamar mereka masing-masing, Arga dan Larasati duduk di ruang keluarga dengan teh hangat di tangan mereka, dengan keheningan yang penuh dengan kebanggaan.
'Aisha sudah tumbuh menjadi wanita yang luar biasa, Larasati,' kata Arga pelan, menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kebanggaan. 'Aisha sudah tumbuh menjadi wanita yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan. Dan itu semua karenamu.'
'Aisha sudah tumbuh menjadi wanita yang luar biasa, Arga. Aisha sudah tumbuh menjadi wanita yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan. Dan itu semua karena kita bersama-sama.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Kita sudah menjadi orang tua yang baik untuk Aisha bersama-sama, Arga. Kita sudah menjadi orang tua yang baik untuk Aisha bersama-sama.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu membantunya menjadi ayah yang baik untuk Aisha dan Bima.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan terus menjadi orang tua yang baik untuk Aisha dan Bima bersama-sama. Seperti orang tua yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebanggaan yang tidak bisa disangkal, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Dan untuk pertama kalinya, Arga merasa bahwa ia tidak hanya ayah yang protektif. Ia juga ayah yang bangga dengan Aisha yang sudah tumbuh menjadi wanita yang luar biasa.
Dan itu sudah cukup.