Nadia tidak menyerah setelah bukti keaslian foto-foto terbongkar. Ia tidak berhenti mencoba menghancurkan Larasati dan Arga. Ia menggunakan cara yang paling jahat, cara yang paling berbahaya, cara yang bisa menghancurkan segalanya: ia mencoba mencelakai Larasati secara langsung.
Suatu malam, ketika Larasati sedang berjalan pulang dari kantor yayasan ke mobilnya di tempat parkir bawah tanah, Nadia muncul dari kegelapan dengan pisau di tangannya, dengan tatapan yang penuh dengan kebencian yang tidak bisa dijelaskan.
'Kau akan menyesal sudah merebut suamiku, pelacur,' bisik Nadia, suaranya rendah dan berbahaya. 'Kau akan menyesal sudah menghancurkan kehidupanku.'
Larasati tidak bisa bergerak untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Nadia dengan pisau di tangannya, dengan tatapan yang penuh dengan kebencian, dengan keinginan untuk membunuh yang tidak bisa disangkal.
'Nadia, jangan lakukan ini,' kata Larasati pelan, suaranya bergetar. 'Jangan lakukan ini. Anda tidak ingin melakukan ini.'
'Aku ingin melakukan ini, Larasati. Aku ingin membunuhmu karena kau merebut suamiku, karena kau menghancurkan kehidupanku, karena kau membuatku kehilangan segalanya.' Nadia menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. 'Dan aku tidak akan berhenti sampai kau mati.'
Nadia bergerak maju dengan pisau di tangannya, dengan keinginan untuk membunuh yang tidak bisa disangkal. Larasati tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa berlari. Ia hanya bisa menatap Nadia dengan tatapan yang penuh dengan ketakutan.
Tapi sebelum Nadia bisa melakukan apa-apa, suara langkah kaki berlari mendekat dari arah lift. Suara teriakan seorang pria yang Larasati kenal dengan baik.
'Larasati!'
Arga.
Arga berlari ke arah mereka dengan wajah yang penuh dengan ketakutan dan kemarahan. Ia menabrak Nadia dengan tubuhnya, membuat Nadia jatuh ke lantai, dan berdiri di depan Larasati dengan tubuhnya yang melindungi.
'Pergi!' teriak Arga pada Nadia, suaranya berbahaya. 'Pergi sebelum aku membunuhmu!'
Nadia menatap Arga dengan tatapan yang penuh dengan kebencian, dengan keinginan untuk membunuh yang tidak bisa disangkal. Tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia tidak bisa melawan Arga. Ia tidak bisa melawan ketakutan bahwa ia akan dihukum lagi.
Polisi datang dengan cepat, dan mereka menangkap Nadia dengan tuduhan percobaan pembunuhan lagi. Kali ini, Nadia tidak akan dibebaskan dengan jaminan. Kali ini, Nadia tidak akan bisa kembali dari ini.
Arga tidak puas dengan itu. Ia tidak puas hanya dengan Nadia ditangkap. Ia ingin Nadia membayar untuk apa yang sudah ia lakukan pada Larasati, pada keluarga mereka, pada kehidupan mereka.
Ia melaporkan Nadia untuk semua kejahatannya lagi: perselingkuhan, pemalsuan kehamilan, percobaan pembunuhan, penculikan, ancaman pembunuhan, pemalsuan foto-foto, dan sekarang, percobaan pembunuhan lagi.
Nadia akan diadili lagi, dan kali ini, ia tidak akan bisa kembali dari ini. Ia tidak akan bisa menghancurkan Arga dan Larasati lagi.
Malam itu, Arga dan Larasati pulang ke mansion dengan kelegaan yang tidak bisa disangkal, dengan kebenaran yang sudah terbukti.
'Aku tidak ingin kehilanganmu, Larasati,' kata Arga pelan di dalam mobil. 'Aku tidak ingin kehilanganmu seperti aku kehilangan ibuku. Aku tidak ingin kehilanganmu karena Nadia.'
'Anda tidak akan kehilangan saya, Arga. Anda tidak akan kehilangan saya. Saya tidak akan pergi ke mana pun.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Kita akan menjadi keluarga yang utuh, Arga. Kita akan menjadi keluarga yang bahagia. Dan kita tidak akan membiarkan Nadia menghancurkan kita lagi.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu ada untuknya dan anak-anaknya.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita tidak akan membiarkan Nadia menghancurkan kita lagi. Kita tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan kita lagi.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kelegaan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya sejak Nadia mencoba mencelakai Larasati, Larasati merasa bahwa mereka akan baik-baik saja. Bahwa mereka akan menjadi keluarga yang bahagia. Bahwa mereka akan tidak akan membiarkan Nadia menghancurkan mereka lagi.
Mereka akan bertahan. Bersama-sama.