Nadia tidak menyerah setelah ditangkap. Ia tidak berhenti mencoba menghancurkan Arga dan Larasati. Ia menggunakan cara yang paling jahat, cara yang paling berbahaya, cara yang bisa menghancurkan segalanya: ia merencanakan penculikan Aisha.
Nadia bekerja sama dengan Bara dari dalam penjara, menggunakan koneksi Bara untuk menyewa orang-orang yang akan menculik Aisha ketika Larasati sedang lengah. Ia tidak peduli bahwa Aisha hanya bayi. Ia tidak peduli bahwa Aisha tidak bersalah. Ia hanya ingin menghancurkan Arga dan Larasati dengan cara yang paling kejam.
Suatu sore, ketika Larasati sedang berjalan dengan Aisha di taman mansion, dengan perawat yang sedang istirahat, dua orang pria dengan penutup wajah mendekatinya dengan langkah yang cepat.
Larasati tidak sempat berteriak. Ia tidak sempat berlari. Ia hanya merasakan ketakutan yang mendalam menghantam dadanya ketika salah satu pria itu menarik Aisha dari pelukannya dengan kasar.
'Aisha!' teriak Larasati, mencoba mengejar pria itu, tapi pria kedua menahannya dengan kuat.
'Jangan berteriak,' bisik pria kedua di telinganya. 'Atau kau akan menyesal.'
Larasati tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa bernapas. Ia hanya melihat pria pertama membawa Aisha menjauh, Aisha yang menangis, Aisha yang memanggil-manggil 'Mama', dan Larasati tidak bisa melakukan apa-apa.
Para pria itu membawa Aisha ke dalam van yang sudah menunggu di luar taman, dan mereka pergi dengan cepat, meninggalkan Larasati yang jatuh di tanah dengan ketakutan yang mendalam menghantam dadanya.
Larasati tidak ingat bagaimana ia menelepon Arga. Ia tidak ingat bagaimana ia menelepon polisi. Ia hanya ingat bahwa ia duduk di tanah taman, dengan tangan yang gemetar, dengan air mata yang mengalir di wajahnya, dengan Aisha yang hilang.
Arga datang dengan kecepatan yang tidak pernah Larasati lihat sebelumnya. Ia berlari ke arah Larasati yang masih di tanah, dengan wajah yang pucat, dengan tatapan yang penuh dengan ketakutan yang tidak bisa disembunyikan.
'Larasati, di mana Aisha? Di mana Aisha?' tanya Arga, suaranya serak.
'Mereka membawanya, Arga. Mereka membawanya.' Larasati tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa menatap Arga dengan tatapan yang hancur, dengan ketakutan yang mendalam.
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, Larasati melihat Arga benar-benar hancur. Arga benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Arga benar-benar tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan putri kecilnya.
Polisi datang dengan cepat, dan mereka mulai menyelidiki penculikan itu. Mereka mencari petunjuk, mencari saksi, mencari cara untuk menemukan Aisha.
Tapi Nadia tidak tinggal diam. Ia mengirim pesan kepada Arga dan Larasati: tebusan untuk Aisha. Tebusan yang tidak bisa mereka bayar dengan uang. Tebusan yang hanya bisa mereka bayar dengan perusahaan.
'Serahkan Mahesa Group kepada Bara, dan Aisha akan kembali dengan selamat,' pesan itu berbunyi. 'Kalau tidak, kau tidak akan pernah melihat Aisha lagi.'
Arga dan Larasati membaca pesan itu dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Nadia tidak hanya ingin menghancurkan mereka. Nadia ingin menghancurkan perusahaan juga. Nadia ingin menghancurkan segalanya.
Arga tidak berpikir dua kali. Ia tidak ragu. Ia hanya menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan keputusan yang tidak bisa diganggu gugat.
'Aku akan menyerahkan perusahaan untuk Aisha,' kata Arga, suaranya serak. 'Aku akan menyerahkan segalanya untuk Aisha.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang hancur. 'Arga, Anda tidak bisa menyerahkan perusahaan. Anda tidak bisa menyerahkan segalanya yang sudah Anda bangun untuk Nadia dan Bara.'
'Aku tidak peduli dengan perusahaan, Larasati. Aku hanya peduli dengan Aisha. Aku hanya peduli dengan kalian berdua.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam. 'Aku akan menyerahkan perusahaan untuk Aisha. Aku akan menyerahkan segalanya untuk Aisha.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga benar-benar mencintai Aisha dengan sepenuh hati. Arga benar-benar akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan putri kecilnya.
Tapi Larasati tidak bisa membiarkan Arga menyerahkan perusahaan. Ia tidak bisa membiarkan Nadia dan Bara menang. Ia tidak bisa membiarkan mereka menghancurkan segalanya.
'Kita akan menemukan cara lain, Arga,' kata Larasati pelan. 'Kita akan menemukan cara untuk menyelamatkan Aisha tanpa menyerahkan perusahaan. Kita akan menemukan cara untuk membuktikan bahwa Nadia dan Bara tidak bisa menghancurkan kita.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan membantunya menyelamatkan Aisha dan perusahaan.
'Kita akan menemukan cara, Arga. Kita akan menemukan cara untuk menyelamatkan Aisha dan perusahaan. Bersama-sama.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang teguh. 'Kita tidak akan membiarkan Nadia dan Bara menang. Kita tidak akan membiarkan mereka menghancurkan kita.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya cantik, tidak hanya baik, tapi juga kuat, juga teguh, juga orang yang akan membantunya menyelamatkan segalanya.
'Kita akan mencoba, Larasati. Kita akan mencoba bersama-sama.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam. 'Kita tidak akan membiarkan Nadia dan Bara menang.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya berdiri di sana, di taman mansion, dengan ketakutan yang mendalam, dengan keputusan yang tidak bisa diganggu gugat, dengan cinta yang tidak bisa disangkal.
Mereka akan menyelamatkan Aisha. Mereka akan menyelamatkan perusahaan. Mereka akan membuktikan bahwa Nadia dan Bara tidak bisa menghancurkan mereka.
Mereka akan bertahan. Bersama-sama.