Arga tidak ragu untuk membuktikan kebenaran. Ia tidak ragu untuk membuktikan bahwa Aisha adalah anaknya. Ia tidak ragu untuk membuktikan bahwa Nadia berbohong lagi.
Ia mengatur tes DNA resmi di laboratorium terpercaya, dengan saksi-saksi dari kedua belah pihak, dengan transparansi yang tidak bisa disangkal. Ia tidak bersembunyi. Ia tidak menghindar. Ia menghadapi kebenaran dengan teguh.
Nadia juga datang ke tes DNA itu, dengan wajah yang penuh dengan kemenangan palsu. Ia membawa bukti DNA palsunya, membawa kebohongannya, membawa kebenciannya.
'Aku akan membuktikan bahwa Aisha bukan anakmu, Arga,' kata Nadia dengan tatapan yang dingin. 'Aku akan membuktikan bahwa Larasati berselingkuh darimu. Aku akan membuktikan bahwa kau dibohongi oleh wanita jahat ini.'
Arga menatapnya dengan tatapan yang dingin juga. 'Kita akan melihat siapa yang berbohong, Nadia. Kita akan melihat siapa yang benar.'
Tes DNA itu berlangsung dengan ketegangan yang tidak bisa dijelaskan. Larasati duduk di samping Arga, dengan tangan Arga memegang tangannya dengan erat, dengan kepercayaan yang tidak bisa disangkal. Aisha ada di pelukan Larasati, tidak tahu apa yang sedang terjadi, tidak tahu bahwa masa depannya sedang dipertaruhkan.
Hasil tes DNA keluar setelah beberapa jam yang terasa seperti selamanya. Dokter laboratorium membacakan hasilnya dengan suara yang tenang, dengan ketegangan yang tidak bisa dijelaskan.
'Berdasarkan tes DNA yang dilakukan, dengan akurasi 99.99%, kami menyatakan bahwa Arga Mahesa adalah ayah biologis dari Aisha Mahesa.'
Keheningan yang mengikuti terasa seperti selamanya. Lalu Larasati merasakan air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia tidak tahu apakah itu air mata kebahagiaan atau air mata lega. Ia hanya tahu bahwa kebenaran sudah terbukti. Bahwa Aisha adalah anak Arga. Bahwa Nadia berbohong lagi.
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya memegang tangan Larasati dengan erat, dengan kebenaran yang nyata, dengan kelegaan yang tidak bisa disangkal.
Nadia berdiri di sana dengan wajah yang pucat, dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia tidak bisa membantah. Ia tidak bisa berbohong lagi.
'Bukti DNA yang Nadia berikan adalah palsu,' kata dokter laboratorium dengan suara yang tenang. 'Bukti itu dibuat dengan memanipulasi sampel DNA, dan itu adalah kejahatan hukum.'
Nadia tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, dengan wajah yang pucat, dengan tatapan yang kosong, dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar hancur. Ia benar-benar tidak bisa kembali dari ini. Ia benar-benar akan membayar untuk semua kebohongannya.
Arga tidak puas dengan itu. Ia tidak puas hanya dengan membuktikan bahwa Nadia berbohong. Ia melaporkan Nadia ke polisi untuk pemalsuan bukti DNA dan pencemaran nama baik. Nadia ditangkap lagi, dan kali ini, ia tidak akan dibebaskan dengan jaminan.
Malam itu, Arga dan Larasati pulang ke mansion dengan Aisha di pelukan Larasati, dengan kebenaran yang sudah terbukti, dengan kelegaan yang tidak bisa disangkal.
'Aku tahu Aisha adalah anakku, Larasati,' kata Arga pelan di dalam mobil. 'Aku tahu dari awal. Aku tidak pernah meragukanmu. Aku tidak pernah meragukan Aisha. Aku tidak pernah meragukan kita.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan cinta. 'Saya tahu, Arga. Saya tahu Anda tidak pernah meragukan saya. Saya tahu Anda tidak pernah meragukan Aisha. Saya tahu Anda tidak pernah meragukan kita.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga ibu dari anaknya, juga mitra hidupnya, juga orang yang akan selalu ia percaya.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita tidak akan membiarkan Nadia menghancurkan kita lagi. Kita tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan kita lagi.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebenaran yang sudah terbukti, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Larasati merasa bahwa mereka tidak hanya bertahan. Mereka menang. Mereka menang melawan Nadia, melawan kebohongan, melawan semua orang yang mencoba menghancurkan mereka.
Mereka menang karena mereka percaya satu sama lain. Dan itu sudah cukup.