===== BAB 80: Undangan Setelah Bebas =====
Hari kelima belas bulan berakhir dengan perkawinan dibubarkan, dan untuk satu minggu penuh tidak ada seorang pun memiliki kontrak sebagai alasan untuk kembali.
Hari kelima belas bulan berakhir dengan perkawinan dibubarkan, dan untuk satu minggu penuh tidak ada seorang pun memiliki kontrak sebagai alasan untuk kembali.
Pada hari kedelapan, Nadya bangun tanpa pesan dari Reza. Ia merasa lega aturan dipatuhi dan takut keheningan akan berlanjut. Ia pergi bekerja sebelum memutuskan apa arti kedua perasaan itu.
Reza menunggu sampai pukul sepuluh, waktu yang tak mengganggu perjalanan pagi Nadya. Ia mengirim satu pesan: apakah Nadya bersedia minum kopi Sabtu sore, di tempat pilihannya, tanpa pembicaraan kontrak kecuali diminta?
Pesan itu tidak menyebut rindu, bunga, atau pengorbanan. Ada kalimat bahwa tidak menjawab akan dianggap tidak dan tak ada pesan kedua.
Nadya membaca bersama dirinya sendiri, tidak langsung mengirim kepada Lina atau Ayu. Ia memeriksa jadwal, perasaan, serta apakah penolakan akan memengaruhi apa pun. Apartemen dan Titik Jaga tetap aman.
Tiga jam kemudian, ia menjawab ya. Ia memilih kedai buku dekat taman, pukul empat, masing-masing datang serta pulang sendiri. Reza membalas setuju dan tidak menambahkan hati.
Kabar pertemuan tidak diberikan kepada pers. Koperasi keamanan hanya tahu Nadya memiliki kegiatan pribadi di tempat umum. Reza memberi jadwal pada petugasnya tanpa nama teman.
Sabtu, Reza datang lebih awal tetapi menunggu di meja, tidak di pintu. Nadya tiba tepat waktu dan menyadari ia tak lagi memakai cincin. Reza juga tidak.
Mereka memesan sendiri. Keheningan pertama canggung. Reza bertanya tentang buku di tangan Nadya. Mereka membahas cerita perjalanan, bukan peristiwa kapal mereka sendiri.
Setelah setengah jam, Nadya bertanya apa arti undangan. Reza menjawab ia ingin mengenalnya tanpa kontrak, rumah, atau perkara sebagai struktur. Ia tidak meminta status hari itu.
Nadya mengatakan ia juga ingin mencoba, dengan kencan terpisah, terapi masing-masing, dan hak berhenti. Ia tidak ingin tinggal bersama dalam waktu dekat atau menjadikan hubungan bahan komunikasi publik.
Reza setuju, lalu bertanya apakah persetujuan itu untuk satu kencan atau rangkaian. Nadya mengatakan hanya hari ini. Pertemuan berikutnya harus diminta lagi, bukan diasumsikan.
Mereka berjalan di kedai buku. Reza membeli buku yang direkomendasikan Nadya dengan uangnya, Nadya membeli buku lain. Tak ada hadiah mahal yang mengubah keseimbangan.
Di taman, seorang anak menjatuhkan layang-layang dekat mereka. Reza membantu mengambil tanpa meminta foto. Nadya melihatnya dan menolak mengubah tindakan biasa menjadi bukti ia telah berubah sepenuhnya.
Pembicaraan tentang perkara muncul ketika suara sirene terdengar. Nadya merasa tubuhnya menegang dan mengatakan butuh jeda. Mereka duduk di tempat terbuka sampai napasnya stabil. Reza tidak menyentuh sebelum diminta.
Ia kemudian bertanya keadaan Reza. Reza mengaku sirene juga memicu lorong YX-217. Mereka berbagi rencana terapi tanpa mencoba menyembuhkan satu sama lain.
Pukul enam, Nadya mengatakan ingin pulang. Reza tidak memperpanjang dengan makan malam. Ia berjalan sampai gerbang taman dan berhenti.
Apakah boleh meminta kencan lain minggu depan? Nadya mengatakan kirim undangan Selasa dan ia akan memutuskan saat itu. Reza tersenyum menerima ketidakpastian.
Mereka berpisah menuju kendaraan berbeda. Nadya mengirim kabar tiba kepada Ayu sebagai kontak darurat, bukan Reza. Reza memberi kabar kepada petugasnya sendiri.
Malamnya, Nadya menulis tiga hal nyaman dan dua hal sulit. Reza melakukan latihan serupa dari terapis. Tak ada yang mengirim daftar sebagai laporan kinerja pasangan.
Sebelum menjawab, Nadya membaca kembali dokumen pembubaran dan memastikan tidak ada kewajiban tertunda. Ia juga bertanya kepada dirinya apakah ingin bertemu jika Reza tak memiliki nama, uang, atau perkara. Jawabannya belum sederhana tetapi cukup untuk satu kopi.
Reza menyusun pesan bersama terapis lalu mengubahnya agar terdengar seperti dirinya, bukan formulir. Terapis hanya memeriksa tekanan dan batas, tidak menulis kata-kata cinta.
Kedai buku memiliki meja dekat pintu. Nadya memilih kursi menghadap ruangan, Reza tidak mengomentari. Keamanan masing-masing tidak saling berbagi lokasi.
Mereka membahas aturan jika hubungan menjadi publik. Tidak ada pernyataan bersama tanpa persetujuan, tidak ada akses kantor, dan tak seorang pun menjadi juru bicara yang lain.
Reza bertanya apakah status mantan suami membuat Nadya tak nyaman. Ia menjawab status itu fakta sejarah, bukan identitas hubungan baru. Ia ingin namanya disebut Nadya, bukan istri kontrak yang kembali.
Nadya bertanya apakah Reza memakai nama Arya dalam kehidupan pribadi. Ia menjawab keduanya miliknya; Reza sehari-hari, Arya dalam dokumen serta ketika ingin mengakui sejarah. Nadya tidak memilihkan.
Saat sirene reda, mereka memutuskan tidak menutup kencan karena pemicu. Mereka menunggu sampai keduanya mampu memilih lagi. Pilihan melanjutkan dibuat setelah tubuh tenang.
Di gerbang, Reza tidak mencoba mencium. Ia menanyakan kencan berikut dan menerima jadwal permintaan. Nadya pulang dengan rasa ingin bertemu lagi yang tidak perlu segera diumumkan.
Hari berikutnya mereka kembali bekerja. Titik Jaga dan Ruang Pulih tidak menerima laporan romantis. Hubungan baru mendapat ruang di luar lembaga.
Nadya menyimpan pesan pertama dalam arsip pribadi, bukan dokumen hukum. Untuk pertama kalinya, kata-kata Reza tak perlu menjadi alat bukti atau klausul.
Reza pulang dengan buku baru dan satu rencana menunggu sampai Selasa. Menunggu tidak lagi berarti kehilangan kendali; ia menjadi bagian dari persetujuan.
Undangan setelah bebas diterima untuk satu hari, dan dari satu hari itu mereka memilih menciptakan kencan pertama yang kedua.