===== BAB 39: Serangan ke Toko Lina =====
Kontrak tetap sah, tetapi untuk pertama kalinya Nadya tinggal bukan karena kursi Reza, melainkan karena batas yang ia pilih sendiri.
Dua hari setelah Lina kembali bekerja, sensor asap toko berbunyi sebelum fajar. Sistem menghubungi pemadam, koperasi keamanan, dan Lina secara bersamaan. Tak seorang pun harus menunggu izin perusahaan.
Kamera menunjukkan seseorang menyelipkan botol pembakar melalui ventilasi belakang. Pintu api menutup otomatis dan kabut pemadam memenuhi ruang gudang. Api mati sebelum mencapai kain serta mesin jahit Seno.
Lina ingin datang, tetapi petugas menjelaskan bahaya sisa bahan bakar. Ia memilih menunggu di titik aman bersama para penjahit. Keputusan lokasi dibuat olehnya setelah informasi, bukan perintah tanpa penjelasan.
Nadya tiba di perimeter dan tidak menerobos. Ia melihat asap melalui jendela, mengingat laporan kematian ayahnya, lalu mengikuti konselor darurat. Reza menunggu sampai Nadya meminta kehadirannya.
Pemadam menemukan botol kedua di bawah mesin jahit. Sumbunya belum menyala karena sprinkler merendamnya. Di dalam botol ada keping logam dengan pesan agar kotak benang diserahkan kepada Kapten Kedua.
Target serangan bukan seluruh toko. Jejak kaki bergerak lurus menuju gudang dan mesin. Pelaku mengetahui tata letak lama, termasuk ventilasi yang tidak terlihat dari jalan.
Kamera tetangga merekam mobil vendor keamanan lama. Pelatnya palsu, tetapi satu lampu belakang retak dengan pola khas. Polisi menemukan mobil terbengkalai dan sidik jari petugas Cakrawala yang pernah memotret rumah aman Vera.
Petugas bernama Raka ditangkap di terminal. Pengacaranya hadir saat ia mengaku menerima instruksi terenkripsi dari Bagas. Ia dibayar untuk membakar toko setelah mengambil kotak benang, tetapi kotak sudah dipindahkan.
Raka juga menerima perintah cadangan dari Dimas untuk menghancurkan mesin jika tak menemukan gulungan. Dua jaringan kembali bertemu pada target yang sama. Bukti ponsel memisahkan waktu serta pengirim masing-masing.
Lina memberikan persetujuan agar kotak benang dari gudang bukti dibuka. Di hadapan dua kustodian, mereka mengeluarkan gulungan, jarum, pola lama, dan potongan kain biru yang pinggirnya dijahit tangan Seno.
Sinar-X menunjukkan satu gulungan memiliki inti logam. Ahli membuka jahitan terluar dan menemukan tabung mikrofilm. Bentuk kosong di rangka mesin cocok dengan tabung tersebut; Lina rupanya memindahkannya tanpa sadar saat merapikan alat setelah kematian Seno.
Ia ingat Seno meminta jangan membuang benang hitam meski tampak rusak. Selama tujuh belas tahun, Lina memakainya untuk menambal pakaian keluarga sampai hanya tersisa lapisan luar. Data selamat bukan karena rencana sempurna, tetapi kebiasaan menghargai benda kecil.
Mikrofilm belum dibuka di toko. Salma dan Joko membawanya ke laboratorium dengan pengawalan. Lina menandatangani rantai kustodi dan meminta mesin dikembalikan setelah pemeriksaan; benda itu bagian hidupnya, bukan properti permanen perkara.
Kerusakan toko dinilai oleh asuransi independen. Nusantara menawarkan membayar perbaikan, tetapi Lina memilih dana korban yang dikelola panel agar tidak berutang kepada Reza. Pembayaran tidak mensyaratkan logo perusahaan di pintu baru.
Para penjahit memutuskan bekerja sementara di balai warga. Mereka menerima upah penuh. Salah satu dari mereka marah karena namanya tak pernah disebut dalam berita padahal ia juga target. Panel menambahkan seluruh pekerja toko dalam penilaian dampak.
Reza membantu mengangkat meja setelah lokasi aman, dengan izin Lina. Ia tidak membawa kamera atau petugas hubungan masyarakat. Ketika seorang tetangga mengenalinya, ia mengatakan perbaikan dipimpin para pekerja dan kembali mengangkat kardus.
Nadya memeriksa sistem pemadam bersama ahli. Prosedur yang sebelumnya dianggap berlebihan telah menyelamatkan bangunan. Ia mencatat keberhasilan serta satu katup yang terlambat dua detik agar laporan tidak berubah menjadi pujian kosong.
Raka mengirim lokasi relay Bagas sebagai bagian profer, tetapi koordinatnya bergerak di laut. Polisi menunda pengejaran sampai yurisdiksi jelas. Serangan toko masuk dakwaan terpisah dari sabotase YX.
Menjelang malam, Lina duduk di depan mesin yang menghitam ringan. Ia menolak menyebutnya peninggalan suci. Besok mesin akan dibersihkan dan dipakai lagi, setelah ahli memastikan tak ada bukti lain di dalamnya.
Pemadam mengadakan evaluasi bersama pekerja toko. Jalur belakang sempat terhalang kotak kain. Lina memindahkan penyimpanan dan menolak menyalahkan penjahit yang terakhir memakai lorong tanpa aturan jelas.
Rekaman sumbu menunjukkan bahan dibeli dari toko umum. Bukti pembayaran Raka dan pesan lebih kuat daripada jenis bahan. Polisi tidak menuduh penjual yang melayani transaksi biasa.
Tetangga yang kameranya membantu diberi pilihan menjaga anonimitas. Ia takut Cakrawala membalas. Program saksi memasang keamanan tanpa memaksa pindah atau tampil pada konferensi.
Pekerja toko memilih membuka kembali setelah tiga hari di lokasi sementara. Lina tidak memutuskan sendirian. Mereka memeriksa udara, pintu, serta jadwal keamanan sebelum memberi suara.
Nadya ingin membayar semua kehilangan pribadi. Pengacara mengingatkan perusahaan dan pelaku memiliki kewajiban. Dana darurat membantu lebih dahulu, lalu menagih melalui jalur hukum agar rasa bersalah Nadya tidak menentukan kompensasi.
Mesin dibersihkan oleh teknisi yang dibayar. Ketika mesin kembali menyala, Lina menguji jahitan pada kain biasa. Barang bukti telah diperiksa, dan benda itu kembali menjadi alat kerja.
Laporan kebakaran dibagikan kepada toko sekitar agar ventilasi serupa diperbaiki. Alamat korban serta letak bukti disunting, sehingga pencegahan tidak membuka target baru.
Polisi juga menyerahkan nomor laporan kepada Lina tanpa meminta imbalan informasi.
Serangan ke toko gagal mengambil mesin Seno, dan justru menunjukkan pola tersembunyi di dalam jahitannya.