===== BAB 21: Seratus Delapan Puluh Enam Nama =====
Di balik dua segel yang terbuka, tercantum seratus delapan puluh enam nama yang nyaris menjadi korban berikutnya.
Nadya meminta daftar itu tidak dibagikan sebagai lampiran statistik. Panel menghubungi setiap orang melalui petugas yang telah dilatih, menjelaskan apa yang diketahui, apa yang belum pasti, dan bantuan apa yang tersedia tanpa syarat kerahasiaan.
Penumpang pertama yang menjawab adalah guru bernama Mira. Sejak YX-408 berhenti mendadak, ia tak dapat memasuki terminal tanpa sesak napas. Formulir awal hanya mencatat tidak cedera. Nadya menambahkan kategori dampak psikologis dan biaya perjalanan pengganti.
Awak kabin mengalami persoalan berbeda. Mereka diperiksa perusahaan seolah kegagalan prosedur berasal dari mereka, padahal alarm telah dipalsukan. Panel mencabut surat teguran sementara dan menyediakan penasihat yang tidak melapor kepada manajemen Nusantara.
Seorang teknisi bernama Harun memang terlambat memeriksa satu indikator. Ia takut audit baru menghapus kesalahannya demi menampilkan cerita sederhana. Nadya memastikan keterlambatan tetap dicatat, bersama fakta bahwa indikator menerima data palsu. Keselamatan membutuhkan catatan yang utuh, bukan pahlawan tanpa cela.
Ayu mengubah daftar menjadi peta waktu. Seratus delapan puluh enam orang bergerak melalui gerbang, ruang tunggu, kabin, dan jalur evakuasi. Dua belas anak terpisah singkat dari pendamping, tiga penumpang kehilangan obat, dan seorang ibu menjalani persalinan dini dua hari kemudian.
Hubungan persalinan dengan kejadian belum dapat dipastikan. Dokter menulis kemungkinan stres sebagai faktor, bukan kesimpulan. Dana bantuan tetap membayar perawatan tanpa menunggu pembuktian sebab hukum, sementara gugatan medis dinilai terpisah.
Dimas menyebut program itu pemborosan yang dirancang menaikkan tuntutan. Panel mempublikasikan anggaran dan sumber dananya dari dividen keluarga yang dibekukan. Tidak satu rupiah diambil dari gaji awak atau pemeliharaan armada.
Reza meminta menerima salinan daftar. Salma menolak memberinya data pribadi dan hanya memberikan laporan agregat. Mantan pusat kekuasaan itu harus belajar bahwa niat membantu tidak otomatis memberi hak melihat kehidupan korban.
Nadya mengunjungi pertemuan penumpang sebagai ahli, bukan istri CEO. Ia duduk di kursi belakang dan menjawab pertanyaan teknis. Ketika seseorang bertanya apakah armada kini aman, ia mengatakan inspeksi menurunkan risiko tetapi tak ada sistem yang dapat dijanjikan tanpa risiko.
Jawaban itu mengecewakan sebagian orang. Seorang pedagang mengatakan ia membutuhkan kepastian untuk kembali bekerja. Nadya menawarkan informasi rute, hasil inspeksi, dan pilihan transportasi lain. Ia tidak menjual keberanian sebagai obat bagi ketakutan yang dibuat perusahaan.
Mira menunjukkan pesan palsu yang menyebut para penumpang dibayar untuk memperbesar perkara. Ayu menelusuri jaringan akun ke vendor komunikasi yang pernah dipakai Vera. Vera mengakui kontraknya dan setuju dana sitaan membiayai koreksi publik.
Koreksi tidak menghapus tangkapan layar yang telanjur tersebar. Panel membentuk layanan penghapusan data dan bantuan hukum. Setiap korban boleh memilih namanya dihapus dari daftar publik, dipakai sebagai inisial, atau disebut utuh.
Lina membantu menjahit seratus delapan puluh enam pita kain kecil tanpa nama. Bukan monumen, katanya, hanya cara menghitung manusia tanpa mengubah mereka menjadi nomor. Nadya membawa pita itu ke ruang kerja, tetapi menolak memotretnya untuk kampanye.
Audit dampak menemukan satu nama ganda dan dua awak kontrak yang terlewat. Jumlah resmi berubah menjadi seratus delapan puluh tujuh orang, sedangkan daftar penumpang tetap seratus delapan puluh enam. Panel menerbitkan koreksi terbuka alih-alih mempertahankan angka yang sudah terkenal.
Koreksi kecil tersebut menjadi ujian. Media menganggapnya bukti audit kacau. Nadya menjelaskan daftar hidup memang harus dapat diperbaiki. Sistem lama gagal justru karena angka yang nyaman dipertahankan setelah kenyataan berubah.
Pada akhir minggu, tiga puluh tujuh orang menerima konseling, dua puluh satu mengajukan penggantian pendapatan, dan enam menolak semua kontak. Penolakan mereka dihormati; panel menyimpan satu jalur aman bila mereka kelak berubah pikiran.
Harun membawa salinan log indikator. Di dalam kode diagnostik terdapat komentar dengan nama Seno, ditulis menggunakan gaya pemrograman yang sudah tak dipakai selama satu dekade. Bagas tampaknya menanam bukan hanya kredensial Nadya, tetapi juga sidik digital orang mati.
Ayu meminta arsip kode lama Seno dibekukan sebelum tim internal menyentuhnya. Hanya seseorang dengan akses ke pemulihan YX-217 yang dapat menyalin pola tersebut. Sekali lagi, jalan penyelidikan berbelok menuju Bagas.
Nadya menggantung satu pita kain di dekat papan garis waktu. Seratus delapan puluh enam nama telah mengembalikan skala akibat; satu komentar kode akan menunjukkan bagaimana nama ayahnya dipakai untuk menciptakannya.
Panel juga memeriksa orang yang tidak masuk daftar resmi. Petugas bagasi, sopir pengganti, dan keluarga yang menunggu di terminal mengalami kerugian berbeda. Mereka diberi kanal pengaduan tanpa otomatis dimasukkan sebagai korban langsung.
Mira mengusulkan pertemuan tindak lanjut dipimpin penumpang, bukan Nusantara. Panel menyediakan ruang dan penerjemah, lalu meninggalkan agenda pada mereka. Beberapa ingin membahas gugatan, yang lain hanya membutuhkan penjelasan teknis.
Nadya melihat pita-pita kain dan menyadari daftar akan terus berubah. Ia menulis versi, tanggal, serta alasan koreksi pada tiap terbitan. Tak ada daftar final yang dapat menutup hak orang yang baru berani bicara kemudian.
Setiap nama tetap mendapat nomor kontak yang tak berakhir setelah berita reda. Pemulihan dijadwalkan untuk tahun, bukan hanya minggu krisis.
Sidik kode Seno bukan tanda tangan pelaku, melainkan jejak seseorang yang mencuri masa lalu.