===== BAB 17: Kesaksian Pak Idris =====
Segel pertama terbuka, dan kesaksian Pak Idris menjadi pintu menuju segel berikutnya.
Pak Idris meminta hadir langsung meski perlindungan saksi menawarkan video. Ia tidak ingin tujuh belas tahun kebisuannya tampak lebih berani hanya karena wajahnya disembunyikan. Polisi membawanya melalui jalur aman dan keluarga korban diberi kesempatan mengajukan pertanyaan lewat fasilitator.
Ia mulai dari pagi setelah YX-217. Sembilan kotak bukti tiba di arsip Nusantara dengan nomor resmi. Kotak kesepuluh datang tanpa formulir, dibawa Bagas bersama dua petugas pemulihan. Isinya gelang A.D., buku obat klinik, kaset, daftar pembayaran, serta benda yang dibungkus kain biru.
Bagas menyuruh Idris menyalakan tungku dokumen. Idris membakar salinan tak penting untuk menciptakan abu, tetapi menyembunyikan sebagian barang di Hangar Tujuh. Keputusannya menyelamatkan bukti sekaligus merusak rantai kustodi. Ia mengubah label, tidak melapor, dan kemudian berbohong kepada penyidik resmi.
Pengacara Dimas menekan bagian itu. Jika Idris pernah berbohong, mengapa keterangannya kini dipercaya? Idris menjawab bahwa ucapan saja tidak cukup. Ia menyerahkan buku saku, kunci, foto Polaroid, serta bekas sidik jari pada kotak untuk diuji.
Buku saku mencatat setiap pemindahan dengan singkatan. K.D. berarti Kapten Dua, panggilan yang dipakai petugas untuk Bagas karena ia mengambil alih komando pemulihan dari kepala operasi resmi. Sebutan itu kemudian berubah menjadi Kapten Kedua di jaringan pesan.
Idris mengaku menerima tunjangan pensiun tambahan dari yayasan keluarga. Rani mengetahui pembayaran tersebut, meski katanya tidak tahu alasan penuh. Idris takut kehilangan rumah dinas dan keselamatan anaknya. Ketakutan menjelaskan diamnya, tetapi menurutnya tidak membenarkan penelantaran keluarga korban.
Seorang putra korban bertanya mengapa Idris tak mengirim satu surat anonim. Idris tidak mencari alasan. Ia berkata pernah menulis tiga surat dan membakarnya sendiri. Jawaban itu membuat putra tersebut meninggalkan ruangan. Fasilitator menghentikan sidang sampai keluarga siap melanjutkan tanpa dipaksa menerima permintaan maaf.
Ketika pemeriksaan dibuka kembali, Idris menjelaskan Bagas mengambil kotak dari hangar dua tahun kemudian. Satu benda tertinggal karena jatuh di belakang rak: label laundry A-19. Idris menyimpannya dalam sampul buku perawatan, lalu memberikan petunjuk kepada Nadya saat YX-408 disabotase.
Ayu mencocokkan buku saku dengan log pintu. Beberapa waktu berbeda tujuh menit karena jam arsip terlambat, hal yang tercatat dalam laporan servis. Setelah koreksi konsisten diterapkan, kedatangan Bagas cocok dengan kamera gerbang yang baru dipulihkan.
Foto Polaroid menunjukkan kotak terbuka dan tangan bersarung. Pembesaran memperlihatkan cincin akademi pelayaran dengan retakan diagonal. Foto lama Bagas pada upacara perusahaan menunjukkan cincin serupa. Bukti itu bersifat pendukung, bukan identifikasi tunggal.
Arman bertanya tentang benda berkain biru. Idris melihat bentuk kotak musik kecil dan mendengar bunyi logam saat Bagas mengangkatnya. Bagas mengatakan benda tersebut milik Rani dan tak boleh masuk daftar. Rani menunduk, tetapi tidak diminta menjawab sebelum gilirannya diperiksa.
Sebelum Dimas datang, Idris mencatat nomor kendaraan dan jumlah orang di gerbang. Buku keamanan resmi kehilangan halaman itu, tetapi tekanan tulisan menembus lembar berikutnya. Fotografi miring memulihkan sebagian angka yang sesuai dengan mobil dinas Dimas.
Idris juga melihat Dimas datang menjelang tengah malam. Ia tidak mendengar seluruh percakapan, hanya kalimat bahwa anak Surya tidak boleh tercatat sebagai penyintas. Dimas kemudian menandatangani lembar lembur tim pemulihan. Tanda tangan asli masih berada dalam arsip pajak gaji.
Pembela menunjukkan Idris baru menyebut kalimat itu setelah bertemu Nadya. Idris mengakui urutan tersebut dan kemungkinan ingatannya dipengaruhi berita. Karena itu jaksa tidak menjadikan kalimat sebagai dasar utama. Lembar lembur, log gerbang, serta benda fisik tetap dinilai sendiri.
Tim pembela meminta rekonstruksi Hangar Tujuh. Idris berjalan mengikuti jalurnya sendiri sementara kamera mencatat jarak dan sudut pandang. Ia keliru menunjuk satu pintu, kemudian denah lama membuktikan pintu itu baru dipasang sepuluh tahun kemudian. Koreksi tersebut dipertahankan dalam rekaman dan bagian lain diuji ulang.
Nadya menghormati pemisahan itu. Kasus tidak boleh bergantung pada saksi tua yang dipaksa menjadi sempurna. Justru pengakuan mengenai kebohongan dan ketidakpastian membuat batas kesaksiannya dapat dilihat.
Menjelang akhir, Idris menyerahkan satu amplop yang belum pernah ia buka. Bagas menitipkannya pada malam pemindahan terakhir dengan perintah dibakar jika Vera mulai bertanya tentang YX-217. Idris menyimpannya karena nama Vera terasa seperti jaminan bahwa seseorang dalam keluarga masih dapat memecah diam.
Hakim membuka amplop di hadapan pihak-pihak. Isinya kartu akses lama milik Vera, foto Ilham menerima paket, dan secarik pesan: gunakan analis perempuan itu bila kita perlu kecelakaan kedua.
Vera yang menyaksikan dari ruang terpisah meminta profernya dimajukan. Ia bersedia menjelaskan kartu, Ilham, dan ancaman Bagas, tetapi jaksa menegaskan permintaan itu bukan tiket kebebasan.
Pak Idris turun dari kursi saksi tanpa tepuk tangan. Di lorong, ia bertemu putra korban yang tadi keluar. Mereka tidak berpelukan. Idris hanya memberikan alamat program restitusi dan menerima ketika lelaki itu berkata belum dapat memaafkannya.
Sebelum meninggalkan gedung, Idris menjalani pemeriksaan kesehatan dan menandatangani jadwal kesaksian lanjutan. Ia tidak ditempatkan bersama keluarga Dirgantara. Perlindungannya dikelola negara agar rasa berutang kepada Reza atau Rani tidak memengaruhi jawaban berikutnya.
Orang itu adalah Vera.
Kesaksian Pak Idris mengungkap kotak kesepuluh, tetapi suara berikutnya harus datang dari orang yang kartunya membuka sabotase baru.