Setelah morning briefing dengan Raditya selesai, aku menutup tablet dan menyimpan catatan, lalu kembali menuju ruang kerja. Beberapa rekanku mulai menelepon nasabah, sementara yang lain menyiapkan dokumen untuk dikirim ke analis.
Di tengah kesibukan itu, ruangan kami tiba-tiba diketuk. Seorang OB masuk membawa satu buket mawar putih besar, lalu berjalan lurus ke arah kubikelku. Semua perhatian otomatis tertuju pada OB itu—juga padaku.
“Ada kiriman buat Mbak Arumi.” Dia meletakkan buket itu tepat di atas tumpukan dokumen di mejaku. “Di dalamnya ada kartu ucapan. Katanya harus dibaca, Mbak.”
“Oh? Em, iya, makasih, Mas.”
“Sama-sama.” Setelah mengangguk kecil, OB itu pun beranjak pergi, meninggalkan ruangan kami yang tadinya hening lalu mendadak heboh. Beberapa rekan kerjaku bangkit dan me