“Ma, Pa, setelah kami pikir-pikir ...”
Mama dan Papa kompak mendongak, menatapku dengan kening berkerut. Sendok dan garpu langsung mereka letakkan di piring, menunggu kalimat selanjutnya keluar dari bibirku.
“Kakak sama Mas Kavi ... tinggal di apartemen aja.” Aku menoleh sekilas ke arah Kavindra. Dia mengangguk, seolah memberi semangat. “Selain karena ingin hidup mandiri, kami juga statusnya pengantin baru. Tentunya butuh privasi lebih.”
Tiba-tiba Papa tersedak, dan Mama dengan cepat mengambilkan air putih untuknya. Setelah itu Mama mengusap-usap punggung Papa, berharap bisa membantu meredakan sekaligus menenangkannya.
“Apartemen Mas Kavi juga nggak jauh dari sini. Kami usahakan tiap akhir pekan pulang untuk menginap. Atau kalau Mama sama Papa masih berat, di awal-awal ini kami bisa me